Pulanglah

Adakah langkah jejak itu
Terkulai meninggalkan jejas pilu
Yang kau berikan dengan tatap sembilu
Adalah caramu memujaku yang menunggu?

Kutahu ragamu tidak tercipta oleh baja
Ataupun dalam darahmu bukanlah titisan raja
Tapi apa daya
Perempuan ini hanya ingin merekah senja
Tak lain denganmu saja

Pulanglah
Kemana rindu sejatinya harus kau letakkan
Mungkin di tangan Tuhan
Agar kita tidak kepayahan

Dalam merapal rindu yang tidak berkesudahan

Makassar, 28 November 2018

Adjustment

We all might have some moments of resilience. I would mention it as a ‘pause’ in German terms. Looking back on how far I have gone. The current issue that keep echoing in my head remind the same. About which one is actually my fundamental purpose. Happiness or usefulness. What do you think? and how to stop your own mind producing any ideas on both issue?

Over and over, I chose to be neutral. It ain’t wrong to say that both of them are true. And there will always ways to attain them perhaps. Adjusting my life wouldn’t be such hard If I didn’t be too quirky about how life should be planned and how to keep them purposeful yet enjoyable. I have choosen medicine as my way of life. I wish could keep them into right purpose instead of thinking when will the retirement days come or ways to end this stressful life.

I have loved medicine since the day one

Even if I’d proudly say that I am currently living my dream (since I have worked so hard in the past schooldays to fulfill the GPA required). I am a bit reluctant in empowering myself not to make any mistake.

Yesterday, I had patient BP 80 per palpation. I was a bit shock that his body’s edema getting worse. The norephinephrin and dobutamin has done their best, and the team kept on finding the way for patient’s best. I was a bit panic by making sure the dosage infused throught syringe pump was right. Then after some moments, 15 minutes later, the team found the mistake was in the plug, the plug was in the wrong position.

I could feel that eureka moment, on how simple thing could give a real impact. A simple plug missposition would suddenly lowering blood pressure, one of a very important vital sign. Well, the patient’s condition was normal because in a brief time the BP rose to the target range. It was such relieve!

By the end, I realized that usefulness will be followed by happiness. Usefulness of giving your best in taking care of a soul is followed by a true happiness coming from elsewhere. It was a magnificent feeling yet addictive!

I can’t wait to go to another night shifts. More new cases to learn yet more happiness coming by. Despite of how exhausted the post night shift would be. At least, I could prove a simple usefulness-happiness way of living as a lifelong learner.

Your junior doctor in training,

Iin Fadhilah

Elegi Dokter Muda

Pagi itu saya terbangun sangat pagi, saya terbangun dengan perasaan yang tidak sama seperti biasanya. Rasanya seperti ada tumpukan bunga-bunga bermekaran di dada (eits bukan jatuh cinta loh wkwk). Hanya saja hari itu 18 januari 2018, satu beban telah enyah untuk beberapa saat. Dan saya mengizinkan jiwa saya untuk merayakan hari tersebut. Ya, mereka menyebutnya hari yudisium. Sejenak memberi sedikit ruang bagi jiwa saya untuk bergembira mengabadikan moment dengan teman-teman, tertawa dan menandai hari itu sebagai simbol kebebasan sesaat.42BE2E6A-EC98-4274-A271-FB9A03EC1938.jpeg

Sejatinya saya tidak mengerti makna dari simbol bunga yang diberikan di pemakaman. Mungkin tidak jauh berbeda dengan memberikan bunga di hari yudisium sejawat. Baru 6 bulan sejak menjalani kepaniteraan akhirnya saya menyadari satu hal, bahwa  6 bulan lalu tersebut saya tidak sedang merayakan perpindahan jejak dari preklinik ke klinik. Namun, menutup satu persatu pintu untuk menuju jalan kebebasan menjalani hari-hari saya sebagai anak sekolah biasa (baca: manusia biasa).

“Di hari itu, saya telah menghibahkan diri saya untuk kemanusiaan. Berjanji setia untuk memberikan yang terbaik kepada mereka yang tidak saya kenal, di atas keluarga dan kepentingan pribadi saya”

Sayangnya, baru 6  bulan saya menyadari bahwa saya bukan anak sekolah biasa lagi.  I thought it’s not going to be so different. The same pressure, the same knowledge, the same teachers. Saya hanya meyakini bahwa fasilitasnya saja yang berbeda. Jika di preklinik semua serba manekin, ya di klinik semua adalah manusia. Sesimpel itu dan se-tidak spesial itu. Karena semua ujung-ujungnya akan berorientasi pada hasil ujian akhir, yaitu UKMPPD.

Seorang dosen yang saya sangat kagumi menghabiskan satu senja dengan kami dokter muda. Beliau memang tergolong masih muda di kalangan konsulen, namun saya tidak percaya bahwa semua kata-kata yang beliau lontarkan berjatuhan seperti emas berlian serta tamparan untuk diri saya sendiri.

Kalian sudah harus percaya diri, kalian harus berani membuat planning dan memasang target untuk pasien. Jangan cuma tensi-tensi saja!

Oh crap! tidak seharusnya saya sibuk memikirkan apa yang salah dari sistem pendidikan kedokteran di Indonesia. Mungkin kesalahan ada pada saya sendiri. Kesalahan dalam melihat diri saya sendiri masih sebagai ‘kuli ilmu’, bukan doctor in training seperti yang sistem pendidikan harapkan. Kesalahan kecil seperti membawa buku di bangsal (well, it’s not wrong but better not to). While ternyata semua pasien adalah “textbook” yang sejatinya wajib kita hatamkan.

Medical science is too wide to be trueThere are plenty of things you should memorisethousands of guidelines that updated annually yang kadang bikin bete karena terapi yang berubah. And that’s how medical works and that’s why you called a long life learner, simply due to the tsunami of new inventions, publications and theories found. Dan sebaik-baiknya ilmu adalah yang memberi kebermanfaatan until kemanusiaan.

Plak! Saya seakan berubah menjadi filsuf, bahwa kesalahan sebelumnya adalah tidak serta merta menghembuskan ruh percaya diri bahwa saya tidak sedang “coba-coba”. Oh ya, salah satu ketakutan untuk exploring more to our patients adalah we are afraid of rejection. Kadang ada rasa tidak enak jika pasien menganggap bahwa mereka adalah objek coba-coba kami. Hell no! we are not going to harm anyone. Tapi menurut saya, itu adalah sifat dasar manusia untuk cenderung menghindar dari hal-hal yang berpotensi merugikan.

Senja itu sudah cukup memasukkan ruh keyakinan, keteguhan hati dan tentunya rasa percaya diri. I’m going to give my fullest power as junior doctor in training, not as an ordinary medical student anymore (something that I should realise earlier). And yes, the hippocratic oath has been taken, there is no way back anymore, so just keep moving forward 🙂 

(I’m going to share all the stories through my rotation in clinical clerkship as junior doctor. I’m so excited to hear the feedback from you, feel free to write in comments below.)

Cheers,

Iin Fadhilah

 

 

Pada damai yang memanggil

Lembaran ini kembali berdebu. Bukan karena saya tidak mampu mencumbui literasi. Ujung-ujung jari masih sama tergelitik untuk bercerita tentang nelangsa yang dimangsa oleh alam pikiran saya pada minggu-minggu terakhir ini.

Damai. Salah satu dari banyak kesalahan dalam mengartikan damai adalah ketika saya menyamaartikan damai sebagai bentuk sunyi dan senyap. Beberapa sahabat memilih untuk berteman sunyi ketika mereka sedang mencari ‘damai’ yang dimaksud. Bahkan saya sendiri, memilih membatasi bertatap layar dengan smartphone yang rasa-rasanya membuat saya tidak menjadi smart sama sekali dengan keputusan ini. Menebang satu demi satu sosial media yang sekiranya merenggut waktu untuk berliterasi.

Boleh jadi kamu terjerembab dalam hiruk-pikuk keramaian, namun tak sedikitpun gelisah yang menyambangi. Ataupun sebaliknya, kau berada dalam ruangan yang tenang dan menurutmu mendamaikan, namun kau tidak sedang ditemani oleh damai itu sendiri.

Bukankah kedamaian, ketenangan itu milikmu?

Ah tidak. Semoga saya tidak sedang berpura-pura lupa bahwa ternyata ‘rasa damai’ itu hanya milik Tuhan. Kita hanya diizinkan meminjam, hanya jika kita menunjukkan kesungguhan.

Perasaan, pikiran dan perhatian adalah kawan yang tak bisa terpisahkan. Ia hadir pada setiap nadir untuk mengenal seberapa dalam sebuah jiwa berkeinginan menjiwai kita. Betul bukan? Jika salah satunya tidak ada, mungkin kau perlu menelisik lebih jauh apakah ada kepura-puraan yang sedang ia mainkan.

Sejatinya, tak ada yang dapat kita berikan untuk ketiganya. Selain meminjam namanya di dalam doa. Agar kelak kecewa tidak lagi menjadi kawan setia. Sebab pengharapan pada manusia adalah seburuk-buruknya harapan. Jangan bergantung, sesekali atau dua kali.

Hadirkan saja do’a yang sama. Penduduk langit tak pandai mengkhianati janji, cukupkan saja kehadiranNya. Pertanyaan yang sama kudengungkan, kapan raga ini bertemu pada titik terdamainya. Ah, wahai diri yang apati. Sudah lupakah bahwa Tuhan hadir di sepertiga malam menanti kisahmu?

Rindangkan saja hati ini, jauhkan dari kecemasan untuk esok yang tidak pasti.

Bahkan ketika aku tak menjamin sanggup tidak mengkhianati, Dia berulang-ulang mengulang sumpah bahwa tak kan pernah  jauhdari urat dan nadimu.

Perempuan yang kau sebut

Aku mendengar
Ia telah menisankan ambisi
di atas petak-petak tanah,
Jauh sebelum kau menyebut namanya

ia menutup tirai rapat-rapat,
tanpa celah,
namun
selongsong cahaya terburu-buru menyerbu
tersambut oleh binar matanya

Perempuan itu membakarnya tak bersisa
menjadi debu, di atas sembilu

walau tak lagi sebentar,
namamu kudengar hadir di sudut bibirnya
sembari menghadiahkan sebagian,
hingga seluruh patahan hidupnya,

dari perempuan
yang kau sebut namanya,
kelak di hadapan,
ayahnya

Makassar, 26 Mei 2017

Obituari Jarak

Petang ini tidak lekas berpulang
Sedangkan ingatan semakin pandai merapal namamu
Katamu,
kau sedang singgah, sebentar saja
agar jenuhku belajar membunuh dirinya
 
selalu bertengger harapan
darimu yang menjanjikan genggaman
apakah kelak abadi dalam sangkar
atau menjadi misteri yang tak berakar

lagi lagi kau datang,
menghadiahkan gurauan
agar aku belajar tentang jarak,
di waktu
tulangku dipatahkan usia

pun
aku bersedia menunggu
lebih lama

Makassar, 25 Mei 2017

Unhas Finalis Mahasiswa Berprestasi 2017

MAKASSAR,UPEKS.Co.id—Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional tahun 2017  memasuki babak baru. Panitia mengumumkan 17 finalis dari 143 mahasiswa berprestasi dari  berbagai PTN dan Kopertis.

Iin Fadhilah Utami , mahasiswi angkatan 2014 Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran  Unhas, adalah salah satu diantaranya.

Pilmapres merupakan ajang pemilihan prestisius. Mahasiswa berprestasi diseleksi dari tingkat paling  bawah, yaitu Program Studi, fakultas, dan universitas.

Untuk Perguruan Tinggi Negeri, calon terbaik dari setiap universitas langsung diseleksi ke tingkat  nasional.

Sementara untuk PTN/PTS. Calon terbaik dari setiap universitas dikirim terlebih dahulu ke  Kopertis untuk diseleksi sesuai jumlah kuota.

Kopertis Wil. IX Sulawesi memiliki kuota maksimal 7 peserta terbaik yang akan dikirim untuk  berkompetisi di tingkat nasional.

Kegiatan yang dikoordinasikan langsung Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan  (Belmawa) Kemristekdikti ini bertujuan memotivasi prestasi mahasiswa dan menumbuhkan budaya  akademik yang lebih baik.

Proses pemilihan ini juga diharapkan dapat menjadi sistem pembinaan prestasi di perguruan tinggi.

Capaian ini merupakan kabar menggembirakan bagi sivitas akademika Unhas. Setelah beberapa  tahun vakum, akhirnya Unhas kembali dapat menunjukkan prestasi nasional.

Direktur Minat, Bakat, Penalaran, dan Informasi Kemahasiswaan Unhas, Prof. Dr. Supratman, S.Hut,  MP mengatakan, dalam beberapa tahun ini, Unhas fokuskan mengembangkan prestasi  kemahasiswaan di level nasional maupun internasional.

“Kita sangat berbangga dengan capaian ini. Rasanya, terbayar semua lelah dan upaya yang telah  dilakukan berkat arahan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan,” kata Prof. Supratman.

Pilmapres 2017 memiliki 5 komponen penilaian, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), Karya Tulis Ilmiah,  prestasi/kemampuan yang diunggulkan, kemampuan bahasa Inggris, dan kepribadian.

“Dari seluruh komponen tersebut, fokus terbesar adalah dalam bidang karya tulis ilmiah. Mahasiswa  menyusun paper, mempresentasikan, dan mempertahankannya dihadapan panel yang dibentuk di  tingkat nasional,” Prof. Supratman menjelaskan.

Iin Fadhilah Utami  menyusun karya tulis berjudul: “Antiseptik Hidung Sebagai Inovasi  Pencegahan Infeksi Pernapasan di Indonesia”.

Topik ini dia pilih didasari fakta, infeksi pernapasan merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi  di seluruh dunia. Iin menawarkan inovasi pencegahan penyakit ini dengan “nose sanitizer”.

Iin tahap persiapan intensif untuk menghadapi penilaian tahap akhir yang akan berlangsung 11 – 13  Juli 2017. Penganugerahan Mahasiswa Berprestasi 13 Juli 2017. (Penulis: Rasak)