Hingga Aku tak terlihat

di matamu,
tidak kutemukan harapan
hanya lawan bicara yang sepadan
yang mencari-cari keterkaitan

di matamu,
kubendung sinar yang menjadikanku teduh
bersama teh yang pagi-pagi kuseduh
saat hatimu masih memilih beku

kau tak harus mengenalku,
yang kini menatap mata yang lain
walau tetap di matamu,
aku ingin tinggal selamanya

membersamaimu melihat dunia
di suatu masa aku tak lagi terlihat

Osaka, 13 Agustus 2019

Aku dan tabahku yang hilang suara

tak ada kata yang benar-benar bisa mewakili kita,
oleh makna yang bisa lebih terburu-buru tiba,
diperantarai senyuman,
sebelum kata mendarat di pintu telinga,
mengetuk hati yang samar tertutup rapat

tanpa sengaja,
membiarkanmu menjadi pilihan
adalah menuntunku
ke luka yang kecewa
–lagi menganga

walau hanya sepintas fatamorgana,
kau jelas mampu membekali nelangsa,
di perjalananku yang hilang arah
dan tabahku yang hilang suara

Osaka, 13 Agustus 2019

Di tepi telaga

Tak ada yang berhak menghakimimu
pun tak ada yang berkewajiban memahamimu
kau hidup untuk keutuhan, namun tak harus selalu utuh

tak harus selalu bersembunyi
kuyakin kau lebih paham makna sunyi
semoga tak pernah kau sadari
aku tak pandai menahan hati bersimfoni

walau kita mampu melangkah sendiri sendiri
sisakan aku satu tempat di belakangmu
akan akan sisakan ribuan destinasi untukmu
agar kau mengerti,
mengapa kita bergenap

Osaka, 13 Agustus 2019

Kita tak perlu sama

Apa yang berbahaya dari lembaran-lembaran itu?

Apa yang berbahaya dari tahta elit-elit itu?

Apa yang berbahaya dari pemikiran-pemikiran bebas itu?

Sesungguhnya tidak ada, hanya ketakutanmu akan ketiadaan makna dirimu

Inferioritas dan kesempitan caramu melihat dunia yang lebih berbahaya

Bukan aku merasa benar, kawan!

Kau dan perasaanmu yang merasa lebih benar justru jauh lebih berbahaya

Padamkan, dunia mampu menjadi indah denganku dan denganmu, yang tak perlu selalu sama.

Leana Zhivara (1)

Rasanya ingin mendengar sekali lagi. Alasan yang tak ingin kudengarkan. Sore itu, ketika menarik nafas di antara hati yang sudah tidak menemui bentuk. Remuk.

Sore itu, setelah menunggu pesan singkatmu sejak malam sabtu. Tak ada yang amunisi asumsi yang mampu kukeluarkan. Seperti menemui jalan buntu. Segala gerakanmu dalam sekian waktu berbalik akut dan tidak bisa dipungkiri sangat menggangguku.

“Sebentar, beri waktu. Akan kujelaskan semua padamu”, pesan terakhir yang tertulis. Membuat hati berdesir di atas tumpukan tanya. Mengapa!

Seperti biasa, aku merasa sudah biasa dengan ketiba-tibaan. Dan bagiku, sebagian hidup ini adalah untuk menerima ketiba-ketibaan. Sambil menganggap semua hal itu tidak akan mengagetkanku. Justru hendaknya membawaku pada keharusan untuk mencari hikmah.

Bahkan sering kuceritakan. Laki-laki baik ini tidak semestinya membuatku menunggu jawaban terlalu lama. Tidak semestinya menghukumku dalam pusaran ketidaktahuan. Menjebakku dalam kebingungan yang menjadi rencananya.

Dia pasti mengerti, dia semesta yang dikirimkan semesta untuk mengatakan:

“Hey! Aku tahu bagaimana kau merasakan dan memikirkan. Sini, biar kutemani dalam ketidaktahuan tentang dirimu sendiri”.

Tentu tidak. Andai dia memahami, bahwa memahamiku adalah harta karun yang selama ini kucari. Pun dia tak kan menghilang seperti ini. Walau dengan kalimat penutup yang sangat terdengar bertanggung jawab.

“Ting-ting”, sebuah pesan Whatsapp masuk. Itu dari dia.

Pandanganku buram, pesannya panjang, terlalu panjang. Aku tak mampu membacanya malam itu. Kumatikan handphone. Mulai menatap langit-langit kamar yang mencoba menenangkanku bahwa ini akan baik-baik saja.

Sepertinya pesan itu bernada perpisahan, dan tidak mampu kubaca. Takut. Bukan. Namun, kenyataan haruslah setimpal dengan makna yang harus kudapatkan. Jika kubaca sekarang pesan ini, mungkin dan pasti jantungku sobek seketika.

“Aku harus tenang dulu”, gumamku meyakinkan hati.

(bersambung)

Breaking bad news: sebuah pelajaran

Breaking bad news adalah salah satu skill yang sedang saya coba latih dan pelajari. Beruntungnya seorang senior sangat bijak memberi saya ruang untuk belajar hal tersebut. Beberapa hari yang lalu saat saya terbangun di suatu subuh, seorang teman sejawat sedang terburu-buru membuka bungkusan handscoen. Sebagai simbol kepekaan, saya mendekat dan bertanya untuk apa gerangan. Rupanya pasien yang sedang ia pantau tanda vitalnya sedang mengalami penurunan tekanan darah bahkan nadinya mulai melemah.

Dengan sigap saya juga segera mengambil Alat Pelindung Diri (APD) kemudian bahu membahu bersama teman saya sesama dokter muda dan perawat yang bertugas. Saat tiba giliran, saya berusaha untuk memperbaiki posisi, memberikan tekanan dan kecepatan secara maksimal sesuai dengan panduan Push Hard, Push Fast dimana dalam 1 menit saya harus menghasilkan 100 kali pompa di jantung pasien tersebut.

Dalam sekejap saya yang tadi berjalan sempoyongan baru terbangun (saat itu pukul 04.00 dini hari) langsung menjadi awas dengan kesadaran penuh. Pikiran saya seakan menembus dinding dada bapak tersebut, saya memvisualisasikan jantungnya yang berhenti berdetak. Tangan saya perlahan meraba dan memastikan titik yang harus saya tekan dengan tangan kiri di atas tangan kanan. Bismillahirrahmanirrahim, saya memulai resusitasi jantung pagi itu dengan tekanan yang sangat mantap dan mata yang tajam lurus menatap monitor. Perasaan penuh cemas, semoga usaha ini mampu memberi harapan untuk keluarganya yang sudah menangis meraung sedari tadi.

Pikiran dan perasaan saya berdesir. Segala macam cara telah dilakukan. Hingga tiba waktunya untuk memberi kabar terakhir pada keluarga pasien bahwa,

‘Maaf bu. Kami telah melakukan yang terbaik’

Sebuah kalimat pendek dan sederhana, namun sulit untuk mengungkapkan. Suatu masa dimana kita berusaha menahan air mata, ketika orang-orang disekeliling telah banjir air mata. Suatu masa dimana lisan kita telah diakui secara hukum untuk secara sah menyampaikan kepada keluarga pasien bahwa orang yang mereka cintai telah kembali ke pelukan sang Maha Mencintai.

Tentu tidak akan pernah mudah.

Dan sampai detik ini saya masih terus berusaha belajar untuk bisa memampukan jiwa dan raga dalam menyampaikan kabar tersulit yang siapapun tidak ingin mendengarnya.

#Day7

Kau dan waktu

Kau dimiliki waktu
Saat diantara kita ada sekat yang semu
Mungkin hari ini akan jauh lebih biru, tanpamu

Boleh kutuangkan rasa cemburu
Pada waktu,
Yang senantiasa menyembunyikanmu
Pada waktu,
Yang belum mengizinkanmu pulang sore itu

Kelak perjumpaan kita tidaklah sama
Aku dan cerita nelangsaku
Telah kuhamparkan di atas semesta
Yang tidak terburu-buru berucap rindu

Walau akhirnya
Waktu akan menghadiahkan kita
dirinya sendiri
dan tak lain,

dirimu, hanya dirimu saja

Makassar, 16 Desember 2018

#Day6