Kesah dan Keluh

Pada malam yang senantiasa menyediakan gelap demi sebuah lelap. Salah satu seni dari menjadi tombak organisasi adalah jangan mengeluh. Kehadiran kita selalu menjadi oase bagi mereka yang menginginkan harapan dalam rangka menemukan tetes-tetes manfaat.

Keluhan/rasa ingin mengeluh adalah tanda memanusiakan diri sendiri. Mungkin cara pengelolaan dan obyek yang dituju yang harus mengalami berbagai modifikasi, hingga sampai pada kesimpulan nyata bahwa mengeluh bukanlah pertanda lemahnya seorang manusia. Namun cara untuk memanusiakan dirinya.

Sepertinya saya mencitrakan diri sebagai seseorang yang lupa memanusiakan diri sendiri. Jika berkaca pada jangan mengeluh, mungkin ada kalimat yang harus melanjutkan seperti jangan mengeluh, kecuali pada Allah. 

Keluh kesah yang sejati dan paling berarti, di waktu-waktu yang terdekat denganNya. Semoga segala keluh menjadi peluh yang dapat dihitung, dan kesah adalah resah yang akan segera berganti, bersama roda waktu yang setia berputar tanpa henti.

Surga yang ia juga rindukan

Dia adalah dimensi lain dari galaksi. Dia kembali menyandarkan kepasrahan yang sama di 1/3 akhir malam pekat. Tempat berlari dan kembali dari panas dingin siklus pagi, dan dari malam yang mencengkram jiwanya.

Dia takut tertunduk pada dunia, pun tak berniat menundukkan dunia. Dia hanya ingin menggenggam dunia, agar tak dipasak kaki tangannya pada rutinitas yang membutakan. Dia hanya ingin mengutuhkan jiwanya, untuk senantiasa berjalan di titian sebagai budak yang lemah di hadapan penciptanya. Yang tunduk lisan dan hatinya dan yang lembut perangai dan geraknya.

Mungkin tak pantas jika perempuan ini merindu surga. Tapi tak pernah patah harapannya untuk dirindukan surga.

Atau

Mungkin ia sedang merindukan  kau (surganya). Di malam ini ketika lelah menyapa, dan kerinduan untuk membagi hari-harinya denganmu semakin tidak nyata.

Sekali lagi, ia sedang menghukum diri karena rasa kalah. Kalah pada perasaan yang tidak seharusnya ia urai. Kalah untuk tidak membawa perasaan pada kadar yang berlebih. Sejatinya jangan kau lupa bahwa dia adalah wanita.

Dan, sekali lagi ia sedang belajar bersabar.

Bersabar pada dirinya sendiri yang tak kunjung menjadi yang terbaik, di matamu

(ps: Semoga kotamu senantiasa bersikap ramah)

Makassar, 28 Februari 2017

Tanda Tanya

Di balik jendela, ada tumpukan surat-surat yang tak sempat kukirimkan. Kualamatkan pada kekecewaanku dan kekecewaanmu yang saling berpulang ke raga dan namun saling berpeluk dalam fikiran.

Tentang fikir yang tak bersambut oleh arah hati

segudang tanya, segubuk tanda

Kemana melabuhkan takdir yang terlihat tergesa-gesa menuliskan nama di pagar halaman? Hanya surat-surat yang bisa kukirimkan.

Keringnya rasa menyambut gelambir nafasmu yang tak lagi hangat. Jika seandainya, kau bisa belajar percaya doa. Disitu ada aku. Hidup dari kerontang udara, yang berkarat menatap nanar, setia menanti tanda selanjutnya. Tanda jika kau segera berpulang, sebelum tanda tanya dalam suratku sempat kau jawab

Aku bertanya, adakah tanda yang bisa kau baca, dari puluhan tanda tanyaku?

Makassar, 28 Februari 2017

Iin Fadhilah©

Sepi yang kau hibahkan

Jika tak lagi sampai, jejak yang kualamatkan pada sebuah tujuan.Maka tinggal pahit ini yang kunamai dendam. Seringkali sunyi menyelamatkanku. Dari bala tentara keramaian yang menggusarkan dan mengakhiri sepi yang kutunggu-tunggu.

Kau kutunggu. 

Andai sunyi bisa kujangkau dengan sesuka hati, mungkin hati ini bisa beristirahat, bersama sepi yang kau hibahkan

Selamanya. 

Iin Fadhilah

Makassar, 26 Februari 2017

Kekalahan yang engkau rayakan

Lagi, kita memilih titian yang berbeda dan saling menerka di penghujung. 

Setidaknya keduanya membaikkan, karena diantara hal yang baik dan tenang ada batas bernama pilihan.

Pilihan untuk tetap bersikap waras, dari kegilaanku tentang dirimu yang tidak sempat engkau pilih.

Lagi, harapan itu sangat rajin menyapa.

Meski terlampau jauh untuk memaksa, agar hati ini kuat berdamai dengan retak.

Pun saat ia berkenalan dengan kekelahan.

Kekalahan-kekalahan yang kau rayakan.

Iin Fadhilah

Makassar, 25 Februari 2017

Dimana ujung lelah ini?

Bagaimana jika hari ini kontrakmu dengan Tuhan sudah habis?

Setiap pagi, kalimat yang paling sering membangunkan seluruh molekul tubuh adalah kalimat pengandaian jika seandainya hari ini adalah hari terakhir Allah mengizinkan raga berpijak. Maka segenap sel-sel pun akan ikut terbangun, bertasbih, dan bekerja dalam batas maksimal bahkan kadang melampaui batas. Cukup sederhana untuk menghirupkan ruh produktivitas ke dalam raga. Hingga terkadang kateter intravena harus bersedia bersahabat jikalau raga memilih memboikot ruh produktivitas yang penuh semangat itu.

Lalu kapan belajar dan bekerja ini akan singgah pada sebuah ujung?

Jawabannya sederhana. Hingga liang lahat-mu telah tergali dimana kau disana bersandar selamanya. Mungkin itulah akhir dari belajar dan bekerja.

Menjaga semangat serta produktivitas adalah buah dari kesyukuran kepada Allah Swt. Kesyukuran tentang nikmat kesehatan, akal sehat, iman dan lingkungan yang beratmosfir positif. Memang kita tidak selalu berada dalam keadaan yang optimal dan nyaman untuk belajar dan bekerja. Namun ternyata selama kita percaya bahwa apapun yang terjadi hari itu adalah sebuah perencanaan dari sang Maha Penulis Skenario, mungkin kita sedang memenangkan penghargaan dari kerajaan langit tentang kesabaran dalam menghadapi proses kenaikan tingkat sebagai manusia yang berkembang dan mendewasa.

Tak ada yang tahu sepanjang apa perjalanan yang harus ditempuh. Kadang tulang belakang seperti membeku dan tak mampu lagi bergerak ketika bertemu dengan kenikmatan kasur, atau mata yang enggan terbuka karena lelahnya aktivitas. Namun, sedini mungkin mari jadikan seluruh perencanaan kita adalah bagian dari ibadah kepada-Nya, karena-Nya, oleh-Nya dan untuk-Nya. Dan segala yang terjadi diluar perencanaan kita adalah rencana dari Sang Maha Pembuat Perencana yang mendatangkan hal terbaik, untuk kita belajar dan bersabar sebagai proses memantaskan diri sebelum berkumpul bersama-Nya di kerajaan langit.

Dan tentu,

Agar tak ada lagi rasa khawatir jika habis masa berlaku kita berpijak di bumi-Nya. 

Iin Fadhilah ©

Makassar, 23 Februari 2017

Dear Al

Dear Al,

Sore ini gradasi langit senja terpantul di bilik matamu. Kulihat tatapanmu kosong, namun jelas kau sedang menikmati jingga itu. Maafkanlah jika kalimat spontanku mengusikmu.  “Jangan kau lihat langit itu”, tanyaku. “Mengapa?”, balasmu.

“Langit itu tinggi dan indah, namun ia sama sekali tidak ada. Kau tak mungkin menjangkaunya.”, kataku menghamburkan lamunanmu.

Dear Al,

Kau dan senja tidak akan bisa bersahabat. Langit selalu menunjukkan kesementaraan yang indah. Jika jingga begitu merona mengapa ia terlalu sebentar?, jika biru begitu anggun mengapa ia pun tak memiliki seluruh waktu?, dan jika hitam memang menakutkan lalu mengapa tuhan menebar bintang-bintang di antaranya?

Dear Al,

Bisa kau jawab pertanyaanku? Kau boleh mencintai senja, namun sejatinya itu menyakitimu. Seiring tergelincirnya matahari, maka tenggelam pula rasa bahagiamu. Aku tak sedang mengajarimu mencintai biru langit, karena toh ia hanya pantulan dan sisa-sisa ketidakmampuan cahaya menembus atmosfir. Pun aku tak sedang menuntunmu untuk mencintai gelap malam, walaupun ia berbintang, kupastikan esok pagi kau kan merasa sedih karna langit subuh mulai menyamarkan cahayanya.

Dear Al,

Sore ini aku berbohong padamu, bahwa langit itu tidak ada. Aku ingin menghukum jiwamu yang hanya mencintai senja. Jika seandainya senja, biru langit dan gelap malam hanya kebohongan, masihkah kau percaya jika langit itu ada? Iya. Sesuai dugaanmu.

Dear Al,

Senja, biru langit, dan gelap malam hanyalah pantulan. Jika biru langit diibaratkan kebahagiaan dan gelap malam diibaratkan kesedihan, maka Senja adalah segala rasa yang kau peluk di dalam hatimu. Lihatlah mereka berputar pada poros dan porsi yang sama.

Dear Al, taukah kau siapa  pemilik warna itu? Betul, pemiliknya adalah Langit. Langit yang telah Tuhan titipkan di hatimu. Langit yang menjadi ruang tanpa batas untuk bersabar menunggunya. Langit yang tak memiliki tiang namun tak bisa roboh sekencang apapun angin bertiup. Langit yang secara sederhana harus kau ketuk di 1/3 malam agar seluruh tentara langit datang membolak-balik hatinya untuk datang menuju dirimu. 

Makassar, 23 Januari 2017