Dari Zenius ke ‘Scalpel, please!’

Belajar?
Sejak 25 Agustus 2014, kurang lebih 5 tahun yang lalu saya menjatuhkan dan dijatuhi pilihan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Menjadi salah satu yang paling beruntung untuk bisa menjadi masa depan dan dicanangkan akan berdiri di garda terdepan untuk pelayanan kesehatan bangsa ini.

Sejak hari itu pula, label “long-life learner” melekat di jiwa dan raga. Bahwasanya, saya akan tetap belajar selama saya masih hidup atau belum mati (mati klinis, mati biologis ataupun mati batang otak). Menjadi dokter bukanlah kemauan orang tua saya seutuhnya (asian parent stereotype). Melainkan doktrin seorang artis idola yang ternyata tak pernah hidup dan tak pernah mati (mati klinis, mati biologis maupun mati batang otak), tak lain dan tak bukan adalah SUSAN. Iya S-U-S-A-N.

“Susan, susan, susan besok gede mau jadi apa?”
Dan Susan menjawab, “Aku kepingin pinter, biar jadi dokter”

Setelah dipikir-pikir, kesalahan saya di masa lampau ada dua: pertama adalah meyakini sosok Susan sebagai manusia sama seperti saya dan yang kedua adalah meyakini bahwa menjadi dokter adalah suatu cara agar menjadi pinter. Sebuah kesalahan berpikir di usia dini, namun tidak saya sesali hingga hari ini.

Menapaki tahun ke-6 menjalani kuliah kedokteran, saya semakin menyadari betapa panjang perjalanan belajar seumur hidup ini. Betapa banyak hal yang belum saya ketahui dan betapa penting rasa ingin tahu untuk saya pupuk tiap hari.

Dan saya teringat satu hal yang membekas sangat dalam dan tersimpan rapih di hippocampus otak saya.

Kurang lebih 6 tahun yang lalu saya hanya pelajar biasa dengan tekad yang boleh dikatakan tidak biasa. Mungkin “law of attraction” tekad itu yang sekiranya mempertemukan saya dan Zenius dalam sebuah persimpangan saat sedang ketar ketirnya mengetik “SOAL PREDIKSI UJIAN NASIONAL” di laman pencarian Google.

Lahir gak pinter-pinter amat itu bukan salah saya (saya nggak bisa menyalahkan siapa-siapa). Namun mati dalam keadaan tidak bermanfaat, itu murni akan menjadi tanggung jawab saya. Prinsip itu kuat menghunjam di dada, menjadi bahan bakar api anti padam pada waktu itu. Namun saya tetap harus realistis, bahwa tekad saja tidak cukup. Harus ada usaha yang nyata, ikhtiar dan doa yang tidak berbatas.

Tekad besarlah yang menggerakkan seluruh indera saya. Bukan main, bereder informasi tak bertuan bahwa ‘kursi’ yang akan saya duduki ternyata akan diperebutkan oleh ribuan pelajar yang lain, yang bahkan bisa merebut calon ‘kursi’ saya dengan cara yang tidak halal. Namun saya yakin bahwa “BELAJAR” adalah koentji. Dan saat itu, saya menggenggam Zenius sebagai salah satu ikhtiar tanpa putus yang saya kenal.

Waktu itu, saya mendiagnosis dua hal. Pertama, gaya belajar saya adalah audiovisual dan kinetik, dimana saya harus mendengar, melihat dan juga menulis (melakukan aktivitas) agar bisa meresapkan konsep dasar. Kedua, saya cukup kurang di bidang Kimia dan Biologi sehingga saya harus melipatgandakan usaha saya di kedua bidang tersebut. Dan saat itu, Zenius hadir seperti oase di tengah gurun pasir saat saya benar-benar kehausan dan membutuhkan penjelasan yang cerdas dan sistematis.

Kurang lebih 4 bulan saya bergulat bersama tumpukan materi, pembahasan soal-soal online dan soal-soal prediksi dari Zenius. Mungkin kepuasan memecahkan paket soal Zenius mampu memberikan tsunami Dopamine, Serotonin dan Endorfin dalam otak saya (neurotransmitter yang berperan saat jatuh cinta). Ada kebahagiaan tersendiri, yang ternyata membekas di hati namun sulit diurai dengan kata-kata.

Berpura-puralah rajin belajar, sampai kamu lupa bahwa kamu sedang berpura-pura

Iin Fadhilah

Alhasil, pendek cerita, nilai ujian saya keluar sebagai tertinggi ke-5 se-provinsi. KAGET?! IYA KAGET! SHOCK? IYA (SHOCK AMA KAGET SAMA AJA MAEMUNAH). Nilai Ujian Akhir itu yang kemudian mengantarkan saya menduduki kursi panas yang selama ini saya idamkan (dan jugo artis idola saya Susan cita-citakan).

Menjelang akhir dari masa studi profesi dokter umum saya menyadari suatu hal. Menjadi dokter itu pilihan saya. Menjadi salah satu murid online dari Zenius Education pun juga pilihan saya. Hidup ini adalah tentang bertanggung jawab dari pilihan-pilihan tersebut. Tak lupa, pilihan itu adalah pilihan-Nya. Dan tentu saya bersyukur dan berterima kasih kepada seluruh sub-sub avengers yang membawa saya ke titik mencintai ilmu pengetahuan.

Tulisan ini hanyalah cara agar Bang Sabda dan seluruh tim Zenius Education dapat mendengar ucapan terima kasih saya. Terima kasih atas konsep dasar yang tertanam erat yang membuat saya keranjingan, kehausan, kecanduan untuk memecahkan soal-soal pada masa itu.

Terima kasi telah menjadi salah satu penguat dalam menanamkan rasa cinta pada ilmu pengetahuan, rasa gerah pada ketidaktahuan dan mengakarkan cara berpikir dan bernalar yang benar.

Bersama-sama kita menjaga bangsa ini, mencerdaskan dan menyehatkan.

Selamat untuk konsistensi mencerdaskan bangsa ini, bang Sabda dan kawan-kawan. Semoga cita-cita saya menyehatkan bangsa akan terhitung dalam amalan jariyah guru-guru saya mulai TK hingga PTN dan tentunya untuk Zenius Education. Bravo Zenius!

#ZeniusForTheLoveOfLearning

Advertisements

Secangkir resah

Jika ada yang lebih naif dari sekedar ucapan selamat tinggal? Mungkin bukan lagi tentang sendu, melainkan rasa terbiasa untuk mengasah rasa yang tumpul.

Kadang cinta bisa kehilangan taringnya, namun sekali lagi bukan urusanmu, terlebih bukan urusanku. Selamat berpulang ke tempat sebaik-baiknya kau memusatkan rasa, bahkan ketika yang abadi adalah rasa sakit. Kita mampu untuk sembuh sendiri.

Review: Good vibes, Good life

Good vibes dan good life karya Vex King adalah salah satu buku self-help yang says rekomendasikan bagi kalian yang sedang striving dengan mental health. Terbagi dalam 7 bab dan 272 halaman, buku ini cukup ringan untuk dibaca dan super to the point. Saya menyelesaikan buku ini di seal-sela jaga malam saat stase bedah onkologi. Dan outcomenya? Saya lebih nggak baperan dan bisa mentransformasikan negative vibe to positive vibe. Alhamdulillah 😀

Well, sebelum membahas part yang paling saya sukai di buku ini. Saya ingin menjelaskan kenapa akhir-akhir ini saya keranjingan baca buku dengan genre self-help, self-love, self-care hahah!.

Jadi gini, sebagai dokter muda a.k.a. masih dalam satu rentetan sekolah kedokteran yang extra panjang, apalagi menjelang tahun ke-6 ini. Kadang-kadang saya merasa mentally and physically drained dengan kehidupan di rumah sakit. Not to mention that sangat mudah bertemu orang-orang dengan negative vibe di lingkungan saya. Karena memang namanya aja “rumah sakit” pasti hampir seluruh komponen memiliki stressornya masing-masing, mulai dari pasien, koas, residen, perawat, dan tenaga medis lainnya.

Vex King mengingatkan kita dalam 7 part dengan sangat gamblang tentang bagaimana self-love adalah the way to unlocking your greatness.

Self-love is the balance between accepting yourself as you are while knowing you deserve better, and then working towards it.

Part one: A matter of Vibes
Law of Vibration is a key of the greater life.

Sejak di bangku sekolah kita sudah diperkenalkan bahwa segala hal yang ada di bumi ini adalah hasil dari getaran (re: vibration) dari atom. Semesta sendiri adalah bentuk vibration dari zat dan energi. Michal MacLean dalam buku The Vibrational Universe menuliskan thought and feeling juga merupakan bentuk dari vibration yang akrab disingkat dengan vibe.

Emotion is one of the most powerful vibrations you can control. All we need adalah vibrating higher! Vibration yang kita berikan akan selalu menarik vibration yang se-frekuensi. So, if you send out feelings of joy, then you’ll be given more things to feel joyful about. Dan ternyata emosi kita adalah sesuatu yang dapat kita kontrol. Hal ini akan saya bahas lebih dalam di review “Filosofi Teras” karya Henri Manampiring. But, to make it simple berikut kutipan dari Vex King yang worth to read buat teman-teman:

“Once you are in vibrational resonance with something, you begin to attract it into you reality. The best way to identify what frequency you’re on is through your emotions, your emotions show a true reflection of your energy

“If we pay attention to our emotions, we can see the true nature of our vibration and therefore we’re attracting into our life. If we feel good, we’ll think good thoughts, and as a result we’ll take positive actions.

Good vibes are simply higher states of vibration

To receive good vibes we must project good vibes

Vex King, Good life, Good Vibes

When you feel good, your life also appears to be good. If you could continuously experience good vibes, you’d always view your life in a positive light.

Higher states of vibration will help you feel good, which means you can manifest more good things in your life

Surround yourself with people who are vibes’ higher than you. Be around people who are feeling better than you are. Energy is contagious.

What you consume, consume you; what consumes you, consumes your life. (Banyak-banyak makan sehat dan minus air guys!)

The more you count your blessings, the more blessings you’ll have to count.

Ignoring negative emotions is like keeping poison in your system. Learn to understand everything that you feel. The aim isn’t to force positive thoughts, but to transform the negative ones into something healthier, so you can feel better.

Its not selfish or a sign of weakness to distance yourself or walk away from those who constantly bring down your vibe. Life is about balance. Its about spreading kindness, but it’s also about not letting anyone take that kindness away from you.

Always review your behaviors and make an effort to change any that are toxic-towards yourself or others. This isn’t only how you grow, it’s also an act of self-love. You’re showing yourself that you deserve better than the behaviors limiting your progress.

Simplify your circle of friends. Keep those who add value to your life; removes who don’t. Less is always more when your less means more.

Not everyone is going to get you, accept you or even try to understand you. Some people will just not receive your energy well. Make peace with that and keep moving towards your joy.

Nobody can hurt me without my permission

Mahatma Gandi

Some negative people are allergic to positivity. Be so positive that they can’t stand being near you.

You won’t be important to other people all the time, and that’s why you have to be important to yourself. Learn to enjoy your own company. Take care of yourself. Encourage self-talk and become your own support system. Your needs matters so start meeting them yourself. DON’T RELY ON OTHERS.

The size of your jeans doesn’t define you
The color and shade of your skin doesn’t define you
The number on the scales doesn’t define you
Those marks on your face doesn’t define you
Those expectations don’t define you
Those opinions don’t define you

Ignore what everyone else is doing. Your life is not about everyone else; it’s about you. Instead of focusing on their path, pay attention to your own. That’s where your journey is taking place.

If you can’t change a situation, change your perception about it. That’s where your personal power is. Either be controlled-or be in control.

Your goal isn’t to get rid of negative thoughts; it’s to change your response to them.

We are what we repeatedly do. Excellence then, is not an act, but a habit

Aristotele

The difference between ordinary and extraordinary is simple: extraordinary people will get things done even when they don’t feel like it, because they’re fully committed to their goals.

Embrace good vibes and learn to let things flow. There is no need to force outcomes. Once you are in harmony within the universe, what’s meant to be yours will come to you.

Life doesn’t battle you because you’re weak, it battles you because you’re strong. It knows that if it gives you pain, you’ll realize your power.

Life will test you just before it will bless you

Here’s some gifts for you guys! Makasih udah singgah di halaman berdebu saya. Semoga bermanfaat, semoga kalian senantiasa VIBRATING HIGHER and SPREADING GOOD VIBES TO YOUR SURROUNDINGS. Sorry caps lock soalnya pending banget ini bwakakakak. Leave some comments, let’s share some positivity online and offline. Thank you

Iin Fadhilah
21/7/2019 at Cafe District 7 20:30 WITA

Leana Zhivara (1)

Rasanya ingin mendengar sekali lagi. Alasan yang tak ingin kudengarkan. Sore itu, ketika menarik nafas di antara hati yang sudah tidak menemui bentuk. Remuk.

Sore itu, setelah menunggu pesan singkatmu sejak malam sabtu. Tak ada yang amunisi asumsi yang mampu kukeluarkan. Seperti menemui jalan buntu. Segala gerakanmu dalam sekian waktu berbalik akut dan tidak bisa dipungkiri sangat menggangguku.

“Sebentar, beri waktu. Akan kujelaskan semua padamu”, pesan terakhir yang tertulis. Membuat hati berdesir di atas tumpukan tanya. Mengapa!

Seperti biasa, aku merasa sudah biasa dengan ketiba-tibaan. Dan bagiku, sebagian hidup ini adalah untuk menerima ketiba-ketibaan. Sambil menganggap semua hal itu tidak akan mengagetkanku. Justru hendaknya membawaku pada keharusan untuk mencari hikmah.

Bahkan sering kuceritakan. Laki-laki baik ini tidak semestinya membuatku menunggu jawaban terlalu lama. Tidak semestinya menghukumku dalam pusaran ketidaktahuan. Menjebakku dalam kebingungan yang menjadi rencananya.

Dia pasti mengerti, dia semesta yang dikirimkan semesta untuk mengatakan:

“Hey! Aku tahu bagaimana kau merasakan dan memikirkan. Sini, biar kutemani dalam ketidaktahuan tentang dirimu sendiri”.

Tentu tidak. Andai dia memahami, bahwa memahamiku adalah harta karun yang selama ini kucari. Pun dia tak kan menghilang seperti ini. Walau dengan kalimat penutup yang sangat terdengar bertanggung jawab.

“Ting-ting”, sebuah pesan Whatsapp masuk. Itu dari dia.

Pandanganku buram, pesannya panjang, terlalu panjang. Aku tak mampu membacanya malam itu. Kumatikan handphone. Mulai menatap langit-langit kamar yang mencoba menenangkanku bahwa ini akan baik-baik saja.

Sepertinya pesan itu bernada perpisahan, dan tidak mampu kubaca. Takut. Bukan. Namun, kenyataan haruslah setimpal dengan makna yang harus kudapatkan. Jika kubaca sekarang pesan ini, mungkin dan pasti jantungku sobek seketika.

“Aku harus tenang dulu”, gumamku meyakinkan hati.

(bersambung)

Breaking bad news: sebuah pelajaran

Breaking bad news adalah salah satu skill yang sedang saya coba latih dan pelajari. Beruntungnya seorang senior sangat bijak memberi saya ruang untuk belajar hal tersebut. Beberapa hari yang lalu saat saya terbangun di suatu subuh, seorang teman sejawat sedang terburu-buru membuka bungkusan handscoen. Sebagai simbol kepekaan, saya mendekat dan bertanya untuk apa gerangan. Rupanya pasien yang sedang ia pantau tanda vitalnya sedang mengalami penurunan tekanan darah bahkan nadinya mulai melemah.

Dengan sigap saya juga segera mengambil Alat Pelindung Diri (APD) kemudian bahu membahu bersama teman saya sesama dokter muda dan perawat yang bertugas. Saat tiba giliran, saya berusaha untuk memperbaiki posisi, memberikan tekanan dan kecepatan secara maksimal sesuai dengan panduan Push Hard, Push Fast dimana dalam 1 menit saya harus menghasilkan 100 kali pompa di jantung pasien tersebut.

Dalam sekejap saya yang tadi berjalan sempoyongan baru terbangun (saat itu pukul 04.00 dini hari) langsung menjadi awas dengan kesadaran penuh. Pikiran saya seakan menembus dinding dada bapak tersebut, saya memvisualisasikan jantungnya yang berhenti berdetak. Tangan saya perlahan meraba dan memastikan titik yang harus saya tekan dengan tangan kiri di atas tangan kanan. Bismillahirrahmanirrahim, saya memulai resusitasi jantung pagi itu dengan tekanan yang sangat mantap dan mata yang tajam lurus menatap monitor. Perasaan penuh cemas, semoga usaha ini mampu memberi harapan untuk keluarganya yang sudah menangis meraung sedari tadi.

Pikiran dan perasaan saya berdesir. Segala macam cara telah dilakukan. Hingga tiba waktunya untuk memberi kabar terakhir pada keluarga pasien bahwa,

‘Maaf bu. Kami telah melakukan yang terbaik’

Sebuah kalimat pendek dan sederhana, namun sulit untuk mengungkapkan. Suatu masa dimana kita berusaha menahan air mata, ketika orang-orang disekeliling telah banjir air mata. Suatu masa dimana lisan kita telah diakui secara hukum untuk secara sah menyampaikan kepada keluarga pasien bahwa orang yang mereka cintai telah kembali ke pelukan sang Maha Mencintai.

Tentu tidak akan pernah mudah.

Dan sampai detik ini saya masih terus berusaha belajar untuk bisa memampukan jiwa dan raga dalam menyampaikan kabar tersulit yang siapapun tidak ingin mendengarnya.

#Day7

Kau dan waktu

Kau dimiliki waktu
Saat diantara kita ada sekat yang semu
Mungkin hari ini akan jauh lebih biru, tanpamu

Boleh kutuangkan rasa cemburu
Pada waktu,
Yang senantiasa menyembunyikanmu
Pada waktu,
Yang belum mengizinkanmu pulang sore itu

Kelak perjumpaan kita tidaklah sama
Aku dan cerita nelangsaku
Telah kuhamparkan di atas semesta
Yang tidak terburu-buru berucap rindu

Walau akhirnya
Waktu akan menghadiahkan kita
dirinya sendiri
dan tak lain,

dirimu, hanya dirimu saja

Makassar, 16 Desember 2018

#Day6

Jas Putih 2

Tak terasa jas putih milik saya sudah mulai menguning. Mungkin karena terlalu sering dipakai tidur di sembarang tempat jika sedang jaga malam. Sudah setahun saya diberi kesempatan oleh Allah SWT. merasakan secara dalam tentang arti dari sebuah kehidupan serta arti dari sebuah kesehatan itu sendiri.

Tapi setelah setahun bersama rasa lelah yang bertubi-tubi menghantam tiap harinya. Rasa lelah yang tidak bisa membuat kita berfikir lebih jernih, bahkan tersenyum lebih lebar untuk menatap matahari. Sejatinya, rasa lelah ini haruslah dinikmati. Meskipun esok hari jelas tidak akan lebih mudah dari hari ini.

Satu hal saya menyadari makna dari sebuah pepatah umum yang berkata “Hidup ini bukan tentang menunggu badai selesai, namun tentang bagaimana menari dibawah hujan”. Saya baru mengerti setelah termenung beberapa hari, bahwa memang saya tidak punya pilihan lain. 5 tahun sudah terlewati dengan badai yang tidak mudah. Masih ada 10 tahun kedepan untuk badai badai selanjutnya. Namun apakah saya harus menggerutu menunggu badai ini selesai? Tentu tidak.

Saya lebih menyadari bahwa meskipun di tengah remuknya badan setelah jaga malam. Saya menyadari bahwa perjalanan ini sangat indah untuk dinikmati. Maka dari itu, saya memilih tetap menulis, seletih apapun hari yang terlewati. Karena menulis adalah bagian dari menari itu sendiri. Karena menanti badai ini berhenti adalah bagian dari kemustahilan.

#Day5