Sepasang ayat lepas

Pada akhirnya, rasa harus memilih untuk bertekuk lutut pada logika atau membiarkan dirinya mendosa. Pilihan yang baik tetap menjadi milikmu yang segenap terperanjat oleh rayuan akal sehat. Kau mampu mendengar suara dari dalam dirimu,  menggemakan rahasia-rahasia yang terselip di kolom langit, untukmu agar tidak kau jejali langkah yang berulang melukai.

Akan menjadi  begitu lucu bila kau terperosot ke dalam lintasan yang kau buat sendiri. Lintasan yang kau sebut sebagai jebakan pikiran. Jebakan yang kau ciptakan untuk menjagamu dari marabahaya, yang akhirnya membuatmu tersesat di dalamnya. Melangkah maju ataupun mundur mungkin tidak akan menyelesaikan masalah. Kecuali berdiam. Sambil menunggu suara dari dalam jiwa mu.

Mengapa bisa kudengar dan tak bisa kau dengar?

Kita hanyalah sepasang ayat-ayat lepas yang bertaburan mengisi kekosongan tanah ini. Hanya kebetulan jika tak kau singgahi kesedihan, karena landasan tempat kita dihempaskan bahkan lebih tajam dari baru kerikil sekalipun. Rasa sakit adalah sebuah kepastian yang absolut, yang bisa kau tunda kapan datangnya. Namun tak bisa kau hapuskan adanya.

Kita hanyalah sepotong roti yang tercabik-cabik mengisi lambung merpati-merpati jinak di alun-alun kota. Tak perlu selalu berkeinginan menjadi satu. Pula tak perlu kau pedulikan arah pulangnya. Ia akan kembali di tempat yang sama dan hanya berputar mengikuti arah angin. Lalu? Kita bermetamorfosa menjadi bentuk yang tak lagi diinginkan. Dilupakan.

Kita hanyalah segulung tissue. Yang mungkin berotasi pada titik yang sama, namun jelas tak menyisakan apapun di akhir perjalanan. Hanya karton lepek yang siap dibuang. Dienyahkan.

Bagiku, tak semua kenangan harus didaur ulang. Bernostalgia tidak akan membayar segalanya, pun jika itu inginmu atau inginku. Ketegasan kuhadirkan  untuk membentengi kemungkinan kejam dari  bilah-bilah  yang telah kau siapkan kemarin, sewaktu tak bersamamu.

Aku selalu yakin, jika penjaga langit memiliki bahasa yang sama dengan jiwa yang kusebut ruh. Ia hidup dan tetap hidup  selamanya.

Izinkan kuhebatkan benda mati yang terlanjur Ia hidupkan. Sebelum ayat-ayat lepas merengkuh kembali sebagai mantra kedatanganku. Kau boleh bersorak, namun bukan pada hari ini, kawan.

Makassar, 18 Mei 2016. Pkl 03.00 subuh WITA.

SPASI

To soulmate I choose not to love

Mungkin kau tak mendengar suaraku. Diantara spasi yang kau bentang di ruang hampa. Dan dalam bekunya tatap mata saat menyapaku. Bagiku tak ada yang lebih sulit dari menerjemahkan spasi diantara kaki-kaki kita. Menerka-nerka isi ruangan yang kau selipkan pada tiap jengkalnya. Mungkin agar cerita yang kuceritakan padamu bisa kau dengar dengan seutuhnya.

Cerita ini untukmu yang belum sempat kutemukan.

Rasanya masa mudaku hampir habis untuk menerka, lewat jalan mana Tuhan mendatangkanmu. Satu hal yang baru kutahu bahwa ternyata merindukan seseorang yang tak kau kenal jauh lebih sulit dari cinta yang tak terbalas.

Hingga aku sampai pada titik yang paling melelahkan. Yaitu merindukan diriku sendiri. 

Aku sedang belajar. Menumpulkan ego yang semakin hari semakin meruncing dan meninggi. Dan ketika kau menemukanku suatu hari, aku mungkin sedang terlelap di dalam doa-doa panjang yang selamanya menjadi rahasia antara aku dan pemilik langit.

Tanpa sadar Aku sendiri yang membangun jarak dan menikmati spasi itu sambil menghitung nafasku yang memanjang. Mendengar suara angin dan membaca ratusan halaman yang kuyakin bisa menemukanmu di dalamnya.

Tuhan masih meletakkan spasi diantara kita, sementara aku sibuk menerka dirimu dalam mimpi dan dalam doa. Kenanglah, semoga kita bertemu dalam suasana terpantas, untuk dipantaskan dan memantaskan.

Dariku yang belum mengenalmu, namun senantiasa merindukanmu…

Wotu, Luwu Timur, 27 Desember 2015

Leana Zivara

Karena ia mampu menciptakan keramaian. Ia menguasai fikirannya, tempat ia bermain dan tenggelam dalam imajinasi yang ia miliki. Dunianya dan seluruh yang dia inginkan. Sore ini ia akan bercerita tentang dirinya dan segala hal tentang sekelilingnya yang ia sukai. Ia akan memeluk semua yang ia sukai dan berhenti pada titik yang ia inginkan. Tak ada yang tahu kapan ia merasa lelah. Yang ia tahu, fikirannya dapat memecah keheningan dan perasaannya dapat menghanyutkan kebencian. Leana, fikiran, dan hatinya yang tak memilih bersatu.

Pada detik yang sama saat ia memutuskan, untuk kembali jatuh cinta, pada lelaki italia.

***

Ia pandai.

Pandai dalam segala hal.

Pandai menciptakan peperangan dan mendamaikan jiwanya sendiri. Ia tak pernah lupa untuk berbicara pada dirinya sendiri, menguatkan dirinya untuk mengikuti naluri serta mempercayai fikirannya. Fikiran yang selalu ia percayai memiliki variasi intensitas gelombang yang dapat memancar kemana saja, bahkan ke langit yang tertinggi. Serta naluri, tempatnya mengumpulkan surat-surat dari Tuhan. (Bersambung)

 

Dialog di bawah matahari

DCIM103GOPROGOPR6007.

Matahari Goldcoast yang nyetrong membuat saya tidak takut hitam meski angin musim dingin memilih berhembus lebih kencang. Dua puluh satu derajat celcius hanyalah lelucon yang terlalu jenaka jika mengingat bahwa saya pernah hampir mati kedinginan karena minus dua-puluh-derajat celcius.

Untung saja saya tidak dikaruniai kemampuan melihat radiasi UV A atau UV B yang sedang mengarahkan sinarnya. Mencoba menembus lapisan kutan saya.

Setiap orang mungkin dikaruniai child-like-inside yang terkadang hidup pada saat-saat tertentu. Child-like-inside saya sering hidup saat tak memiliki beban, saat tak dikejar deadline dan saat tak dirundung kesedihan. Entah apa yang anak kecil dalam diri saya cari, namun tak ada yang lebih bahagia melihatnya bersenang-senang.

Terkadang menyenangkan untuk memiliki waktu dengan diri kita sendiri. Berdialog dengan sisi lain dari diri kita. Terbebas dari ekspektasi sekeliling yang selalu menginginkan kita menjadi sesuatu yang mereka inginkan. Bahkan saat menulis pun, saya merasa sedang berdialog dengan dirinya, dan yang menulis saat ini mungkin adalah dia.

Mungkin banyak keluh kesah yang ingin ia ceritakan, tanpa batas, dan tanpa ‘edit kata’ sedikitpun.

Hai !

Ini diri saya yang lain. Saya masih kecil dan memilih untuk tidak bertumbuh dewasa. Menjadi dewasa sama saja dengan melekatkan kompleksitas pada hidup kita. Terkadang, banyak hal yang tidak boleh kita katakan, karena sebagai orang dewasa tak ada ‘permakluman’ dan kita tidak bisa dimaklumi bahkan akan segera di judge.

Ini masih saya si anak kecil. Menjadi dewasa hanyalah sebuah fase kepura-puraan. Kita tampil ada apanya, bukan apa adanya. Kita tampil untuk meng-impress semua orang bahwa dewasa adalah achievement tertinggi atau perubahan yang luar biasa dari fase hidup manusia. Betul bukan?

Ini masih saya lagi, si anak kecil. Saat saya mengangkat teh dengan cangkir untuk para tamu di rumah saya. Lalu tiba-tiba tak sengaja menumpahkannya, serta merta kita di judge kurang hati-hati, kita di judge sembrono. Tapi sebagai anak kecil, itu adalah bentuk kesuksesan. Semua orang akan bertepuk tangan untuk menghibur hati anak kecil yang telah berusah tergopoh-gopoh membawa 2-3 cangkir teh. Luar biasa bukan?

Ini masih saya lagi yang tadi, si anak kecil. Jika seorang yang dewasa bertindak seperti anak-anak maka ia akan dicela mati-matian oleh sekelilingnya, sebaliknya jika anak-anak bertindak sebagai orang dewasa? Ia akan dipuji sebagai seperti seseorang yang sangat berdedikasi tinggi. Saya tidak mampu memahami, mengapa akselerasi fase hidup manusia menuai pujian yang luar biasa.

Hai, ini saya yang sudah dewasa, namun masih merawat dengan baik anak kecil dalam diri saya.

Saya tidak menyesal menjadi dewasa bahkan tanggung jawab ini adalah hadiah untuk orang-orang terpilih saja. Ada kalanya kita boleh menjadi anak kecil bahkan ada kalanya pula kita boleh menjadi dewasa yang seutuhnya. Lalu bagaimana jika saya menghidupkan keduanya bersama-sama dalam diri saya? Sederhananya ketika saya mencoba berbuat baik kepada seseorang, jika orang tersebut menilai saya sebagai orang dewasa mungkin saja ia akan mengira bahwa saya sedang menarik perhatiannya atau saya sedang mencoba meng-impress dirinya untuk mengubah persepsi tentang diri saya. Tanpa ia pernah tahu bahwa sesungguhnya saya sedang mencoba untuk menyentuh hatinya dan berharap dengan penuh kesungguhan untuk tak pernah dilupakan (atau selalu dikenang).

Beberapa kali saya terjerat dalam kejadian seperti perandaian di atas. Meski begitu, saya memilih untuk tetap merawaat anak kecil dalam jiwa saya. Karena ia selalu membisikkan kejujuran dan mengajarkan saya untuk menjadi apa adanya dan berbuat untuk menyentuh hati, bukan untuk dipandang baik atau kini dikenal sebagai pencitraan.

Mungkin para koruptor di Indonesia lupa menghidupan anak kecil dalam dirinya…

DCIM103GOPROGOPR6050.

Kemarin yang memilih tak baik

Jika berbicara tentang kemarin. Saya hamper tidak pernah lupa, apa yang saya lakukan kemarin dan apa yang saya cita-cita kan kemarin. Pepatah mengatakan jika bagaimana dirimu hari ini adalah buah dari apa yang kau tanam kemarin. Kemarin? Apa yang saya lakukan kemarin?

Lantas, pantaskah segala hal yang saya lakukan kemarin menjadi alasan kuat bagi saya untuk berekspektasi lebih pada hari ini? Lalu bagaimana jika yang saya lakukan kemarin tidak cukup atau belum maksimal? Bisakah saya menuntut untuk berekspektasi lebih? Atau haruskah saya duduk bersedih atas keyakinan bahwa apa yang saya dapat hari ini mungkin bukanlah sesuatu hal yang baik. Setidaknya tidak sebaik jika saya melakukan dengan maksimal.

Dimanakah kemarin menepi? Dan bagaimana kemarin berdampak pada hari ini? Jikalau semua sudah diatur secara rapih oleh sang pemilik. Dimanakah batas manusia untuk mengatur ‘besok’ yang harus diusahakan ‘hari ini’?

“Kami sudah melakukan yang terbaik”

Kalimat ini selalu menjadi andalan aktor yang memainkan profesi dokter di sinetron ataupun film. Kalimat pembela diri atas sebuah takdir atau ketentuan yang dimiliki pemiliki ketentuan. Apa yang menjadi batasan terbaik, jikalau yang mengukur hanya diri kita sendiri?

Bagaimana seorang penulis bisa dikatakan memiliki tulisan yang baik? Jika sampai hari ini, dari seminar ke seminar tidak ada yang berani memaparkan tulisan baik dan terbaik seperti apa? Kejuaraan menulis juga bukan tolak ukur yang baik. Bisa saja karena selera, selera juri atau penilai yang berbeda. Kebetulan jika tulisan itu mampu memberi kepuasan pada selera seorang penilai, maka jadilah iya nomor satu. Sederhana bukan?

Jadi dimana letak tolak ukur terbaik?

Saya mencoba berkesimpulan bahwa terbaik bukan sebuah hal yang mutlak. Meskipun kadang kita tertipu dengan imbuhan ‘ter’ yang menjadi mahkota dari kata ‘baik’. Dua kata yang selalu menjadi tujuan siapa saja. Semua pada akhirnya berujung pada selera, atau taste dari yang kita tuju. Sebaik apapun itu jika tak sesuai dengan keinginan Sang Penilai, maka sia-sia segala usaha “terbaik” yang kita perjuangkan.

Selamat malam dari Brisbane, Barakula Flat, Nathan Campus, Griffith University

Finding my self on my self

15 tahun hidup di bumi. Terlahir di tengah-tengah keluarga yang berorientasi pada pendidikan. Ia hidup sebagai seorang pengembara. Mengembara mencari jati diri yang sesungguhnya. Di usia yang penuh dengan ‘kelabilan’ ia masih sanggup berdiri tegak meski tak  jarang angin kencang dengan nikmat menggoyangkannya. Namun prinsip dan keyakinan yang teguh dihatinya selalu membuatnya mampu untuk bisa berkata Tidak atau Ya, Hitam atau Putih, Hidup Atau Mati.

(Maaf yang diatas agak lebay hehe)

Tidak kaku dan ‘sok’ Idealis. Di umur yang sebentar lagi berganti menjadi 16 tentunya tidak sedikit masalah yang menimpa, tidak sedikit caci-maki dan terjangan hidup yang kudapati. Tak sedikit pula air mata yang mengalir karena ke’lebay’an ku memaknai hidup. Mencoba menarik diri dari kenyataan dan kulihat betapa kerdilnya jiwa ku dalam menghadapi rintangan yang telah kulewati. Betapa aku begitu ‘manja’ dengan segala hal yang terjadi. Kelabilan demi kelabilan pun terjadi di umurku yang labil ini. Namun pada akhirnya aku berhasil sedikit demi sedikit membuka makna. Mencari makna kehidupan yang sesungguhnya. Mencoba untuk menjadi lebih dewasa dan tetap teguh pada pendirian serta pada prinsip yang kupegang.

Meskipun apa yang kita inginkan terkadang tidak begitu mudahnya tercapai dan apa yang kita harapkan tidak mudah untuk terkabul. Tapi tetap camkan  dalam hati b ahwa terkadang hidup memiliki 100 alasan untuk membuat kita menangis tapi yakin dan percaya hidup pun memiliki Jutaan alasan untuk membuat kita tersenyum tergantung bagaimana kita memaknainya.

Di usia ku yang masih sedang memakai putih abu-abu ini, sudah ada ribuan kegagalan telah kulalui. Kegagalan dalam sebuah kompetisi atau pun kegagalan dalam berorganisasi  yang lalu dan banyak lagi. Tapi di saat kegagalan itu kutemui, tak jarang aku menggerutu dan tidak puas dengan apa yang kudapatkan. Seakan-akan aku tidak puas dengan apa yang Tuhan berikan. Namun kelabilan seperti itu membuatku semakin sadar bahwa aku begitu kecil aku begitu tak berdaya tanpa adanya dorongan dari dalam diriku sendiri. Tanpa ada dorongan untuk bangkit pun tentunya akan semakin membuatku tak berdaya dalam ketidakberdayaan serta kejahilianku.

Semakin berusaha mencari siapa diriku sebenarnya semakin aku terlarut dalam kepasrahan. Kepasrahan menghadapi kegagalan-kegagalan selanjutnya. Tetapi itulah yang membuatku dewasa. Dewasa untuk memaknai hidup bahwa kadang kita diatas dan kadang kita dibawah. Ketika kita dibawah jangan berhenti bermimpi dan yakinlah pendakian kita keatas tidak akan sia-sia dan tentunya kita akan sampai pada puncak yang tinggi dan ketika kita berada diatas tentunya tak ada yang abadi di dunia ini cepat atau lambat kita harus mengikuti perputaran roda layaknya perputaran siang dan malam.

Kelabilan pun dapat teratasi. Hidup pun semakin indah ketika kita mencoba untuk membuka mata bahwa Tuhan begitu mencintai kita, bahwa Tuhan memiliki satu alasan untuk menunda suatu harap yang kita inginkan tapi dibalik itu semua ia memiliki Milyaran hadiah untuk ketika yang lebih indah dan membuat kita lebih takjub pada kuasa-Nya.

 

(Author : Iin Fadhilah. Ditulis di tengah malam ketika Insomnia melanda pukul 00.55 WITA, Makassar)