Selamat Ulang Tahun Ananda Zhafira

Untuk seorang sahabat yang bertambah umurnya disana,

Suatu hari ketika umur kita masih 13 tahun Kelas 7 (2007). Aku menemukanmu di sebuah kompetisi Pidato Bahasa Inggris tingkat SMP. Kita tak saling kenal. Jelas diingatanku tema lomba itu “Global English”. Kau membela SMP Athirah sedangkan aku berjuang untuk SMPN 12 Makassar. Meski aku mendapat posisi kedua tapi tetap saja aku tertantang melihatmu. Hahaha.

Suatu hari ketika umur kita masih 15 tahun Kelas 9 (2009). Aku berpindah jalur ke negara putih hijau. Hahaha itu lucu bukan? Kita lulus menjadi alumni SMPI Athirah bersama di pagi itu di Wisma Kalla.

Suatu hari ketika umur kita masih 16 tahun Kelas 10 (2010). Allah menakdirkan kita memasuki sekolah yang sama bernama SMAN 17 Makassar. No Jubel No School. Proud to be seventeenager. Be the real seventeenager. Motto-motto alay yang mampu melukiskan kebanggaan menjadi satu dari pemegang jas biru. Hahaha.

Suatu hari ketika umur kita masih 16 tahun Kelas 10 (2011). Semester dua di kelas Redoks, kita sekelas dan menemukan ‘Big Mama’ (Atikah Harmianti) yang terdampar. Kita bertiga menjadi team-mate. Lebih dari sekedar team-mate ketika kita sama-sama berjuang di ALSA e-comp 2011 Depok. Research dimana-mana. Makan dimana-mana. Hahaha.

Suatu hari di sebuah hari ketika Mepet atau McD Pettarani adalah sebuah simbol kegaulan. Kita yang sangat kepo mencoba untuk meneliti kegaulan anak-anak Makassar.

Suatu hari di sebuah hari. Kita menyuarakan “Forever Alone” di setiap sudut timeline. Menjadi pejuang akan cinta yang perlu diperjuangkan. Namun karena sama-sama kurang sukses. Akhirnya Aku menjadi Duta Bureng. Kau terpilih menjadi Duta Move On se-Indonesia Timur. Meskipun hingga hari ini hanya aku yang tahu betapa kau tak bisa move on dan mungkin tak bisa move on. HAHAHAHA.

Suatu hari di sebuah hari. Kita sekelas lagi di sebuah kelas alay bernama Aliensa XI IPA 2. Bersama dengan Robby Tambing, Aku membully mu setiap hari dan setiap saat. Hingga terbentuk Geng Bully terbesar Se-Jubel bernama CHIBI CHIBI CHEBA. Aku dan Robby membullymu setiap waktu. Maafkan kami. HAHAHAH.

Suatu hari di sebuah hari. Hari ini. Hari dimana kau melangkahkan kaki ke umur 17 Tahun. Hari dimana keunyuanmu akan segera meluntur termakan hari. Rasanya aku ingin kesana, menghabiskan isi dompetmu untuk ditraktir makan dan makan. Seperti dulu ketika bersama Tika berwisata kuliner keliling Makassar.

Setiap hari sesungguhnya adalah istimewa. Meski hari ini aku tahu masih belum ada yang ‘istimewa’ disampingmu tetap saja jadikan aku yang teristimewa ya. Tak ada hadiah istimewa dariku. Doaku semoga cita-citamu menjadi satu dari mahasiswa Fakultas Hukum UI 2013 tercapai. Kejar cita dan cintamu. Semoga kau pun bisa datang kesini. Melihat Sembilan puluh Sembilan Pesona Langit Eropa yang kau ceritakan padaku.

Selamat Ulang Tahun Ananda Zhafira.

Lebaran ala Eropa (HARIAN FAJAR)

*Dimuat di HARIAN FAJAR , 24 Agustus 2012

Reportase : Iin Tammasse dari Swiss

Suara dengung mesin Airbus A330 Turkish Airlines yang memuat 300 penumpang perlahan mulai tak terdengar. Ini menandakan penerbangan menuju benua eropa setelah kurang lebih 15 jam perjalanan akhirnya telah usai di Bandara Internasional Kloten Zurich, Swiss. Setelah sebelumnya transit beberapa jam di Bandara Ataturk Istanbul, Turki. Tepat di hari kemerdekaan Indonesia, akhirnya penulis dan tiga rekan yang juga siswa pertukaran pelajar tiba di sebuah negara kecil yang hanya berpenduduk 8 juta jiwa ini.

Meskipun mengalami jetlag karena penerbangan yang melintasi zona waktu yang berbeda tapi sama sekali tidak mengurangi semangat melaksanakan ibadah puasa. Ibadah puasa di Swiss tentu berbeda dengan di tanah air. Jika di tanah air kita berpuasa selama kurang lebih 12 jam, di Swiss penulis harus menahan selama kurang lebih 16,5 jam karena matahari baru terbenam pada pukul 20.30.

Penulis tinggal di sebuah keluarga Swiss di ibukota Kanton St. Gallen yang juga bernama St. Gallen, bersama Ayah angkat dan Ibu angkat serta tiga orang kakak perempuan yang masih duduk di bangku kuliah dan juga sekolah menengah. Mereka sangat ramah dan sangat tertarik untuk mengetahui banyak hal tentang Indonesia terutama mengenai Islam. Keluarga yang menganut agama katolik ini sangat toleran terhadap ibadah puasa di bulan Ramadhan yang penulis jalankan.

Nuansa Ramadhan jelas terasa perbedaanya. Kalau di tanah air pada malam lebaran suara takbir menggema di setiap sudut kota, disini sangat sunyi dan sepi malah hanya terdengar suara lonceng gereja cathedral yang berbunyi setiap lima belas menit sekali. Tidak seperti di Indonesia, saat sahur dan buka puasa penulis disuguhi sandwich, roti italia, pasta atau makanan barat lainnya. Segarnya es cendol, nikmatnya es pisang ijo atau manisnya es teler hanya bisa menjadi angan semata.

Namun itu semua tidak menghalangi semangat merayakan Hari Raya Idul Fitri di Swiss. Karena jumlah masjid yang masih terhitung sedikit, maka penulis melaksanakan shalat Idul Fitri di kediaman duta besar RI yang bertempat di Ibukota Swiss yaitu kota Bern. Sekitar tiga jam perjalanan mengunakan kereta dari kota St. Gallen.

Jarak ribuan kilometer dari tanah air tidak mengurangi hangatnya lebaran kali ini karena penulis bisa bertemu dengan sekitar tiga ratus orang berkebangsaan Indonesia yang sudah lama menetap di Swiss. Pada saat acara Halal bi halal penulis akhirnya bisa melepas rindu dengan makanan khas Indonesia seperti nasi putih, sate ayam, bakso, masakan padang dan masakan Indonesia lainnya.

Rasanya sangat senang bisa berlebaran ala Indonesia, mendengar suara takbir dan adzan yang menggema serta mencicipi kuliner khas Indonesia. Sekalipun Islam di Eropa masih menjadi minoritas tapi semangat menegakkan syariat tetap dipegang teguh oleh warga Indonesia. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H.

image

imageimage

image

Finding my self on my self

15 tahun hidup di bumi. Terlahir di tengah-tengah keluarga yang berorientasi pada pendidikan. Ia hidup sebagai seorang pengembara. Mengembara mencari jati diri yang sesungguhnya. Di usia yang penuh dengan ‘kelabilan’ ia masih sanggup berdiri tegak meski tak  jarang angin kencang dengan nikmat menggoyangkannya. Namun prinsip dan keyakinan yang teguh dihatinya selalu membuatnya mampu untuk bisa berkata Tidak atau Ya, Hitam atau Putih, Hidup Atau Mati.

(Maaf yang diatas agak lebay hehe)

Tidak kaku dan ‘sok’ Idealis. Di umur yang sebentar lagi berganti menjadi 16 tentunya tidak sedikit masalah yang menimpa, tidak sedikit caci-maki dan terjangan hidup yang kudapati. Tak sedikit pula air mata yang mengalir karena ke’lebay’an ku memaknai hidup. Mencoba menarik diri dari kenyataan dan kulihat betapa kerdilnya jiwa ku dalam menghadapi rintangan yang telah kulewati. Betapa aku begitu ‘manja’ dengan segala hal yang terjadi. Kelabilan demi kelabilan pun terjadi di umurku yang labil ini. Namun pada akhirnya aku berhasil sedikit demi sedikit membuka makna. Mencari makna kehidupan yang sesungguhnya. Mencoba untuk menjadi lebih dewasa dan tetap teguh pada pendirian serta pada prinsip yang kupegang.

Meskipun apa yang kita inginkan terkadang tidak begitu mudahnya tercapai dan apa yang kita harapkan tidak mudah untuk terkabul. Tapi tetap camkan  dalam hati b ahwa terkadang hidup memiliki 100 alasan untuk membuat kita menangis tapi yakin dan percaya hidup pun memiliki Jutaan alasan untuk membuat kita tersenyum tergantung bagaimana kita memaknainya.

Di usia ku yang masih sedang memakai putih abu-abu ini, sudah ada ribuan kegagalan telah kulalui. Kegagalan dalam sebuah kompetisi atau pun kegagalan dalam berorganisasi  yang lalu dan banyak lagi. Tapi di saat kegagalan itu kutemui, tak jarang aku menggerutu dan tidak puas dengan apa yang kudapatkan. Seakan-akan aku tidak puas dengan apa yang Tuhan berikan. Namun kelabilan seperti itu membuatku semakin sadar bahwa aku begitu kecil aku begitu tak berdaya tanpa adanya dorongan dari dalam diriku sendiri. Tanpa ada dorongan untuk bangkit pun tentunya akan semakin membuatku tak berdaya dalam ketidakberdayaan serta kejahilianku.

Semakin berusaha mencari siapa diriku sebenarnya semakin aku terlarut dalam kepasrahan. Kepasrahan menghadapi kegagalan-kegagalan selanjutnya. Tetapi itulah yang membuatku dewasa. Dewasa untuk memaknai hidup bahwa kadang kita diatas dan kadang kita dibawah. Ketika kita dibawah jangan berhenti bermimpi dan yakinlah pendakian kita keatas tidak akan sia-sia dan tentunya kita akan sampai pada puncak yang tinggi dan ketika kita berada diatas tentunya tak ada yang abadi di dunia ini cepat atau lambat kita harus mengikuti perputaran roda layaknya perputaran siang dan malam.

Kelabilan pun dapat teratasi. Hidup pun semakin indah ketika kita mencoba untuk membuka mata bahwa Tuhan begitu mencintai kita, bahwa Tuhan memiliki satu alasan untuk menunda suatu harap yang kita inginkan tapi dibalik itu semua ia memiliki Milyaran hadiah untuk ketika yang lebih indah dan membuat kita lebih takjub pada kuasa-Nya.

 

(Author : Iin Fadhilah. Ditulis di tengah malam ketika Insomnia melanda pukul 00.55 WITA, Makassar)