Kamu Tanya, Saya Jawab (3)

Pertanyaan dari Sakinah Sabella  (sakinahsabella@gmail.com)

Halo kak Iin!Apa kabar ? 🙂

Selamat ya kak, sudah berhasil melewati rintangan un. Wishes terbaik untuk kakak di perguruan tinggi pilihannya.

Alhamdulillah, kami sudah dapat tanggal keberangkatan. Waktu terasa makin cepet, dan banyak sekali yang harus dipersiapkan.

Alhamdulillah keadaan dalam sehat wal’afiat. Baru-baru saja meluncurkan buku refleksi petualangan AFS Swiss 2012/2013. Semoga kelak kamu juga bisa melakukan hal yang lebih sebagai bentuk “community service” setelah pulang ke rumah. Well, baru mau berangkat kan, ini fase yang boleh dibilang paling dagdigdug, perasaan ketarik-tarik. Pengen  tinggal sama temen-temen atau pergi ke mimpi kamu yang dalam bilangan hari menjadi nyata 😀

Aku mau tanya-tanya nih kak, sebelumnya maaf ya kak menganggu waktu kakak.Pertanyaan-pertanyaan nya :1. Apa aja yang harus aku persiapkan kak?, misalnya pelajaran bahasa jerman? Atau jenis2 baju kayak apa yang harus aku bawa, seperti wintercoat? Atau baju yg lainnya, karena aku juga  pake jilbab kak 🙂 dan persiapan2 lainnya juga apa aja

Ada les Babbel.com les bahasa lengkap (Jerman) secara online. Kalau pas yearku, AFS Swiss bakal ngirimin code untuk purchasing paket A1 (Basic German). Paling beli buku Kessaint Blanc belajar mandiri di rumah itu sudah lumayan. Supaya ada dasar dikit-dikit lah hehe.

Wintercoat? Hostfam kita punya bergunung-gunung wintercoat. Jadi saran sih ga usah bawa dari sini. Pengalaman dulu saya bawa dari rumah malah cuma bikin berat-berat koper. Tapi seandainya kamu mau bawa juga ga papa karena harga wintercoat di Indonesia lumayan lebih murah dibanding di Swiss. Kalau misalnya pengen banget beli di Swiss bisa sih. Dulu aku punya satu wintercoat dari hostfam dan satu lagi beli. Karena wintercoat mahal makanya aku menabung. Winter itu sekitar 3 bulan setelah stay bulan pertama kamu. Jadi ada waktu 3 bulan untuk nabung, sebagai contoh 10 Franken per minggu lama lama bisa jadi 100 Franken setelah 3 bulan. Barang-barang di Swiss terbilang mahal, jadi harus pinter pinter hemat:D

Wahh kamu berjilbab 😀 Menurutku, jangan pernah terusik dengan asumsi orang-orang di Indonesia. Yang penting kamu harus jadi diri kamu sendiri. Jilbab itu identitas kita sebagai muslim. Mungkin banyak cerita tentang susahnya berjilbab di negara sekuler. Justru apa yang kudengar sebelum berangkat itu berbanding terbalik dengan yang terjadi. Mereka sangat respek terhadap caraku berpakaian. Negara yang sangat menjunjung demokrasi ini tentu sangat menghargai kebebasan pendudknya, termasuk cara berpakaian. So, kamu ga perlu takut 🙂 Malah lebih untung karena bakal terasa hangat dengan Jilbab hehehe apalagi kalau ada hujan salju 😀

2. Highschool disana gmana ya kak? Orang2 nya jg gmana ya kak, hehehe. Pelajaran dan sistemnya juga gmana kak 🙂 apa aja yang boleh dan gak boleh dilakukan.

Highschoolnya berbeda dengan American Highschool. Menurutku tergantung sih kamu ntar disekolahin sama hostfam dimana hehe 😀

3. Tantangan terbesar kakak waktu dsana, dan cara kakak menyelesaikannya.

Tantangan besar? Tantangan terbesar? Hmm, setiap hari selalu ada tantangan baru buat kamu dan itu bergulir terus. Yang terpenting kamu mau belajar dari kesalahan dan mencari sendiri jalan keluar dari setiap permasalahan dengan mandiri. You learn how to stand in your own feet.  Dan paling penting ingat bahwa the one who can motivate yourself is yourself. So, self awareness adalah hal terpenting.

4. Saran kakak untuk aku 😀

Do make a plan!  Bikin rencana apa yang bakal kamu lakukan di tahun ini, bulan ini, minggu ini, hari ini. Ingat, waktu kamu cuma 11 bulan. Dan 11 bulan itu CEPPPATTT sekali. Jangan sampai ada hari yang disia sia kan. Selalu usahakan keep in touch sama Indonesia tapi tanpa menggaggu aktifitas kamu di hostcountry. Hmm, selalu belajar dari kesalahan. Kamu harus eager buat belajar, belajar apa aja yang kamu temukan disana.

Sejauh ini itu saja dulu pertanyaanku kak 🙂 Ditunggu jawaban nya ya kak 😀

Terima kasih

Venesia, Warisan Nyata Sejarah dan Budaya Eropa (Harian FAJAR)

Dimuat di Harian FAJAR 8 Juni 2013

Oleh : Iin Tammasse

Venesia, Italia

(Foto: iin fadhilah)

Stasiun kereta api St. Lucia Venesia menjadi persinggahan terakhir setelah menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 10 jam dari kota Zurich setelah sebelumnya transit di Milan. Tepat 16 April lalu,  di salah satu kota yang terletak di bagian utara Italia ini, penulis dan rombongan melakukan  Study tour selama empat hari. Didampingi oleh Guru bidang studi Sejarah, perjalanan kami di kota asal Marco Polo ini pun dimulai.

Sesaat setelah tiba di penginapan, kami pun bergegas kembali berkumpul untuk berkeliling kota menyusuri Kanal Grande yang membelah kota Venesia. Kanal Grande inilah yang menjadi jalanan utama dan pusat transportasi air. Tidak adanya kendaraan motor atau mobil menjadi salah satu daya tarik Venesia. Segala jenis  transportasi dipusatkan di atas kanal-kanal seperti perahu, gondola serta bus air. Selama masa study tour, kami difasilitasi kartu Passday untuk  menggunakan Bus air (vaporetto). Bus air ini berbentuk seperti kapal ferry dan sangat disipilin waktu, berhubung di atas kanal tidak terjadi kemacetan seperti di jalan raya.

Suasana kota semakin terlihat berbeda dengan bangunan-bangunan khas Eropa, mulai dari bangunan gaya bizantium, gotik, renaissans hingga baroque berjejer rapi di sekitar kanal. Panorama kota terapung ini juga diperindah dengan Jembatan Rialto dan Accademia yang menghubungkan kedua sisi kanal. Terdapat kurang lebih sekitar 400 jembatan-jembatan kecil di kota bersejarah ini.

Oleh pembimbing Sejarah, kami yang telah dibagi ke dalam beberapa kelompok diinstruksi untuk melakukan observasi pada objek sejarah tertentu. Kelompok penulis ditugaskan untuk mengobservasi Katedral St. Maria yang berada di Pulau Torcello (sekitar satu jam dari Venesia). Untuk sampai di Pulau Torcello kami harus beberapa kali berganti bus air di Pulau Murano. Di pulau kecil yang dijuluki sebagai `pulau kaca ini kami bisa melihat proses pembuatan kaca hias oleh ahlinya secara langsung.

Setibanya kami di lokasi Katedral St. Maria, kami pun tidak sabar untuk segera masuk ke dalam. Sebelumnya kami harus membayar tiket masuk sekitar 6 €. Karena guide utama berbahasa Italia maka kami harus menyewa alat penerjemah berbahasa Jerman seharga 2 €. Katedral yang berasitektur Venetian-Byzantium ini tidak hanya terlihat menakjubkan dari luar. Bagian interior pun terlihat mengagumkan dengan seni kerajinan mozaik yang membentuk lukisan pada beberapa dinding gereja.

Cuaca yang bagus tentu menjadi pendukung utama lancarnya kegiatan ini. Dengan berbekal peta kecil, kami menelusuri jalanan-jalanan kecil Venesia yang berliku-liku seperti labirin. Jalanan tersebut memang diperuntukkan untuk pejalan kaki mengingat tidak adanya kendaraan yang lalu lalang. Sesekali penulis dan teman-teman menikmati Gelato  atau es krim khas italia yang terkenal sangat enak dengan harga terjangkau.

Objek sejarah lain yang kami kunjungi terletak di kawasan Piazza San Marco. Piazza San Marco ini adalah sudut yang sangat penting karena merupakan alun-alun utama Venesia. Luas dan dipenuhi burung-burung merpati yang jinak serta dikelilingi bangunan berarsitektur romawi yang kental. Sehingga tidak heran jika keindahan dan keunikan Venesia mampu menarik sekitar 20 juta turis mancanegara setiap tahunnya.

Observasi kedua kami lakukan di salah satu maskot Venesia yaitu Gereja Basilica San Marco. Gereja berasitektur Bizantium ini dijuluki sebagai Chiesa d’Oro atau gereja emas karena kubahnya yang didominasi lapisan emas, sebagai simbol status kekayaan dan kekuasaan Venesia pada abad ke-11.

Tepat di sebelah kanan Basilica San Marco terdapat Palazzo Ducale atau istana dari penguasa tertinggi Venesia zaman dahulu. Istana yang dijadikan pusat pemerintahan ini dibangun sekitar tahun 1340. Namun sejak tahun 1923 Palazzo Ducale dibuka sebagai museum untuk umum. Terdapat dua pintu masuk yaitu Porta della Carta sebagai pintu masuk utama sebelah barat dan Porta del Fruminto sebelah selatan yang kini menjadi pintu masuk bagi pengunjung museum. Bangunan Palazzo Ducale terdiri dari beberapa tingkatan. Pada tingkatan Basement terdapat penjara untuk para tahanan, penjara ini juga dihubungkan oleh Bridge of Sighs dengan ruang interogasi Palazzo Ducale. Jembatan ini dinamakan Bridge of Sighs karena disinilah tahanan melihat dunia luar untuk terakhir kalinya sebelum memasuki ruang tahanan yang gelap.

Ruangan yang menarik lainnya adalah Sala del Collegio. Disini merupakan ruang tunggu duta besar yang hendak bertemu dengan Duke. Ruangan ini tampak sangat luas dengan dekorasi yang terkesan mewah. Pada dinding terpampang lukisan-lukisan untuk menunjukkan kejayaan dan kekuatan Venesia pada masa tersebut.

Kolaborasi seni dan sejarah Venesia tidak perlu diragukan lagi. Gallerie dell`Accademia misalnya adalah salah satu galeri lukisan terbaik di Eropa. Disini dapat ditemui karya-karya pelukis ternama seperti Bellini, Titian, Veronese ataupun Tintoretto. Terdapat sekitar ratusan lukisan yang menggambarkan sejarah perjalanan seni Venesia dari abad ke-14 hingga 18.

Waktu selama empat hari pun terasa tidak cukup untuk mengeksplorasi Venesia yang hanya seluas 2.467 km2 ini. Meskipun singkat, Venesia mengambil tempat tersendiri di dalam memor. Mengisahkan cerita bahagia dan bangga untuk melihat secara langsung salah satu  warisan nyata seni, sejarah serta budaya peradaban Eropa. (*)