Karnaval Sechseläuten Zurich 2013 (Harian FAJAR)

Dimuat di Harian FAJAR 15 Mei 2013

Oleh: Iin Tammasse

Swiss

Alam yang seakan tertidur panjang selama musim dingin pun mulai terbangun. Dataran yang dulunya putih tertutupi salju kini mulai terganti dengan bunga-bunga yang bermekaran dan pancaran sinar matahari yang lebih banyak dari biasanya. Yap! Musim semi tiba.

Warga kota Zurich mengadakan perayaan Sechselauten untuk mengawali musim semi sebagai lambang keceriaan dan semangat. Sechseläuten adalah tradisi karnaval untuk melepaskan musim dingin dan menyambut suka cita musim semi. Karnaval khas Zurich ini setiap tahunnya berlangsung pada minggu ketiga di bulan April(15/4).

Perayaan yang dihadiri ribuan orang ini menghadirkan Kanton St. Gallen sebagai kanton tamu yang hadir. Terdapat sekitar 3000 peserta karnaval dengan kostum unik serta tamu-tamu kehormatan yang diarak mengelilingi Zurich dengan menunggang kuda atau berjalan kaki. Penonton yang berjajar rapi pada pinggir rute sesekali memberikan seikat bunga pada tamu kehormatan.

Terdapat juga Kinderumzug atau parade khusus anak-anak pada hari sebelumnya. Tema parade untuk anak-anak tersusun secara historis dari 900 tahun sejarah Zurich. Mulai dari kostum zaman Romawi, Gothic, Renaissance hingga Roccoco.

Klimaks dari parade mengelilingi kota Zurich ini kemudian berakhir dengan upacara pembakaran Böögg. Bööggadalah boneka salju raksasa sebagai simbolisasi musim dingin. Tepat pada pukul 18.00, Böögg pun mulai dibakar. Kami pun harus menunggu hingga kepala boneka salju raksasa ini meledak. Menurut tradisi, semakin cepat kepalaBöögg meledak menandakan semakin baik musim panas yang akan datang. Perkiraan meledak yang awalnya 10 menit ternyata memanjang hingga 35 menit 11 detik. Terbilang cukup lama dan diperkirakan xmusim panas tahun ini tidak begitu baik. Namun hal tersebut tidak mengurangi antusiasme warga Zurich yang datang. Semua mengharapkan musim panas yang hangat dan panjang. Tentu hal ini membuat kita tersadar bahwa betapa beruntungnya berada di negeri zamrud khatulistiwa dengan pancaran sinar matahari yang cukup sepanjang tahunnya.

Pendidikan Berkarakter Lahirkan Penduduk Bermutu (Harian FAJAR)

Pendidikan Berkarakter Lahirkan Penduduk Bermutu

Oleh : Iin Tammasse

*Dimuat di Harian FAJAR 8 April 2013

(Penulis saat bersama rekan mengunjungi ETH Zurich, Swiss)

Infrastruktur memadai, stabilitas keamanan dan ekonomi yang kuat, serta segala aspek yang membuat Swiss menjadi negara termakmur di dunia. Apa sih kelebihan negara yang kekayaan alamnya jauh dibawah dibandingkan dengan Indonesia namun mampu menjadi unggul di segala lini?

Optimalisasi sumber daya manusia (SDM) oleh dunia pendidikan menjadi kunci bangsa ini lahir menjadi bangsa yang berkarakter. Subsidi besar-besaran di bidang pendidikan oleh pemerintah Swiss semata-mata untuk melahirkan penduduk yang bermutu dan berinovasi tinggi. Sekolah setingkat SD, SMP hingga SMA menjadi hal yang wajib dan gratis bagi seluruh penduduk termasuk bagi penduduk asing. Yang mengesankan, angka buta huruf pun hampir mencapai 0%.

Menjadi siswa pertukaran pelajar di Swiss merupakan suatu kesempatan besar untuk melihat lebih dekat dunia pendidikan yang dinilai berkualitas baik. Guru yang berperan sebagai fasilitator tidak menyediakan textbook tebal melainkan hanya lembaran-lembaran materi di setiap pertemuan. Selain praktis, hal ini membuat siswa tidak berpatokan pada textbook. Lembaran materi ini hanya untuk  memancing siswa membuka kemampuan berpikir masing-masing.

Dari peninjauan sehari-hari, model pembelajaran yang digunakan mengutamakan ekspresi individu siswa (individual self expression). Keaktifan siswa memberikan sumbangsi pemikiran di kelas seperti menyatakan pendapat, memberi pertanyaan dan diskusi menjadi inti dari proses belajar mengajar. Awalnya penulis mengira hal itu akan mengganggu proses transfer ilmu, namun ternyata keaktifan tersebut yang menjadi inti dari proses belajar mengajar. Selain untuk menunjukkan ketertarikan pada tema pelajaran, juga secara tidak langsung dapat melihat kompetensi individu siswa secara spontan.

Sehingga tidak heran jika di Swiss tidak memiliki sistem Ujian Semester ataupun Ujian Mid-Semester karena nilai tertulis bukanlah sesuatu yang menjadi tolak ukur kemampuan siswa.  Hanya ada ulangan harian untuk masing-masing sub-materi. Uniknya, terdapat dua kolom penilaian yaitu Punkt sebagai nilai tertulis dan Mündlich sebagai nilai keaktifan selama proses belajar mengajar dengan skala penilaian dari 1 sampai 6. Namun tidak berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia, di Swiss terdapat Matura Prüfung yang setara dengan Ujian Akhir Nasional.

Dalam keseharian siswa tidak hanya diberikan teori, namun juga diajarkan bagaimana aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan pendapat Ahli Pendidikan Swiss, Johan Pestalozzi bahwa metode pembelajaran yang baik adalah metode pengalaman. Ilmu yang diimplementasikan dalam pengalaman akan lebih membekas dan masuk ke dalam alam bawah sadar.

Pendidikan berkarakter Swiss tercermin dari pelaksanaan Maturarbeit bagi siswa jenjang terakhir Gymnasium (setara SMA). Maturarbeit ini adalah proyek individu yang bisa berupa penelitian ilmiah, eksebisi karya seni, penulisan buku dan lain sebagainya dalam kurun waktu satu tahun. Proyek ini bertujuan memberikan pengalaman sebagai orientasi tentang dunia pekerjaan, mendidik siswa menjadi lebih mandiri dan bertanggung jawab dalam mengorganisir suatu hal

Istilah tinggal kelas di kalangan pelajar bukanlah sebuah hal yang memalukan. Jika siswa tidak memenuhi standar penilaian maka harus mengulang hingga mencapai standar yang telah ditentukan. Karakter jujur dan individual membuat aksi saling contek-mencontek menjadi pemandanan yang jarang terlihat. Hal ini terjadi karena sedari usia dini sudah ditanamkan nilai-nilai bahwa hal tersebut bisa merusak diri mereka sendiri.

Beginilah cara Swiss mencetak penduduk berkualitas melalui pendidikan berkarakter. Berguru pada negara yang masyarakatnya memiliki produktivitas tinggi tentu sangat menarik. Tidak ada kata terlambat untuk Indonesia yang baru memulai. Harapan untuk memajukan bangsa kita masih ada, di tangan pelajar-pelajar Indonesia yang kelak akan menjadi nahkoda untuk kemudi masa depan. Indonesia bisa!

Semalam di Amsterdam (Harian FAJAR)

Semalam di Amsterdam

Oleh : Iin Tammasse

*Dimuat di Harian FAJAR 22 Maret 2013

Setelah kurang lebih 12 jam terlelap di atas Night Train  atau kereta malam, akhirnya tibalah penulis di Amsterdam Ibukota Belanda tepatnya di Stasiun kereta Amsterdam Center. Perjalanan ke negara kincir angin ini terasa lebih seru karena bisa mengunjungi siswa pertukaran pelajar Indonesia di Belanda Sekar Adhaninggar, chapter Bogor.

Tidak seperti peribahasa indah kabar daripada rupa, Amsterdam justru sebaliknya. Arsitektur bangunan khas belanda yang unik serta kanal-kanal panjang memenuhi seluk beluk kota.  Jembatan kuno yang bisa terbuka dan tertutup membuat kota tua ini terasa berbeda di benak penulis.

Setibanya di Amsterdam penulis langsung diajak menyusuri kota kanal ini dengan perahu bermotor yang  memiliki jendela dan atap kaca. Selama kurang lebih sejam ber-Canal Cruise, penulis dan pengunjung yang lain diajak berkeliling melihat bangunan-bangunan bersejarah pada pinggiran kanal. Sambil mendengar penjelasan dari  tour guide dalam empat bahasa (Prancis, Jerman, Belanda, dan Inggris).

Di kota Makassar mungkin tidak jarang kita menemukan bangunan peninggalan belanda seperti Gedung MULO. Sedikit berbeda, umumnya bangunan menjulang tinggi dan tidak terlalu lebar dengan jendela kaca yang banyak. Rumah seribu kaca, Gereja tua dan Houseboat menjadi  objek yang paling istimewa selama tur kanal ini. Houseboat sendiri adalah bangkai kapal di zaman perang yang bentuk fisiknya masih bisa digunakan, namun hingga kini masih banyak penduduk yang menetap di dalam Houseboat ini. Juga ada beberapa yang dijadikan museum dan disewakan untuk penginapan turis.

Setelah puas berkeliling kami pun bergegas menuju Dam Square yang menjadi taman pusat kota Amsterdam, terdapat tugu Amsterdam dan kawanan burung merpati yang jinak disini. Disinipun penulis bertemu salah satu teman pertukaran pelajar dari Indonesia lainnya yaitu Astarina Natyasari, chapter Palembang.

Di sisi Dam Square yang lain terdapat Museum patung lilin Madam Tussauds dari London yang terdiri atas artis dan tokoh terkenal bahkan terdapat juga  patung lilin dari keluarga kerajaan Belanda. Royal Palace yang menjadi kediaman keluarga Belanda yang sekarang dipimpin oleh Ratu Beatrix juga berlokasi di sekitar Dam Square.

Belanda memang salah satu destinasi wisata mancanegara favorit. Tanah kelahiran pelukis Vincent Van Gogh ini memang diakui sebagai pusat budaya dan seni sehingga mampu menarik jutaan pengunjung tiap tahunya. Memakai pakaian tradisional khas belanda Kladeracht  dan topi Njektiher menjadi salah satu ceklist utama penulis ketika berkunjung ke kampung halaman pesepak bola legendaris Ruud Gullit ini.

Sebagai negara anti polusi, sepeda sudah menjadi kendaraan sehari-hari.  Budaya bersepeda memang sudah ditanamkan sejak tahun 1800-  an. Bahkan pemerintah menyediakan jalur khusus sepeda di jalan raya serta fasilitas lainnya demi keamanan dan kenyamanan bersepeda. Uniknya sepeda yang dipakai bukanlah buatan modern akan tetapi sepeda onthel kuno yang bisa kita lihat di film dokumenter Indonesia pada zaman penjajahan. Penulis pun sempat diajak berkeliling kota Hilegom dengan sepeda Onthel.

Tidak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi museum-museum penting di negara yang pernah mengisi halaman cerita kelam tanah air ini. Sebut saja Museum Multatuli yang tak jauh dari pusat kota Amsterdam. Museum ini dulunya adalah kediaman dari Multatuli atau Douwes Dekker, salah seorang yang memegan peran dalam sejarah kemerdekaan Indonesia melalui kekuatan tulisan dari novelnya Max Havelaar.

Di museum sederhana ini masih terdapat bunga dan cengkeh sebagai oleh-oleh saat berlayar dari Maluku kepada anak dan istrinya. Terdapat juga jam hias serta meja pemberian agar Multatuli berhenti menulis hal-hal yang merugikan pihak belanda. Terdapat juga bola dunia yang selalu menghadapkan peta Indonesia pada sisi muka. Bahkan sofa merah tempat Multatuli menghembuskan nafas terakhir pada tahun 1887 di Jerman.

Menurut pemilik Museum, hingga kini Max Havelaar menjadi salah satu buku dari lima puluh yang wajib dibaca oleh pelajar di Belanda sebelum menamatkan sekolah. Beliau pun terlihat sangat senang saat mengetahui kami berdua yang mengunjungi museum adalah pelajar sekolah menengah dari Indonesia.

Berlaju di atas Salju (Harian FAJAR)

*Dimuat di Harian FAJAR Jumat, 17 Maret 2013

Oleh : Iin Tammasse

Mens sana in corpore sano. Kutipan yang berarti di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat menjadi aspek penting dalam dunia pedidikan di Swiss. Khusus bagi pelajar tiap tahunnya diadakan Sportferien atau Libur Olahraga yang diisi dengan olahraga winter seperti ski dan snowboard.

 

Seru dan menantang. Dua kata yang cukup mendeskripsikan pengalaman berseluncur dengan ski pada libur di awal bulan Februari lalu. Liburan memang selalu menyenangkan, apalagi jika diisi dengan hal  baru yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. Setelah mencoba pada libur natal akhir tahun, ternyata olahraga uji nyali ini membuat penulis merasa ketagihan untuk mencoba lagi.

 

Bersama dengan hostfamily, penulis pun menghabiskan sportferien di kawasan pegunungan Alpen tepatnya di Bergün, Kanton Graubunden. Perjalanan dari Kanton Zurich menghabiskan waktu sekitar 3 jam karena Kanton Graubunden sendiri  terletak pada bagian selatan Swiss. Waktu yang relatif lama untuk menyusuri negara yang hanya berukuran 41.285 km2 ini. Uniknya, di kanton Graubunden penduduk memakai tiga bahasa, bahasa Jerman, bahasa Italia dan bahasa Romanish.

 

Dua pekan yang menyenangkan menjalani keseharian di pegunungan. Rasanya seperti berada pada dimensi bumi yang lain melihat sekeliling berselimutkan salju putih. Menghirup udara dingin dan bersih di pagi hari serta meminum susu sapi segar yang baru diperah. Perbedaan cukup drastis dengan kehidupan sebelumnya sebagai anak pesisir Losari yang kemudian menjadi anak gunung Alpen.

 

       Di sebuah cottage tradisional Swiss di desa kecil bernama Latsch menjadi persinggahan sementara penulis dan hostfamily selama dua pekan. Desa kecil yang terletak pada ketinggian sekitar 1700 m membuat penulis harus bersahabat dengan jaket tebal dan kaos tangan setiap harinya. Melawan dingin yang bahkan bisa mencapai -20 derajat celcius.

 

Meskipun belum dikategorikan mahir, namun berlaju dengan ski pada jalur merah(menengah) menjadi tantangan tersendiri.  Terkadang sedikit mendebarkan ketika harus meluncur pada jalur yang terjal dan curam. Beberapa kali penulis harus terjatuh dan tergelincir hanya karena kurang berhati-hati mengontrol kecepatan ataupun bertabrakan dengan pemain ski lain. Belum lagi puncak yang terkadang berkabut dan hujan salju yang mengurangi jarak pandang. Namun inilah yang membuat pengalaman bermain ski ini menjadi tidak terlupakan. Seringkali kita harus menanggalkan rasa takut kan? No Risk, No Fun.

 

Selain ski, wintersport lainnya adalah Schlitteln dan Ice-skating. Schlitteln adalah berseluncur di atas papan kayu, cukup duduk dan mengarahkan papan saja.  Alat Schlitteln tersebut dapat disewa seharga 15 Swiss Franc (Rp 150.000). Yang tidak kalah menarik adalah ice-skating di Skateline Surava dengan jalur es sekitar 3 km melewati hutan serta menikmati panoramanya yang menakjubkan.

 

Pada hari terakhir penulis bersama hostgrandma berjalan-jalan mengunjungi St. Moritz, salah satu resor wisata musim dingin tertua dan paling terkenal. St. Moritz yang berada pada ketinggian 1856 m di atas permukaan laut ini juga memiliki pemandangan yang tak kalah mempesona. Pemandangan alam disini penulis nikmati dengan mengendarai Kutsche (kendaraan sejenis delman) mengelilingi lereng bukit bersalju sekitar kurang lebih satu jam. Setelah lelah, kami pun pulang dengan menggunakan kereta api Rhaetian dengan jalur kereta memanjang dari Albula hingga Bernina. Sejak tahun 2008, jalur kereta api yang berumur lebih dari seratus tahun ini telah terdaftar oleh UNESCO sebagai situs warisan dunia. Seru kan? Nantikan cerita selanjutnya dari negeri kincir angin Belanda!

Lebih dari Putih Salju (Harian FAJAR)

*Dimuat di Harian FAJAR 11 Februari 2013

Oleh : Iin Tammasse

Dalam perjalanan membuka cakrawala ini, salju dan musim dingin menjadi catatan unik tersendiri di benak  penulis. Tidak berlebihan jika dikatakan seperti mimpi ketika pertama kali menyentuh kristal salju dan merasakan dinginnya merambat pada kulit tropis nan tipis ini. Seketika menyirnakan paradigma anak kecil yang melekat bahwa salju hanya ada di dongeng Putri Salju dan 7 Kurcaci.

Tenggeran bunga salju di pepohonan yang juga menyelimuti jalanan dan atap-atap rumah menjadi pemandangan biasa yang menghiasi perjalanan ke sekolah setiap harinya. Pemandangan yang mustahil terlihat di kota Anging Mamiri. Namun suhu yang terkadang mencapai minus sepuluh membuat penulis harus bertahan melawan hawa dingin yang terasa menembus sampai ke tulang.

Olahraga ski menjadi kegiatan utama penulis di liburan musim dingin pada awal tahun. Di Swiss, ski sudah menjadi olahraga nasional yang dilakukan oleh anak kecil, remaja hingga orang tua. Anak kecil semenjak berumur 3 tahun sudah mulai diajarkan bermain ski. Sehingga sambil belajar berjalan mereka juga sudah bisa bermain ski.

Namun olahraga ski tidak semudah yang terlihat di layar televisi. Meluncur di atas salju yang licin dengan dua papan panjang ini cukup terbilang ekstrim. Belum lagi mengontrol laju  dan arah ski membutuhkan tenaga dan kecekatan. Namun ayah angkat dengan penuh kesabaran mengajarkan sehingga sedikit demi sedikit bisa bermain ski. Meskipun melelahkan, olahraga ski ini sangat seru dan menantang.

Liburan musim dingin penulis habiskan di sebuah villa di Hasliberg, daerah kawasan pegunungan Kanton Bern. Selain orang swiss, banyak juga orang Jerman dan orang Belanda yang berkunjung ke kawasan ini, karena pegunungan salju abadi Swiss memang terkenal untuk arena rekreasi musim dingin.

Berlibur di Kanton Bern kurang lengkap jika tidak mengunjungi Kota Bern yang bersejarah. Bern yang hanya berpopulasi 130 ribu jiwa ini merupakan  ibukota terkecil dari seluruh negara Eropa. Situasi kota ini tidak sepadat dan segesit Zurich, kota tempat penulis menuntut ilmu. Suasana kota ini lebih damai apalagi dikelilingi sungai Aare yang mengalir tenang. Taman beruang yang terletak di tengah kota menjadi daya tarik tersendiri untuk kota yang bersimbol beruang ini. Sudut kota yang menjadi favorit penulis adalah area altstadt atau kota tua. Bangunan tua, jalanan bebatuan serta menara jam tinggi (Zytglogge) yang berdiri tegak di kedua ujung jalan memperkuat atmosfir abad pertengahan di kota tua ini. Sejak tahun 1983, Bern sudah ditetapkan sebagai warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO.

Terdapat banyak museum-musem seni dan budaya di kota ini. Salah satu yang pernah penulis kunjungi bersama ibu angkat adalah Museum Paul Klee. Paul Klee sendiri adalah pelukis terkenal beraliran kubisme dan surealisme yang berasal dari kota Bern. Museum Paul Klee ini memiliki arsitektur bangunan yang sangat unik, berbentuk tiga bukit yang memiliki konsep menyatu dengan bumi.

Rabu (23/1) lalu, penulis dan sekitar 50 siswa pertukaran pelajar lainnya diundang sebagai perwakilan negara masing-masing untuk menghadiri Bundeshaus Visit 2013. Yaitu acara kunjungan ke gedung Parlemen Federal Swiss. Kami dibekali pengetahuan mengenai sistem politik dan pemerintahan Swiss serta diajak melihat ruangan-ruangan parlemen yang dipakai oleh pejabat negara setingkat presiden. Desain interior Bundeshaus tidak kalah elegannya seperti yang terlihat dari luar. Sayangnya demi alasan keamanan pengunjung tidak diperbolehkan mengambil gambar

Sistem pemerintahan Swiss terkenal sangat bagus karena mampu menyerap serta mencerminkan keanekaragaman masyarakatnya sebagai negara yang berbentuk Republik Federal. Sejak tahun 1848, sistem pemilihan umum yang berlaku adalah sistem pemilihan umum yang bersifat langsung.

Berbeda dengan Indonesia yang kekuasaan eksekutif yang hanya dipegang oleh Presiden dan Wakil Presiden, di Swiss kekuasaan eksekutif berada di tangan Bundesrat (Dewan Federal) yang terdiri dari tujuh orang. Ketujuh orang tersebut yang nantinya secara bergilir mendapat jabatan sebagai presiden dan wakil presiden. Seperti pada periode sekarang dipimpin oleh Ueli Maurer yang menjabat selama setahun.

Sebagai negara netral yang menganut hak persamaan gender, Swiss tidak memberi batasan kepada perempuan untuk berpartisipasi dalam parlemen. Bahkan tiga diantara tujuh dewan federal pemegang eksekutif adalah perempuan.

Meskipun terkenal sebagai negara netral yang tidak memihak blok barat atau blok timur, Swiss tetap menjalankan fungsinya sebagai negara yang memiliki hubungan bilateral dan multilateral dengan negara-negara tetangga, termasuk Indonesia.

Tanpa terasa perjalanan membuka cakrawala ini sudah sampai di pertengahan jalan. Pengalaman yang luar biasa untuk hidup secara bikulturalis,  yaitu menimbang dan menyaring hal-hal positif dan negatif dari tugas sebagai siswa pertukaran pelajar yang menjembatani terjadinya pengertian antara dua budaya. Menciptakan The new comfort zone  di sebuah negara yang pada awalnya terasa asing. Bertemu banyak hal-hal baru dan menilai sesuatu dari kacamata yang berbeda. Melihat semenit terkadang lebih berarti dibanding membaca seribu lembar. Namun semakin mendalami dan menyatu dengan negara ini, kecintaan pada tanah air terasa tidak berkurang. Rasa-rasa rindu pada panas terik kota daeng yang menyengat terasa semakin bertambah seiring suhu dingin yang menurun. Namun ini bagian dari tantangan, bukan untuk dihindari tapi dinikmati prosesnya. Semoga!

Kamu tanya, saya jawab-(2)

Hai, Kak Iin!
 
Kenalkan, saya Rifka, stalker blog Kakak dan beberapa blog peserta AFS lainnya.
Jujur, program pertukaran pelajar ini hebat banget buat saya, dan saya kepingin ikut sejak… sejak kapan, ya? Kelas 8 SMP kalo gak salah. Waktu itu ada returnee AFS yang dateng ke sekolah buat sharing-sharing motivasi (semacam itu lah). Dan saya yang emang udah punya semangat belajar di luar negeri jadi ketempa tujuh kali, makin pingin dan kepingin belajar di luar negeri, apalagi dengan jalan AFS. Sekarang saya sudah kelas 10 dan sedang menata jiwa dan raga (halah…) untuk ikut pendaftaran April besok, chapter Jogja. Tapi ada buanyaaakkk sekali hal yang kepingin saya tanyakan, dan karena akun resmi AFS Jogja di Twitter gak selalu ngejawab sampe bikin saya galau dikeroyok berbagai macam pertanyaan yang butuh jawaban, maka saya memburu para returnee-nya dan selamat Kakak jadi salah satu yang beruntung saya jadikan konsultan hehe.
Halo adik Rifka yang penuh semangat 🙂
Kakak senang sekali mendapat email dari kamu dan juga meminta maaf karena baru bisa dijawab sekarang. Wah, kamu kalah dong, saya kepingin ikut AFS itu sejak kelas 6 SD loh haha. Rasa excited nya buat ikut program ini entah bagaimana dijelaskan dari umur semuda itu. Tapi ingat pepatah “Kejar mimpimu, sampai mimpi itu terlihat bodoh dihadapanmu” hahaha kejar yah kejar terus sampai dapat. Saya coba jawab sebisanya yah 🙂
 
Oke, mari kita mulai sesi tanya-jawab ini, Kak. Berharap Kakak bakal ngejawab, sebisa Kakak. 
 
1. Awal saya tahu AFS, saya dengar AFS ini program pertukaran pelajaran yang gratis. Tapi saya yakin gak bener-bener gratis, pasti ada lah beberapa hal yang harus ditukar dengan uang. Nah, itu apa aja, Kak? I mean, “beberapa hal yang harus ditukar dengan uang” itu apa aja kalo setahu Kakak? Paspor dan Visa termasuk, ya? Selain itu, ada apa lagi? Biar saya bisa lebih mempersiapkan isi dompet begitu Kak hehe .
Jadi begini dik, di Indonesia bernama Bina Antarbudaya yang berpartner dengan AFS, YES, Kizuna dan beberapa program lain. Nah, setiap program memiliki beasiswa berbeda-beda. Beasiswa secara keseluruhan dibantu dari beberapa instansi, perusahaan ataupun donatur-donatur yang mendukung program pertukaran pelajar ini. Kenal dengan penyair Taufik Ismail atau mantan Menteri BUMN Tenri Abeng? Mereka dulu adalah siswa pertukaran pelajar AFS  yang mendukung program hingga sekarang. Sebagai contoh program YES yang beasiswa langsung dari pemerintah US. Nah ada juga bantuan langsung kakak-kakak volunteer yang bekerja secara sukarela untuk membantu penyeleksian adik-adik agar banyak yang bisa berkesempatan belajar ke luar negeri. Dengan filosofi dasar “Mendengar dan didengarkan dunia”
 
2. Seleksi Tahap 1 itu tentang IPU (iya kan ya?). Kakak sendiri belajar apa aja sebelum tes itu? Jangan bilang Kakak gak belajar dulu hehe… IPU itu mencangkup pengetahuan di bidang/pelajaran apa aja, Kak?
Yah, Ilmu Pengetahuan Umum. Sekedar untuk mengukur wawasan global adik. Apakah adik peduli dan melek gak dengan keadaan lingkungan global. Saya pribadi tidak mempersiapkan hal-hal yang mengkhusus, hanya berdoa agar dilancarkan. Yang dipilih bukan yang pintar, jenius, jago ini atau jago itu tapi yang terpilih nantinya adalah yang siap. Siap dalam artian apa?, rahasia… hehehehe
 
3. Kakak dulu minta izin ke sekolah buat ikut dengan cara yang seperti apa, Kak? Saya takut gak diizinin sekolah 
Izin sekolah itu baru keluar ketika sudah dinyatakan akan berangkat. Akan berangkat lagi belum tentu berangkat sampai benar-benar duduk di dalam pesawat menuju negara tujuan. Karena banyak hal yang bisa terjadi. Sekolah pasti sangat-sangat mendukung. Keputusan ini memang beresiko besar yah ketinggalan setahun dengan teman-teman. Tapi tidak semua orang bisa mendapatkan, jadi jangan takut atau ragu.
 
 
4. Setelah tahu Kakak mau ditempatin di Swiss, persiapan Kakak apa aja? I mean, bukan yang mental, tapi yang barang-barang. Misal beli ini beli itu, gitu, winter coat juga. Kalo boleh tahu, belinya di mana, Kak? Dan habis budget berapa? (Gak perlu disebutin mendetail deh soal budget-nya, saya cuma kepingin mempersiapkan dompet soalnya)
Hahaha persiapan, saya jadi ketawa sendiri mengingat masa-masa persiapan keberangkatan. Nah, inilah kenapa ada Orientasi pra keberangkatan agar adik tau apa-apa saja yang perlu dibawa. Kalau wintercoat, saya pribadi tidak bawa dari Indonesia karena ingin beli dari negara asalnya. Kalau menurut teman-teman lain, wintercoat banyak di mall-mall besar Jakarta atau Bandung.
 
5. Kakak tentu banyak berdoa dong agar lolos AFS ini. Nah, karena kita sesama muslimah yang kece dan cantik-cantik (halahhh), saya kepingin nanya. “Berdoa” versi Kakak itu ngapain aja? Puasa Senin-Kamis? Salat Dhuha? Salat tahajud? Salat tepat lima waktu tentu jalan terus dong ya hehe… Sedekah juga gak, Kak? Pokoknya agar Allah akhirnya mau ngabulin doa kita lolos AFS, saran Kakak, musti berdoa apa aja?
Wah saya bingung menjawab pertanyaan ini, takutnya kan riya hehehe. Intinya ibadah-ibadah yang adik sebutkan diatas tidak berlaku hanya untuk bisa lolos AFS loh, tapi diaplikasikan untuk segala macam aspek kehidupan (cie). Berdoa saja jika memang program ini bisa membuat adik menjadi lebih baik dan memberi banyak manfaat untuk adik dan sekitar, maka mohon untuk diluruskan dan dilancarkan.
 
6. Di Swiss kan Kakak jadi muslim minoritas. Boleh tahu gak, gimana ibadah Kakak di sana? Di sana jarang ada masjid apalagi suara azan. Jam dan cuaca juga beda sama di Indonesia. Gimana Kakak bisa tahu kapan waktunya salat? 
Iya minoritas. Kemajuan teknologi dong, setel adzan dan waktu shalat di handphone. Meskipun hampir setiap musim waktu shalat berubah drastis. Misalnya pas summer Isya itu sekitar jam 10 an dan malam banget rasanya. Sedangkan pas winter Maghrib sekitar jam 4 sore, jadi di awal-awal kedatangan sempat repot juga beradaptasi dengan perubahan waktu.
 
8. Yang terakhir, temen-temen Kakak yang dari Jepang itu kece-kece abis. Saya agak iri baca postingan Kakak yang malah Kakak ngerasa kea Snow White dan 7 Kurcaci. Pertanyaan saya, boleh gak saya titip salam ke temen-temen Jepang Kakak yang kece-kece topan itu, Kak? Ehehehehehe…. *mendadak kecentilan*
Hahaha kece yah, hmm biasa aja sih wkwk. Iya nanti saya kirimkan salamnya 🙂 Mereka baik dan unyu-unyu kan? hehe.
 
Untuk sementara ini, itu dulu aja, Kak. Untuk sementara ini? IYA, untuk sementara ini. Boleh dong kapan-kapan, saya tanya-tanya lagi. Iya gak, iya gak? *angkat-angkat alis*
Sip dengan senang hati. Menjadi pelajar yang tertukar akan sangat menyenangkan jika bisa bertukar pengalaman, pendapat, perasaan atau pikiran dengan teman-teman di Indonesia 🙂 Untuk dijadikan ajang saling menginspirasi. Iya kan?
 
Saya harap Kakak mau membalas. Gak perlu panjang lebar kok, Kak, cukup tepat sasaran ke pertanyaan aja. Saya kepingiiiiiiin banget ikut AFS, Kak. Dan salah satu impian saya adalah menginjakkan kaki di Swiss. Saya pertama kali nyemplung ke blog Kakak itu ya karena saya lihat di sebuah blog peserta AFS lain yang nyantumin nama negara tempat Kakak menjelajah: Switzerland. Awalnya saya iri, tapi lama-lama malah tertantang. Kalo Kakak bisa, kenapa saya engga? 
 
Dan saya harap Allah juga bekerja sama dengan saya. AFS itu salah satu resolusi terbesar saya untuk tahun 2013. Saya gak berani berharap tinggi-tinggi biar nantinya kalo jatuh sakitnya gak banget-banget, tapi saya gak bisa nyangkal kalo saya emang kepingin banget nget nget sampe kebelet…Nah lho, malah curhat ihihihi 
Semoga jawaban-jawaban kakak diatas memuaskan yah. Oh tentu saja kamu pasti bisa. Intinya jangan pernah melakukan sesuatu hal dengan setengah hati dan selalu bersungguh-sungguh. Tapi jangan lupa bahwa ada sang Maha Perencana, Dia lebih tau yang mana yang terbaik untuk adik. Beasiswa bukan cuma AFS kok, ada banyak jalur-jalur lain yang bisa ditempuh. Sejujurnya, saya masih berkeinginan besar untuk bisa belajar di Amerika Serikat, toh takdir membawa ke negara ini tentu dengan tujuan dan alasan yang terbaik. Tapi mimpi Amerika masih hidup, mungkin 4 atau 5 tahun kedepan. Haha saya jadi ikutan curhat.
Segini dulu aja deh, Kak. Mohon doa juga agar saya bisa menyusul Kakak ya.
Sekian dan terima kasih, Kak Iin yang cantik dan kece dan lucky dan unyu-unyu.

Terima kasih sudah berkunjung, nantikan cerita-cerita selanjutnya 🙂
 
Yang menulis dengan segenap harapan,
 
Rifka 

Kamu tanya, saya jawab-(1)

Halo pembaca setia, apa kabar? semoga dalam keadaan baik dan luar biasa. Posting blog agak terlambat dikarenakan waktu dan jadwal yang padat dan sulitnya membagi waktu yang hanya 24 jam. Salah satu project dari exchange year ini adalah Kamu tanya, Saya jawab. Teman-teman boleh bertanya apa saja tentang program pertukaran pelajar, exchange life saya dan sebagainya. Pertanyaan bisa lewat segala macam sosial media ataupun di blog ini. Kami disini untuk menjembatani dua budaya, akan sangat menyenangkan jika bisa bertukar pengetahuan yang mungkin kalian sekedar ingin tahu. Feel free untuk bertanya.

Berikut email dari :

Anggia Kinariana <puroeay@yahoo.com>
Halo Kak Iin, 
Kalo boleh jujur, aku akhir-akhir ini suka buka-buka & baca-baca post di blog kamu lho, kak.
Blog punyamu itu keren, kak. Isinya menarik dan mudah dipahami.
Aku rencananya sih mau ikut AFS chapter Jogja tahun depan, ya gara-gara kakak ini. 
Tapi aku masih punya beberapa pertanyaan, Kak. Berhubung aku binggung mau tanya sama siapa, mending aku tanya sama pesertanya langsung aja .
Oke, ini pertanyaan-pertanyaanku. Tolong dibantu ya, Kak. 
Halo adik 🙂
Terima kasih sudah mau berkunjung dan menyukai isi dari cerita-cerita kakak. Blog sederhana ini hanya sebagian kecil dari petualangan ini, kakak sangat senang jika kamu tergerak untuk memiliki keinginan besar ‘merubah lajur hidupmu’ dengan program ini.
  1. Gini kak, AFS kan buat anak kelas 10. Nah, sewaktu kita pergi ke luar negeri buat ikut pertukaran pelajar, nilai-nilai ulangan kita di sekolah yang di Indonesia— seperti Ulangan harian, ulangan tengah semester dll, gimana dong kak ? Apa nanti sewaktu kita balik kita disuruh ikut ulangan susulan atau gimana ? Jadi sebenarnya TES mengikuti AFS untuk siswa/siswi kelas 10 tetapi memakan proses panjang kurang lebih 2 tahun dan kami diberangkatkan sebelum naik kelas 12. Nah, nanti setelah pulang ke Indonesia harus mengulang lagi setahun, jadi total SMA selama 4 tahun. Sama sekali tidak menyesal  harus lama sekolahnya,  karena pengalaman yang kami dapatkan Insya Allah lebih worth it 😀                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  
  2. Aku kemarin habis baca syarat-syarat pendaftaran AFS, disitu tertulis kalo peserta yang ikut seleksi harus lahir diantara 01 Agustus 1997- 01 Agustus 1998. Kalo misalnya aku lahir tanggal 10 September 1998 gimana dong kak ? Masa iya harus daftar lagi tahun 2015, kalo daftar tahun 2015 aku sudah enggak kelas 10 lagi.Nah, cek dulu dik pendaftaran program 2013/2014 yang sudah berlangsung itu 1 Agustus 1995-1 Agustus 1997. Karena kamu daftar tahun depan kemungkinan kelahiran yang terpilih 1 Agustus 1996 – 1 Agustus 1998. Jangan patah semangat terus update di chapter terdekat di kota kamu, regulasi bisa saja berubah.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      
  3. Nanti kalo misalnya negara tujuan yang aku pilih Belanda, padahal aku belum bisa bahasa Belanda, nanti kita harus belajar autodidak atau dibantu oleh pihak AFSnya, Kak?  Untuk negara tujuan sama sekali belum tentu sesuai pilihan. Pertama harus memilih program dulu ada AFS, YES, atau Kizuna. Lalu kemudian menyusun 10 pilihan negara. Saya pribadi benar-benar no idea dengan bahasa jerman sebelum berangkat ke Swiss. Tergantung negaranya juga, semisal Jerman dan Swiss memang ada Language course di bulan pertama hosting. Selanjutnya di sekolah juga ada les jerman. Masalah bahasa benar-benar akan menjadi ‘masalah’ karena itu alat berkomunikasi vital. Yang penting pede dan mau bekerja keras 🙂                                                                
  4. Temen-temen kakak yang foto-fotonya diposting di blog itu temen sekelas kakak ?? Anak AFS juga ? Itu nanti anak-anak AFS dikumpulin disatu kelas yang sama ?  Teman-teman AFS itu teman sekelas semasa les jerman di bulan pertama. Setelahnya masuk ke sekolah umum Gymnasium  setara dengan SMA, bedanya Gymnasium ini terdiri dari 6 tingkatan dan saya di tingkatan 5.                                                                                                
Ya sudah, segitu saja, Kak. Thank you for your time. May God always bless you wherever you are. 🙂 
Baik terima kasih adik. Senang bisa mendengar antusiasme dari adik. Sekedar ingin tahu sudah merupakan langkah kecil untuk perubahan kecil. Pertukaran pelajar ini seperti ‘banting setir’. Memang bukan ke jalan tol bisa cepat lulus atau merangkai impian yang lebih nyata. Jauh dari pada itu kita bisa melihat hal lebih banyak, berkenalan dengan orang banyak, mempelajari hal-hal yang mungkin tidak di dapatkan di bangku sekolah. Paling penting adalah lebih mengenal diri sendiri karena kita dituntut untuk membuat keputusan sendiri dan memecahkan masalah sendiri. Layaknya ketapel yang ditarik mundur untuk meluncur jauh ke depan. Dan kita harus tetap optimis untuk esok hari yang masih menjadi misteri.