Sejuta Pesona Jenewa (Harian FAJAR)

*Dimuat di Harian FAJAR, Sabtu 8 Desember 2012

Oleh : Iin Tammasse

Angin musim gugur perlahan menjatuhkan dedaunan yang tadinya sudah mulai menguning. Tak lama lagi reranting pepohonan terpenuhi tenggeran bunga salju yang turun bersama dengan suhu udara yang semakin hari mendekati angka 0 derajat.

Beginilah suasana peralihan musim memasuki musim salju. Tidak terasa liburan musim gugur telah berakhir. Di penghujung pekan penulis bersama dengan teman-teman sesama siswa pertukaran pelajar dari Zurich mengadakan trip ke kota Jenewa. Jika di Zurich terbiasa menyapa dengan “Grüzi” dengan dialek swiss-jerman maka di Jenewa lain lagi. “Bonjour” dalam bahasa Prancis. Kota yang berbatasan langsung dengan Prancis ini menyimpan keindahan dan keunikan alam tersendiri. Dikelilingi pegunungan Alpen dan pegunungan Jura yang membentang membelah Swiss dari Prancis hingga Jerman. Pesona kota Jenewa tidak hanya terlihat dari pemandangan alamnya saja namun dari monumen dan tempat-tempat penting bersejarah. Kebijakan netralis Swiss membuat banyak organisasi dunia bertuan rumah disini. Sebut saja markas besar Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan badan-badannya seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Buruh Internasional (ILO) dan sekitar 200 organisasi internasional lainnya. Termasuk Palang Merah Internasional yang didirikan Henri Dunant pada tahun 1863 tepat di kota Jenewa ini.

Rasanya setengah percaya akhirnya menginjakkan kaki di salah satu markas besar PBB. Bedanya, kantor PBB di New York mengurusi bidang politik dan pertahanan sedangkan di Jenewa mengurusi bidang sosial dan kemanusiaan. Yang memukau adalah tepat di seberang halaman kantor PBB ini terdapat monumen kursi raksasa yang salah satu kakinya patah. Monumen ini didedikasikan kepada para korban perang yang terkena ranjau darat. Selain itu terdapat tank rusak yang moncong senjatanya dibengkokkan. Keduanya merupakan simbol penolakan terhadap peperangan. Swiss memang terkenal sebagai negara netral dan anti perang. Hal ini menjadi kesyukuran tersendiri bagi penulis bisa menginjakkan kaki di negeri perdamaian ini.

Tepat di halaman depan markas PBB berjejer 193 bendera negara-negara anggota PBB. Terlihat dari jauh sang merah putih juga berkibar gagah di salah satu tiang. Tak hanya ingin melihat dari luar, penulis dan rombongan pun masuk ke dalam kompleks markas yang luasnya sekitar puluhan hektar.

Tidak tampak terlalu banyak aktivitas dari luar gedung yang dibangun pada tahun 1929 ini. Penulis dan rombongan dipandu dengan tour guide dari PBB mengadakan tour singkat di dalam gedung. Kami memasuki ruang pertemuan utama yang cukup besar. Disana terdapat ratusan kursi yang tersusun setengah melingkar dengan deretan nama-negara negara sesuai abjad. Di bagian atas terdapat beberapa ruangan kecil untuk interpretator atau penerjemah selama pertemuan berlangsung. Terdapat enam bahasa resmi yang digunakan di PBB yaitu bahasa Arab, Cina, Inggris, Prancis, Rusia dan Spanyol. Kurang lebih 300 pertemuan setiap bulannya di kantor yang dalam bahasa Prancis bernama Palace de Nations ini. Bahkan saya sempat memasuki ruangan sidang Dewan HAM PBB yang hanya ada di Jenewa. Sayangnya kesempatan bertemu degan sekjen PBB Ban Ki-Moon asal Korea Selatan belum terindahkan.

Sebelum meninggalkan markas PBB kami diajak berkeliling melihat cinderamata dari berbagai negara. Yang menarik hati adalah karpet dari Cina bergambar jalanan menuju sebuah gapura. Uniknya, melihat dari sisi manapun gambar jalanan tersebut tetap seperti mengarah pada kita. Ini menggambarkan PBB sebagai organisasi dunia yang adil dan tidak memihak kepada negara manapun. Sesuai dengan bendera PBB yaitu gambar peta dunia diambil dari sudut pandang atas yang melambangkan seluruh masyarakat dunia yang berdaulat bersama mengupayakan perdamaian.

Puas mengelilingi gedung PBB, tak lengkap rasanya jika tak berkeliling melihat keindahan kota terpadat kedua setelah Zurich ini. Jenewa memiliki Geneve lake atau danau jenewa yang indah dan menjadi salah satu icon wisata di Swiss. Tidak heran memang jika mayoritas orang yang berlalu lalang adalah turis asing.

Di tepi danau terdapat banyak burung, bebek dan angsa yang hidup bebas tanpa terganggu sedikitpun.Di salah satu sudut danaunya menjulang tinggi Jet d’Eau, air mancur yang semburannya mencapai ketinggian 140 m. Saking tingginya bahkan bisa dilihat dari seluruh kota Jenewa.

Penulis bersama dengan teman-teman juga menaiki perahu kecil yang tersedia di tepi danau. Sebuah pengalaman unik tersendiri menaiki taksi air yang berwarna kuning cerah ini. Melintasi danau Jenewa dan melihat Jet d’Eau dari dekat.

Terpuaskan menikmati keindahan danau Jenewa, berjalan sedikit di sekitar area danau terdapat English Park yang terkenal dengan Flower clock. Sebuah jam besar dengan diamater sekitar 3 meter yang terbuat dari aneka bunga berwarna-warni.  Melambangkan Swiss dalam industri jam tangan dunia.

Tak jauh dari danau, penulis dan rombongan juga mengunjungi Katedral Santo Petrus. Sebuah gereja dengan arsitektur Romawi yang juga diberi sentuhan gothik fasad neoklasik. Tidak jauh berbeda dengan Katedral Duomo di Milan, Italia. Terdapat juga berbagai ornamen bergambar yang indah pada kaca hias yang menghiasi dinding Katedral yang dibangun sekitar hampir 1000 tahun lalu ini.

Memang sedikit melelahkan berjalan-jalan mengelilingi lekuk demi lekuk kota Jenewa. Tapi tentu menjadi pengalaman batin yang sangat mengesankan bagi penulis bisa mengunjungi salah satu kota terpenting dalam sejarah dunia. Sekaligus menambah pengetahuan tentang sejarah, budaya dan kebiasaan hidup. Menarik bukan?

Buongiorno Indonesia (HARIAN FAJAR)

#Dimuat di Harian FAJAR Kamis, 8 November 2012

LAPORAN: Iin Tammasse
Italia

PEKAN 
kedua liburan musim gugur 15 Oktober lalu saya dan hostfamily berkunjung ke kampung halaman pembalap Valentino Rossi. Yap, Italia! Sebuah negara yang berbatasan langsung di sebelah selatan Swiss. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2,5 jam dengan kendaraan mobil, akhirnya saya pun tiba di kota Milan atau Milano (dalam bahasa Italia) yang menjadi kandang dari tim sepak bola dunia terkanal AC Milan. Untuk memasuki wilayah Italia saya hanya menggunakan visa schengen yang memungkinkan saya untuk bisa masuk ke negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa.

Meskipun cuaca sedikit tidak bersahabat dan suhu yang mendekati 5 derajat celcius, tapi sama sekali tidak mengurangi kebahagiaan saya berjalan-jalan di kota yang terkenal sebagai salah satu kota mode selain Paris ini. Tidak jauh berbeda dengan tata ruang kota di Swiss, di Milan juga dipenuhi dengan bangunan-bangunan tua klasik khas Eropa.

Bersama hostfamily, saya mengunjungi gereja Katedral Duomo yang berada di Duomo Square atau alun-alun pusat kota Milan. Gereja Katedral Duomo ini merupakan salah satu bangunan terkenal yang menjadi simbol dari kota Milan dan juga merupakan gereja katedral terbesar yang bisa menampung kurang lebih 40.000 orang. Saya pun berdecak kagum melihat arsitektur gotik yang dibangun sekitar 700 tahun yang lalu ini.

Selain sebagai tempat ibadah, gereja ini juga dibuka umum untuk para turis. Tidak hanya dari luar saja terlihat megah. Keadaan di dalam juga sangat mengagumkan, terdapat patung-patung para pendeta dan bangsawan serta lukisan-lukisan seni eropa klasik. Bahkan saya juga menemukan lukisan-lukisan karya pelukis ternama seperti Leonardo Da Vinci dan Picasso. Meskipun sedikit gelap dan remang-remang, namun terlihat anggun dengan cahaya matahari yang terselip di sela-sela ventilasi gereja.

Ada sedikitnya seratus menara yang menjulang tinggi di katedral Duomo ini. Tidak ingin hanya melihat dari jauh, saya pun mencoba naik ke atap Duomo untuk menyaksikan panorama Milan dari ketinggian. Para pengunjung diperbolehkan naik dengan lift atau dengan tangga. Karena alasan lebih murah dan sehat, saya pun memilih menaiki tangga yang berliku kurang lebih sekitar 250 anak tangga.

Setelah mengunjungi Katedral Duomo, saya pun berjalan-jalan menyusuri Galleria Vittorio Emmanuele II. Nah, di bangunan yang megah inilah pusat perbelanjaan di Milan dimana berjejer butik-butik dengan merek terkenal. Jadi memang tidak salah jika Milan dikatakan sebagai kota Mode. Disini pun saya banyak bertemu dengan turis mancanegara. Sedikit lelah berjalan-jalan, saya dan hostfamily pun singgah beristirahat di sebuah Kafe bernama Caffe’ Letterario. Kafe ini cukup terkenal di Milan. Hari pun menjadi sempurna dengan bersantai sejenak menikmati secangkir Cappucino hangat dan Tiramisu yang lezat asli Italia.

Di mata dunia, Italia juga memang sangat terkenal dengan kulinernya. Bahkan di Indonesia pun restoran-restoran dengan masakan Italia sudah banyak menjamur. Rasanya tidak lengkap jika saya tidak mencoba kuliner Italia langsung dari negara asalnya. Setelah menyusuri sepanjang jalan kota tua di Milan, akhirnya saya pun tiba di sebuah restoran khas Italia. Menu Pizza, Spagetti, Lasagna dan Canneloni sudah pernah saya cicipi di tanah air. Sehingga saya memutuskan untuk mencoba Gnocci yang masih terdengar asing bagi saya. Gnocci ini juga merupakan pasta yang terbuat dari terigu dan kentang dengan bentuk yang sedikit berbeda dengan pasta lainnya. Gnocci ini berbentuk bulat serta bertekstur lembut. Rasa dari Gnocci yang kenyal ini mengingatkan saya dengan onde-onde tawaro di Indonesia.

Setelah puas mencicipi kudapan Italia, saya dan hostfamily pun bergegas pulang kembali menuju Swiss. Pada liburan musim gugur ini, kami berlibur di sebuah holiday house di lembah Mesocco yang mana suasana countryside masih kental terasa, sapi-sapi yang memiliki lonceng dan rumah-rumah kecil pembuatan keju secara tradisional. Daerah ini terletak di Kanton Graubunden, daerah paling selatan Swiss yang berbatasan langsung dengan Italia. Wah, pokoknya kerennn bisa merasakan liburan di Italia.

Sekolah di Luar Negeri?, Siapa takut! (Harian FAJAR)

*Dimuat di HARIAN FAJAR Selasa, 16 Oktober 2012

Oleh : Iin Tammasse

MENDAPATKAN kesempatan menjadi duta kecil Indonesia di belahan bumi lain adalah sebuah kesempatan yang luar biasa bagi saya. Doa dan kerja keras akhirnya membuahkan hasil ketika tepat di hari kemerdekaan 17 Agustus 2012 lalu untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di benua Eropa tepatnya di negara kecil bernama Swiss. Ya! Bersekolah di luar negeri, satu dari cita-cita saya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Tidak jauh berbeda dengan kualitas ekonominya, kualitas pendidikan di Swiss juga sangat bagus. Sekarang saya menjadi salah satu siswi di Kantonsschule Zurich Nord, sekolah ini setara dengan sekolah menengah atas di Indonesia. Sekolah ini juga merupakan sekolah terbesar dan terlengkap di Kanton Zurich.

Berbeda dengan di negara Amerika yang bisa memilih pelajaran, di Swiss hanya diperbolehkan memilih Schwearpunktfache atau fokus bidang studi. Saya pun memilih Matematika sebagai fokus bidang studi saya dengan paket pelajaran Biologi, Fisika, Matematika, Kimia, Geografi, Sejarah, Bahasa Jerman, Bahasa Inggris, Seni dan Olahraga. Kurang lebih hampir sama dengan mata pelajaran jurusan IPA di Indonesia. Uniknya, pelajaran olahraga terdapat dua kali seminggu. Karena mereka sangat mementingkan kesehatan jasmani. Mensa atau kantin disekolah juga sangat besar dan tersedia berbagai pilihan kuliner yang sehat.

Sekolah dimulai pada pukul 7.45 pagi hingga pukul 17.00 dengan sepuluh menit istirahat di setiap pergantian jam pelajaran. Setiap jam pelajaran terdiri dari empat puluh lima menit. Meskipun full day school tapi saya tidak merasa bosan karena sekolah disini menggunakan sistem Moving Class. Setiap siswa juga difasilitasi satu laptop Macbook Air 13 inci! Hal ini untuk memudahkan siswa mengerjakan tugas-tugas dan mengakses bahan pelajaran dari server sekolah.

Latar belakang kebangsaan siswa-siswi di sekolah cukup beragam. Mereka sangat toleransi dan open-minded terhadap perbedaan. Begitupun dengan hostfamily saya. Mereka juga sangat menghargai penampilan saya yang memakai jilbab. Hostfamily saya sangat penyayang dan sangat mendukung kegiatan program pertukaran pelajar ini. Sesekali hostfamily mengajak saya melakukan olahraga ekstrem seperti panjat tebing dan hiking di gunung. Kami pun selalu menghabiskan waktu weekend bersama dengan menanam pohon, berenang ataupun bersepeda di pegunungan.

Pada akhir September lalu tepat peralihan musim panas ke musim gugur. Daun-daun di pepohonan mulai menguning dan berjatuhan satu persatu. Memasuki musim gugur sekolah mengadakan libur selama dua minggu atau herbstferien. Liburan kali ini saya manfaatkan dengan mengunjungi beberapa kota besar. Di Swiss saya difasilitasi kartu General Abodemen yang memungkinkan saya bisa menggunakan seluruh alat transportasi seperti kereta, bus, tram ataupun kapal secara gratis selama menjalani program pertukaran pelajar.

Di pekan awal herbstferien saya pun menyempatkan diri untuk sekadar cuci mata di Kota Zurich yang merupakan kota terbesar di Swiss. Di kota ini terdapat sebuah jalan bernama Bahnhofstrasse yang merupakan shopping street terkenal di dunia. Jalanan ini terbentang dari Hauptbahnhof atau Stasiun kereta utama hingga danau Zurich yang cantik.

Kota selanjutnya yang saya kunjungi adalah Luzern, kota ini terkenal sebagai kota tua dengan Kapelbrucke atau Jembatan Kapel. Jembatan kayu ini menghubungkan sisi danau Luzern dan merupakan peninggalan dari abad ke-14. Dari jembatan ini, saya bisa melihat pemandangan gunung Pilatus salah satu jajaran pegunungan Alpen yang puncaknya sudah mulai ditutupi salju putih.

Kota Bern yang merupakan Ibu kota negara Swiss juga tak lupa saya kunjungi. Disini saya berjalan-jalan ke Bundeshaus atau kantor pusat pemerintahan Swiss. Di Altstadt atau kota tua juga terdapat bangunan-bangunan tua khas eropa yang klasik dan sudah berusia ratusan tahun.

Saya juga menyempatkan diri berjalan-jalan ke kota Basel. Di kota kelahiran petenis kelas dunia Roger Federer ini juga menjadi salah satu kota yang tercantik di Swiss. Kota ini juga menjadi perbatasan tiga negara yaitu Swiss, Jerman dan Prancis.

Mimpi saya bersekolah dan berjalan-jalan di luar negeri sudah menjadi nyata. Tidak ada yang tidak mungkin asalkan kita tidak mudah putus asa dan terus berani mencoba. Nantikan cerita saya selanjutnya adalah bertamasya di negeri pizza Italia. Penasaran kan?

 

Culture Shock (Harian FAJAR)

*Dimuat di HARIAN FAJAR Kamis, 20 September 2012

Oleh : Iin Tammasse

WAKTU terasa berjalan begitu cepat. Sudah hampir sebulan ‘hidup baru’ yang saya jalani di negara penghasil cokelat dan keju terbaik ini. Sudah hampir sebulan pula saya meninggalkan comfort zone saya di tanah air demi  mengikuti ‘kursus kehidupan’ yang tidak semua pelajar seumuran saya bisa merasakan.

Terjun langsung di suatu daerah asing dengan bahasa dan budaya yang kontras bukan hal yang terbilang mudah. Ya, culture shock. Inilah satu dari pengalaman terbaik saya di masa exchange year ini.

Salah satu culture shock yang saya temui dalam kebiasaan hidup masyarakat swiss adalah ketepatan waktu. Hampir tidak pernah ada kata terlambat ataupun ‘ngaret’. Karakter masyarakat Swiss sangat perfeksionis dan menghargai waktu, sehingga tidak salah jika negara produksi merek jam tangan terkenal Rolex dan Swiss Army ini dikatakan sebagai negara paling makmur dan sejahtera di dunia.

Transportasi umum seperti kereta api, trem dan bus kota sangat disukai karena selain sangat tepat waktu juga cepat dan bersih. Pengguna kendaraan pribadi juga tidak terlalu banyak. Itulah mengapa kondisi udara sangat bersih dan hampir tidak pernah terjadi kemacetan.

Tidak seperti di Indonesia yang dari Sabang sampai Merauke menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, di Swiss meskipun sangat kecil namun menggunakan empat bahasa utama yaitu bahasa Jerman, bahasa Italia, bahasa Prancis dan bahasa Romani. Karena saya ditempatkan di daerah yang berbahasa Jerman maka di bulan pertama saya dan siswa pertukaran pelajar lainnya diwajibkan mengikuti kursus Bahasa Jerman.

Setiap harinya saya berjalan kaki sekitar lima kilometer menuju tempat kursus. Rutinitas baru ini juga membuat saya merasakan culture shock karena di Indonesia jalan kaki belum terlalu membudaya. Namun sama seperti negara barat lainnya, jalan kaki adalah pilihan favorit karena selain praktis, murah juga sehat.

Uniknya, setiap pagi selalu ada petugas kebersihan yang membersihkan jalan raya sehingga jarang sekali terlihat debu beterbangan. Satu lagi hal yang membuat saya kagum adalah pejalan kaki sangat dihargai di sini. Jika hendak menyeberang jalan, pengemudi kendaraan akan lebih dahulu berhenti dan mempersilahkan pejalan kaki menyeberang.

Meskipun negara kecil yang terletak di jantung benua Eropa ini tidak memiliki laut, tapi dengan mudah kita dapat temukan danau kecil yang indah. Di sini saya pun tidak pernah merasa kehausan, karena di setiap sudut kota pasti tersedia air minum dari pancuran-pancuran air yang bersih dan gratis. Berbicara soal kebersihan jangan ditanya lagi. Warga Swiss sangat prihatin terhadap lingkungan hidup. Sumber energi yang merusak lingkugan sangat dilarang keras.

Pada pekan ketiga saya disini, AFS yang merupakan organisasi pertukaran pelajar yang saya ikuti mengadakan orientasi kepada seluruh peserta. Orientasi saya bertempat di kota Wallisellen di Kanton Zurich. Saya bertemu teman baru dari berbagai negara lain seperti Bosnia, Venezuela, Amerika Serikat, Rusia, Brasil Chili, Mexico, Bolivia, RRC, Thailand, Italia, Jepang, Rep. Ceko, Finlandia dan banyak lagi.

Di hari terakhir orientasi seluruh peserta membuat Zopf atau roti tradisional khas Swiss yang dikonsumsi hanya pada hari minggu. Orientasi ini sangat berkesan dan bermanfaat karena bertujuan menetralisir culture shock yang baru kami alami serta belajar kebiasaan hidup masyarakat Swiss. Bertemu banyak orang dan hal-hal baru mungkin membuat culture shock dalam arti positif, namun inilah yang akan membuat kita menjadi lebih open minded dan lebih bijaksana memahami perbedaan. Semoga!

Selamat Ulang Tahun Ananda Zhafira

Untuk seorang sahabat yang bertambah umurnya disana,

Suatu hari ketika umur kita masih 13 tahun Kelas 7 (2007). Aku menemukanmu di sebuah kompetisi Pidato Bahasa Inggris tingkat SMP. Kita tak saling kenal. Jelas diingatanku tema lomba itu “Global English”. Kau membela SMP Athirah sedangkan aku berjuang untuk SMPN 12 Makassar. Meski aku mendapat posisi kedua tapi tetap saja aku tertantang melihatmu. Hahaha.

Suatu hari ketika umur kita masih 15 tahun Kelas 9 (2009). Aku berpindah jalur ke negara putih hijau. Hahaha itu lucu bukan? Kita lulus menjadi alumni SMPI Athirah bersama di pagi itu di Wisma Kalla.

Suatu hari ketika umur kita masih 16 tahun Kelas 10 (2010). Allah menakdirkan kita memasuki sekolah yang sama bernama SMAN 17 Makassar. No Jubel No School. Proud to be seventeenager. Be the real seventeenager. Motto-motto alay yang mampu melukiskan kebanggaan menjadi satu dari pemegang jas biru. Hahaha.

Suatu hari ketika umur kita masih 16 tahun Kelas 10 (2011). Semester dua di kelas Redoks, kita sekelas dan menemukan ‘Big Mama’ (Atikah Harmianti) yang terdampar. Kita bertiga menjadi team-mate. Lebih dari sekedar team-mate ketika kita sama-sama berjuang di ALSA e-comp 2011 Depok. Research dimana-mana. Makan dimana-mana. Hahaha.

Suatu hari di sebuah hari ketika Mepet atau McD Pettarani adalah sebuah simbol kegaulan. Kita yang sangat kepo mencoba untuk meneliti kegaulan anak-anak Makassar.

Suatu hari di sebuah hari. Kita menyuarakan “Forever Alone” di setiap sudut timeline. Menjadi pejuang akan cinta yang perlu diperjuangkan. Namun karena sama-sama kurang sukses. Akhirnya Aku menjadi Duta Bureng. Kau terpilih menjadi Duta Move On se-Indonesia Timur. Meskipun hingga hari ini hanya aku yang tahu betapa kau tak bisa move on dan mungkin tak bisa move on. HAHAHAHA.

Suatu hari di sebuah hari. Kita sekelas lagi di sebuah kelas alay bernama Aliensa XI IPA 2. Bersama dengan Robby Tambing, Aku membully mu setiap hari dan setiap saat. Hingga terbentuk Geng Bully terbesar Se-Jubel bernama CHIBI CHIBI CHEBA. Aku dan Robby membullymu setiap waktu. Maafkan kami. HAHAHAH.

Suatu hari di sebuah hari. Hari ini. Hari dimana kau melangkahkan kaki ke umur 17 Tahun. Hari dimana keunyuanmu akan segera meluntur termakan hari. Rasanya aku ingin kesana, menghabiskan isi dompetmu untuk ditraktir makan dan makan. Seperti dulu ketika bersama Tika berwisata kuliner keliling Makassar.

Setiap hari sesungguhnya adalah istimewa. Meski hari ini aku tahu masih belum ada yang ‘istimewa’ disampingmu tetap saja jadikan aku yang teristimewa ya. Tak ada hadiah istimewa dariku. Doaku semoga cita-citamu menjadi satu dari mahasiswa Fakultas Hukum UI 2013 tercapai. Kejar cita dan cintamu. Semoga kau pun bisa datang kesini. Melihat Sembilan puluh Sembilan Pesona Langit Eropa yang kau ceritakan padaku.

Selamat Ulang Tahun Ananda Zhafira.

Lebaran ala Eropa (HARIAN FAJAR)

*Dimuat di HARIAN FAJAR , 24 Agustus 2012

Reportase : Iin Tammasse dari Swiss

Suara dengung mesin Airbus A330 Turkish Airlines yang memuat 300 penumpang perlahan mulai tak terdengar. Ini menandakan penerbangan menuju benua eropa setelah kurang lebih 15 jam perjalanan akhirnya telah usai di Bandara Internasional Kloten Zurich, Swiss. Setelah sebelumnya transit beberapa jam di Bandara Ataturk Istanbul, Turki. Tepat di hari kemerdekaan Indonesia, akhirnya penulis dan tiga rekan yang juga siswa pertukaran pelajar tiba di sebuah negara kecil yang hanya berpenduduk 8 juta jiwa ini.

Meskipun mengalami jetlag karena penerbangan yang melintasi zona waktu yang berbeda tapi sama sekali tidak mengurangi semangat melaksanakan ibadah puasa. Ibadah puasa di Swiss tentu berbeda dengan di tanah air. Jika di tanah air kita berpuasa selama kurang lebih 12 jam, di Swiss penulis harus menahan selama kurang lebih 16,5 jam karena matahari baru terbenam pada pukul 20.30.

Penulis tinggal di sebuah keluarga Swiss di ibukota Kanton St. Gallen yang juga bernama St. Gallen, bersama Ayah angkat dan Ibu angkat serta tiga orang kakak perempuan yang masih duduk di bangku kuliah dan juga sekolah menengah. Mereka sangat ramah dan sangat tertarik untuk mengetahui banyak hal tentang Indonesia terutama mengenai Islam. Keluarga yang menganut agama katolik ini sangat toleran terhadap ibadah puasa di bulan Ramadhan yang penulis jalankan.

Nuansa Ramadhan jelas terasa perbedaanya. Kalau di tanah air pada malam lebaran suara takbir menggema di setiap sudut kota, disini sangat sunyi dan sepi malah hanya terdengar suara lonceng gereja cathedral yang berbunyi setiap lima belas menit sekali. Tidak seperti di Indonesia, saat sahur dan buka puasa penulis disuguhi sandwich, roti italia, pasta atau makanan barat lainnya. Segarnya es cendol, nikmatnya es pisang ijo atau manisnya es teler hanya bisa menjadi angan semata.

Namun itu semua tidak menghalangi semangat merayakan Hari Raya Idul Fitri di Swiss. Karena jumlah masjid yang masih terhitung sedikit, maka penulis melaksanakan shalat Idul Fitri di kediaman duta besar RI yang bertempat di Ibukota Swiss yaitu kota Bern. Sekitar tiga jam perjalanan mengunakan kereta dari kota St. Gallen.

Jarak ribuan kilometer dari tanah air tidak mengurangi hangatnya lebaran kali ini karena penulis bisa bertemu dengan sekitar tiga ratus orang berkebangsaan Indonesia yang sudah lama menetap di Swiss. Pada saat acara Halal bi halal penulis akhirnya bisa melepas rindu dengan makanan khas Indonesia seperti nasi putih, sate ayam, bakso, masakan padang dan masakan Indonesia lainnya.

Rasanya sangat senang bisa berlebaran ala Indonesia, mendengar suara takbir dan adzan yang menggema serta mencicipi kuliner khas Indonesia. Sekalipun Islam di Eropa masih menjadi minoritas tapi semangat menegakkan syariat tetap dipegang teguh oleh warga Indonesia. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H.

image

imageimage

image

Finding my self on my self

15 tahun hidup di bumi. Terlahir di tengah-tengah keluarga yang berorientasi pada pendidikan. Ia hidup sebagai seorang pengembara. Mengembara mencari jati diri yang sesungguhnya. Di usia yang penuh dengan ‘kelabilan’ ia masih sanggup berdiri tegak meski tak  jarang angin kencang dengan nikmat menggoyangkannya. Namun prinsip dan keyakinan yang teguh dihatinya selalu membuatnya mampu untuk bisa berkata Tidak atau Ya, Hitam atau Putih, Hidup Atau Mati.

(Maaf yang diatas agak lebay hehe)

Tidak kaku dan ‘sok’ Idealis. Di umur yang sebentar lagi berganti menjadi 16 tentunya tidak sedikit masalah yang menimpa, tidak sedikit caci-maki dan terjangan hidup yang kudapati. Tak sedikit pula air mata yang mengalir karena ke’lebay’an ku memaknai hidup. Mencoba menarik diri dari kenyataan dan kulihat betapa kerdilnya jiwa ku dalam menghadapi rintangan yang telah kulewati. Betapa aku begitu ‘manja’ dengan segala hal yang terjadi. Kelabilan demi kelabilan pun terjadi di umurku yang labil ini. Namun pada akhirnya aku berhasil sedikit demi sedikit membuka makna. Mencari makna kehidupan yang sesungguhnya. Mencoba untuk menjadi lebih dewasa dan tetap teguh pada pendirian serta pada prinsip yang kupegang.

Meskipun apa yang kita inginkan terkadang tidak begitu mudahnya tercapai dan apa yang kita harapkan tidak mudah untuk terkabul. Tapi tetap camkan  dalam hati b ahwa terkadang hidup memiliki 100 alasan untuk membuat kita menangis tapi yakin dan percaya hidup pun memiliki Jutaan alasan untuk membuat kita tersenyum tergantung bagaimana kita memaknainya.

Di usia ku yang masih sedang memakai putih abu-abu ini, sudah ada ribuan kegagalan telah kulalui. Kegagalan dalam sebuah kompetisi atau pun kegagalan dalam berorganisasi  yang lalu dan banyak lagi. Tapi di saat kegagalan itu kutemui, tak jarang aku menggerutu dan tidak puas dengan apa yang kudapatkan. Seakan-akan aku tidak puas dengan apa yang Tuhan berikan. Namun kelabilan seperti itu membuatku semakin sadar bahwa aku begitu kecil aku begitu tak berdaya tanpa adanya dorongan dari dalam diriku sendiri. Tanpa ada dorongan untuk bangkit pun tentunya akan semakin membuatku tak berdaya dalam ketidakberdayaan serta kejahilianku.

Semakin berusaha mencari siapa diriku sebenarnya semakin aku terlarut dalam kepasrahan. Kepasrahan menghadapi kegagalan-kegagalan selanjutnya. Tetapi itulah yang membuatku dewasa. Dewasa untuk memaknai hidup bahwa kadang kita diatas dan kadang kita dibawah. Ketika kita dibawah jangan berhenti bermimpi dan yakinlah pendakian kita keatas tidak akan sia-sia dan tentunya kita akan sampai pada puncak yang tinggi dan ketika kita berada diatas tentunya tak ada yang abadi di dunia ini cepat atau lambat kita harus mengikuti perputaran roda layaknya perputaran siang dan malam.

Kelabilan pun dapat teratasi. Hidup pun semakin indah ketika kita mencoba untuk membuka mata bahwa Tuhan begitu mencintai kita, bahwa Tuhan memiliki satu alasan untuk menunda suatu harap yang kita inginkan tapi dibalik itu semua ia memiliki Milyaran hadiah untuk ketika yang lebih indah dan membuat kita lebih takjub pada kuasa-Nya.

 

(Author : Iin Fadhilah. Ditulis di tengah malam ketika Insomnia melanda pukul 00.55 WITA, Makassar)