Atmosfir akademik yang multikultural

*Terbit di SKeMa (Seputar Kegiatan Mahasiswa) Harian FAJAR 3 Agustus 2015

Metode Pre-Reading, Materi diunggah ke Website

Oleh: Iin Tammasse, dari Brisbane, Australia.

Persimpangan musim dingin dan musim semi menjadi saat yang berkesan mengunjungi kota Brisbane. Brisbane menjadi salah satu destinasi studi favorit para pelajar dari seluruh penjuru dunia.

Nuansa multikultural sangat kental terasa sehingga tak membuat saya dan ketiga rekan dari Universitas Hasanuddin, Rizki Malik Budu, Iffah Nurhikmah dan Andi Najihah merasa gamang saat pertama kali menginjakkan kaki di ibu kota negara bagian Queensland ini.

Kedatangan kami di Brisbane bukan untuk berwisata, melainkan kunjungan akademik. Melalui program kerjasama Internasional antara Universitas Hasanuddin dan Griffith University, kami berkesempatan untuk sit-inclass selama sebulan sesuai dengan jurusan kami masing-masing serta mencicipi fasilitas lengkap dari Griffith University.

Tujuan program kerjasama Internasional Unhas yang telah berjalan selama dua tahun ini adalah sebagai sarana bagi kami para mahasiswa untuk dapat berinteraksi, berkenalan dengan kemajuan metode pendidikan serta membangun networking jikalau ke depan kita hendak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Untuk program musim semi, saya dan Rizki Malik Budu yang sama-sama di Fakultas Kedokteran diperbolehkan memilih enam mata kuliah untuk bulan ini diantaranya yaitu Pharmacology, Infectius Disease, Advanced Physiology, Language& Communication for Health, Principle of Forensic Medicine, Human Skill for Medicine, Anatomy and Physiology, Gemes and Disease.

Fasilitas yang paling menarik adalah Perpustakaan. Selain menyediakan buku-buku, perpustakaan Griffith University juga menyediakan akses gratis untuk jurnal ilmiah dan buku elektronik.

Di perpustakaan juga sering diadakan workshop untuk mendukung skill akademik mahasiswa selama mengikuti studi di Griffith. Seperti academic workshop, library workshop, dan computing workshop. Seluruh workshop tersebut dapat diikuti secara gratis oleh mahasiswa.

Selain atmosfir keilmiahan yang bersifat multikultural, teknologi yang canggih juga sangat baik penerapannya. Uniknya, absensi atau kehadiran bukanlah sesuatu yang penting seperti di Indonesia. Saat dosen membawakan kuliah, kuliah tersebut dapat diikuti secara streaming di rumah.

Meskipun tak mengikuti kuliah, suara dosen saat membawakan kuliah otomatis terekam dan terunggah ke portal intranet Griffith. Sehingga mahasiswa bisa mengunduh rekaman suara dosen yang berbentuk mp4 dan mendengarkannya di mana saja dan kapan saja.

Bahkan portal intranet Griffith University dapat diakses melalui aplikasi gratis yang bisa diunduh di gadget via App store dan Google play. Sehingga mudah untuk mengakses jadwal kuliah bahkan peta dalam kampus.

Seluruh materi kuliah juga telah diunggah ke website sehari sebelum materi tersebut dikuliahkan, ini dikarenakan banyak dosen yang menganjurkan Pre-reading agar suasana kelas berjalan efisien dan efektif.

Saya juga mengenal beberapa mahasiswa Indonesia yang terhimpun dalam ISAGU (Indonesian Student Association of Griffith University). Organisasi ini menghimpun seluruh mahasiswa Indonesia yang sedang menjalankan studi di Griffith. Sebagai alumni Griffith sekaligus chevron dari program kami, Ibu Ida Leida selalu  membawa kami ke event yang diadakan oleh ISAGU. Sehingga meskipun baru beberapa hari menginjakkan kaki di Brisbane kami akan selalu merasa homie.

Silver Tsunami, tantangan baru negara Asia

Laporan: Iin Tammasse dari Singapura

*Terbit di Koran Tribun Timur 21 Juli 2015

Silver Tsunami mungkin tidak seberbahaya Tsunami yang melanda Indonesia 2004 lalu. Tapi siapkah kita menghadapi Silver Tsunami? Alias peningkatan jumlah populasi usia lanjut yang begitu cepat.

Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi serta angka harapan hidup yang juga meningkat membuat kita tidak asing lagi dengan istilah Aging Population atau Penuaan Populasi. Pergeseran demografi ini tentu harus mendapat perhatian yang serius oleh pemerintah khususnya di bidang kesehatan. Karena diperkirakan pada tahun 2050 jumlah penduduk usia lanjut diatas 60 tahun akan melebihi penduduk usia 15 tahun.

Populasi unik ini mengundang keprihatinan oleh  Asosiasi mahasiswa kedokteran se-Asia untuk berkumpul membicarakan hal ini pada The 36th Asian Medical Student Conference di Singapura 5-12 Juli 2015, yang mengusung tema “Embracing the Silver Tsunami”. Dalam konferensi ini dihadiri 500 Mahasiswa Kedokteran dari Indonesia, Cina, Taiwan, Jepang, Bangladesh, India, Malaysia, Thailand, Hongkong, Filipina, Korea Selatan, Cambodia serta Australia dan Inggris yang ikut berpartisipasi.

Dalam Konferensi yang dibuka oleh Menteri Kesehatan Singapura ini, para delagasi diberi kesempatan mendekatkan pemahaman terhadap  Kedokteran Geriatri dan mengembangkan ide-ide baru dalam diskusi aktif serta menambah pengetahuan dan skill dalam menghadapi Silver Tsunami.

Yang menarik adalah para delegasi mendapat kesempatan bertukar informasi mengenai kesiapan negara masing-masing dalam menghadapi ledakan populasi lansia di masa akan datang. Singapura adalah salah satu negara dengan peningkatan jumlah populasi lansia yang tinggi. Diperkirakan pada tahun 2030 satu dari lima penduduk adalah lansia berusia 65 tahun ke atas. Tak bisa dipungkiri hal ini merupakan akibat dari perkembangan ilmu pengetuan, teknologi dan kedokteran yang pesat dalam dekade ini.  Meskipun memiliki populasi yang kecil, Singapura ternyata sangat tanggap dalam menghadapi masalah ini. Pemerintah Singapura sudah memberikan layanan kesehatan yang cukup memadai dan tersedianya komunitas-komunitas bagi lansia untuk tetap aktif di masa senja.

Menurut WHO, perubahan demografi ini membutuhkan perhatian khusus dari dunia kesehatan yang harus mengakomodasi kebutuhan lansia dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. Bahkan PBB telah mengkategorikan pelatihan dan pendidikan bagi lansia sebagai salah satu prioritas global. Fenomena ini bukan tanggung jawab tenaga medis semata, namun membutuhkan keterlibatan generasi muda untuk proaktif dalam komunitas untuk  mendukung populasi lansia.

blekekek
Arham, Iin, Safara dari AMSA Unhas di depan Science Building