Venesia, Warisan Nyata Sejarah dan Budaya Eropa (Harian FAJAR)

Dimuat di Harian FAJAR 8 Juni 2013

Oleh : Iin Tammasse

Venesia, Italia

(Foto: iin fadhilah)

Stasiun kereta api St. Lucia Venesia menjadi persinggahan terakhir setelah menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 10 jam dari kota Zurich setelah sebelumnya transit di Milan. Tepat 16 April lalu,  di salah satu kota yang terletak di bagian utara Italia ini, penulis dan rombongan melakukan  Study tour selama empat hari. Didampingi oleh Guru bidang studi Sejarah, perjalanan kami di kota asal Marco Polo ini pun dimulai.

Sesaat setelah tiba di penginapan, kami pun bergegas kembali berkumpul untuk berkeliling kota menyusuri Kanal Grande yang membelah kota Venesia. Kanal Grande inilah yang menjadi jalanan utama dan pusat transportasi air. Tidak adanya kendaraan motor atau mobil menjadi salah satu daya tarik Venesia. Segala jenis  transportasi dipusatkan di atas kanal-kanal seperti perahu, gondola serta bus air. Selama masa study tour, kami difasilitasi kartu Passday untuk  menggunakan Bus air (vaporetto). Bus air ini berbentuk seperti kapal ferry dan sangat disipilin waktu, berhubung di atas kanal tidak terjadi kemacetan seperti di jalan raya.

Suasana kota semakin terlihat berbeda dengan bangunan-bangunan khas Eropa, mulai dari bangunan gaya bizantium, gotik, renaissans hingga baroque berjejer rapi di sekitar kanal. Panorama kota terapung ini juga diperindah dengan Jembatan Rialto dan Accademia yang menghubungkan kedua sisi kanal. Terdapat kurang lebih sekitar 400 jembatan-jembatan kecil di kota bersejarah ini.

Oleh pembimbing Sejarah, kami yang telah dibagi ke dalam beberapa kelompok diinstruksi untuk melakukan observasi pada objek sejarah tertentu. Kelompok penulis ditugaskan untuk mengobservasi Katedral St. Maria yang berada di Pulau Torcello (sekitar satu jam dari Venesia). Untuk sampai di Pulau Torcello kami harus beberapa kali berganti bus air di Pulau Murano. Di pulau kecil yang dijuluki sebagai `pulau kaca ini kami bisa melihat proses pembuatan kaca hias oleh ahlinya secara langsung.

Setibanya kami di lokasi Katedral St. Maria, kami pun tidak sabar untuk segera masuk ke dalam. Sebelumnya kami harus membayar tiket masuk sekitar 6 €. Karena guide utama berbahasa Italia maka kami harus menyewa alat penerjemah berbahasa Jerman seharga 2 €. Katedral yang berasitektur Venetian-Byzantium ini tidak hanya terlihat menakjubkan dari luar. Bagian interior pun terlihat mengagumkan dengan seni kerajinan mozaik yang membentuk lukisan pada beberapa dinding gereja.

Cuaca yang bagus tentu menjadi pendukung utama lancarnya kegiatan ini. Dengan berbekal peta kecil, kami menelusuri jalanan-jalanan kecil Venesia yang berliku-liku seperti labirin. Jalanan tersebut memang diperuntukkan untuk pejalan kaki mengingat tidak adanya kendaraan yang lalu lalang. Sesekali penulis dan teman-teman menikmati Gelato  atau es krim khas italia yang terkenal sangat enak dengan harga terjangkau.

Objek sejarah lain yang kami kunjungi terletak di kawasan Piazza San Marco. Piazza San Marco ini adalah sudut yang sangat penting karena merupakan alun-alun utama Venesia. Luas dan dipenuhi burung-burung merpati yang jinak serta dikelilingi bangunan berarsitektur romawi yang kental. Sehingga tidak heran jika keindahan dan keunikan Venesia mampu menarik sekitar 20 juta turis mancanegara setiap tahunnya.

Observasi kedua kami lakukan di salah satu maskot Venesia yaitu Gereja Basilica San Marco. Gereja berasitektur Bizantium ini dijuluki sebagai Chiesa d’Oro atau gereja emas karena kubahnya yang didominasi lapisan emas, sebagai simbol status kekayaan dan kekuasaan Venesia pada abad ke-11.

Tepat di sebelah kanan Basilica San Marco terdapat Palazzo Ducale atau istana dari penguasa tertinggi Venesia zaman dahulu. Istana yang dijadikan pusat pemerintahan ini dibangun sekitar tahun 1340. Namun sejak tahun 1923 Palazzo Ducale dibuka sebagai museum untuk umum. Terdapat dua pintu masuk yaitu Porta della Carta sebagai pintu masuk utama sebelah barat dan Porta del Fruminto sebelah selatan yang kini menjadi pintu masuk bagi pengunjung museum. Bangunan Palazzo Ducale terdiri dari beberapa tingkatan. Pada tingkatan Basement terdapat penjara untuk para tahanan, penjara ini juga dihubungkan oleh Bridge of Sighs dengan ruang interogasi Palazzo Ducale. Jembatan ini dinamakan Bridge of Sighs karena disinilah tahanan melihat dunia luar untuk terakhir kalinya sebelum memasuki ruang tahanan yang gelap.

Ruangan yang menarik lainnya adalah Sala del Collegio. Disini merupakan ruang tunggu duta besar yang hendak bertemu dengan Duke. Ruangan ini tampak sangat luas dengan dekorasi yang terkesan mewah. Pada dinding terpampang lukisan-lukisan untuk menunjukkan kejayaan dan kekuatan Venesia pada masa tersebut.

Kolaborasi seni dan sejarah Venesia tidak perlu diragukan lagi. Gallerie dell`Accademia misalnya adalah salah satu galeri lukisan terbaik di Eropa. Disini dapat ditemui karya-karya pelukis ternama seperti Bellini, Titian, Veronese ataupun Tintoretto. Terdapat sekitar ratusan lukisan yang menggambarkan sejarah perjalanan seni Venesia dari abad ke-14 hingga 18.

Waktu selama empat hari pun terasa tidak cukup untuk mengeksplorasi Venesia yang hanya seluas 2.467 km2 ini. Meskipun singkat, Venesia mengambil tempat tersendiri di dalam memor. Mengisahkan cerita bahagia dan bangga untuk melihat secara langsung salah satu  warisan nyata seni, sejarah serta budaya peradaban Eropa. (*)

Lebih dari Putih Salju (Harian FAJAR)

*Dimuat di Harian FAJAR 11 Februari 2013

Oleh : Iin Tammasse

Dalam perjalanan membuka cakrawala ini, salju dan musim dingin menjadi catatan unik tersendiri di benak  penulis. Tidak berlebihan jika dikatakan seperti mimpi ketika pertama kali menyentuh kristal salju dan merasakan dinginnya merambat pada kulit tropis nan tipis ini. Seketika menyirnakan paradigma anak kecil yang melekat bahwa salju hanya ada di dongeng Putri Salju dan 7 Kurcaci.

Tenggeran bunga salju di pepohonan yang juga menyelimuti jalanan dan atap-atap rumah menjadi pemandangan biasa yang menghiasi perjalanan ke sekolah setiap harinya. Pemandangan yang mustahil terlihat di kota Anging Mamiri. Namun suhu yang terkadang mencapai minus sepuluh membuat penulis harus bertahan melawan hawa dingin yang terasa menembus sampai ke tulang.

Olahraga ski menjadi kegiatan utama penulis di liburan musim dingin pada awal tahun. Di Swiss, ski sudah menjadi olahraga nasional yang dilakukan oleh anak kecil, remaja hingga orang tua. Anak kecil semenjak berumur 3 tahun sudah mulai diajarkan bermain ski. Sehingga sambil belajar berjalan mereka juga sudah bisa bermain ski.

Namun olahraga ski tidak semudah yang terlihat di layar televisi. Meluncur di atas salju yang licin dengan dua papan panjang ini cukup terbilang ekstrim. Belum lagi mengontrol laju  dan arah ski membutuhkan tenaga dan kecekatan. Namun ayah angkat dengan penuh kesabaran mengajarkan sehingga sedikit demi sedikit bisa bermain ski. Meskipun melelahkan, olahraga ski ini sangat seru dan menantang.

Liburan musim dingin penulis habiskan di sebuah villa di Hasliberg, daerah kawasan pegunungan Kanton Bern. Selain orang swiss, banyak juga orang Jerman dan orang Belanda yang berkunjung ke kawasan ini, karena pegunungan salju abadi Swiss memang terkenal untuk arena rekreasi musim dingin.

Berlibur di Kanton Bern kurang lengkap jika tidak mengunjungi Kota Bern yang bersejarah. Bern yang hanya berpopulasi 130 ribu jiwa ini merupakan  ibukota terkecil dari seluruh negara Eropa. Situasi kota ini tidak sepadat dan segesit Zurich, kota tempat penulis menuntut ilmu. Suasana kota ini lebih damai apalagi dikelilingi sungai Aare yang mengalir tenang. Taman beruang yang terletak di tengah kota menjadi daya tarik tersendiri untuk kota yang bersimbol beruang ini. Sudut kota yang menjadi favorit penulis adalah area altstadt atau kota tua. Bangunan tua, jalanan bebatuan serta menara jam tinggi (Zytglogge) yang berdiri tegak di kedua ujung jalan memperkuat atmosfir abad pertengahan di kota tua ini. Sejak tahun 1983, Bern sudah ditetapkan sebagai warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO.

Terdapat banyak museum-musem seni dan budaya di kota ini. Salah satu yang pernah penulis kunjungi bersama ibu angkat adalah Museum Paul Klee. Paul Klee sendiri adalah pelukis terkenal beraliran kubisme dan surealisme yang berasal dari kota Bern. Museum Paul Klee ini memiliki arsitektur bangunan yang sangat unik, berbentuk tiga bukit yang memiliki konsep menyatu dengan bumi.

Rabu (23/1) lalu, penulis dan sekitar 50 siswa pertukaran pelajar lainnya diundang sebagai perwakilan negara masing-masing untuk menghadiri Bundeshaus Visit 2013. Yaitu acara kunjungan ke gedung Parlemen Federal Swiss. Kami dibekali pengetahuan mengenai sistem politik dan pemerintahan Swiss serta diajak melihat ruangan-ruangan parlemen yang dipakai oleh pejabat negara setingkat presiden. Desain interior Bundeshaus tidak kalah elegannya seperti yang terlihat dari luar. Sayangnya demi alasan keamanan pengunjung tidak diperbolehkan mengambil gambar

Sistem pemerintahan Swiss terkenal sangat bagus karena mampu menyerap serta mencerminkan keanekaragaman masyarakatnya sebagai negara yang berbentuk Republik Federal. Sejak tahun 1848, sistem pemilihan umum yang berlaku adalah sistem pemilihan umum yang bersifat langsung.

Berbeda dengan Indonesia yang kekuasaan eksekutif yang hanya dipegang oleh Presiden dan Wakil Presiden, di Swiss kekuasaan eksekutif berada di tangan Bundesrat (Dewan Federal) yang terdiri dari tujuh orang. Ketujuh orang tersebut yang nantinya secara bergilir mendapat jabatan sebagai presiden dan wakil presiden. Seperti pada periode sekarang dipimpin oleh Ueli Maurer yang menjabat selama setahun.

Sebagai negara netral yang menganut hak persamaan gender, Swiss tidak memberi batasan kepada perempuan untuk berpartisipasi dalam parlemen. Bahkan tiga diantara tujuh dewan federal pemegang eksekutif adalah perempuan.

Meskipun terkenal sebagai negara netral yang tidak memihak blok barat atau blok timur, Swiss tetap menjalankan fungsinya sebagai negara yang memiliki hubungan bilateral dan multilateral dengan negara-negara tetangga, termasuk Indonesia.

Tanpa terasa perjalanan membuka cakrawala ini sudah sampai di pertengahan jalan. Pengalaman yang luar biasa untuk hidup secara bikulturalis,  yaitu menimbang dan menyaring hal-hal positif dan negatif dari tugas sebagai siswa pertukaran pelajar yang menjembatani terjadinya pengertian antara dua budaya. Menciptakan The new comfort zone  di sebuah negara yang pada awalnya terasa asing. Bertemu banyak hal-hal baru dan menilai sesuatu dari kacamata yang berbeda. Melihat semenit terkadang lebih berarti dibanding membaca seribu lembar. Namun semakin mendalami dan menyatu dengan negara ini, kecintaan pada tanah air terasa tidak berkurang. Rasa-rasa rindu pada panas terik kota daeng yang menyengat terasa semakin bertambah seiring suhu dingin yang menurun. Namun ini bagian dari tantangan, bukan untuk dihindari tapi dinikmati prosesnya. Semoga!