Sepi yang kau hibahkan

Jika tak lagi sampai, jejak yang kualamatkan pada sebuah tujuan.Maka tinggal pahit ini yang kunamai dendam. Seringkali sunyi menyelamatkanku. Dari bala tentara keramaian yang menggusarkan dan mengakhiri sepi yang kutunggu-tunggu.

Kau kutunggu. 

Andai sunyi bisa kujangkau dengan sesuka hati, mungkin hati ini bisa beristirahat, bersama sepi yang kau hibahkan

Selamanya. 

Iin Fadhilah

Makassar, 26 Februari 2017

Kekalahan yang engkau rayakan

Lagi, kita memilih titian yang berbeda dan saling menerka di penghujung. 

Setidaknya keduanya membaikkan, karena diantara hal yang baik dan tenang ada batas bernama pilihan.

Pilihan untuk tetap bersikap waras, dari kegilaanku tentang dirimu yang tidak sempat engkau pilih.

Lagi, harapan itu sangat rajin menyapa.

Meski terlampau jauh untuk memaksa, agar hati ini kuat berdamai dengan retak.

Pun saat ia berkenalan dengan kekelahan.

Kekalahan-kekalahan yang kau rayakan.

Iin Fadhilah

Makassar, 25 Februari 2017

Dimana ujung lelah ini?

Bagaimana jika hari ini kontrakmu dengan Tuhan sudah habis?

Setiap pagi, kalimat yang paling sering membangunkan seluruh molekul tubuh adalah kalimat pengandaian jika seandainya hari ini adalah hari terakhir Allah mengizinkan raga berpijak. Maka segenap sel-sel pun akan ikut terbangun, bertasbih, dan bekerja dalam batas maksimal bahkan kadang melampaui batas. Cukup sederhana untuk menghirupkan ruh produktivitas ke dalam raga. Hingga terkadang kateter intravena harus bersedia bersahabat jikalau raga memilih memboikot ruh produktivitas yang penuh semangat itu.

Lalu kapan belajar dan bekerja ini akan singgah pada sebuah ujung?

Jawabannya sederhana. Hingga liang lahat-mu telah tergali dimana kau disana bersandar selamanya. Mungkin itulah akhir dari belajar dan bekerja.

Menjaga semangat serta produktivitas adalah buah dari kesyukuran kepada Allah Swt. Kesyukuran tentang nikmat kesehatan, akal sehat, iman dan lingkungan yang beratmosfir positif. Memang kita tidak selalu berada dalam keadaan yang optimal dan nyaman untuk belajar dan bekerja. Namun ternyata selama kita percaya bahwa apapun yang terjadi hari itu adalah sebuah perencanaan dari sang Maha Penulis Skenario, mungkin kita sedang memenangkan penghargaan dari kerajaan langit tentang kesabaran dalam menghadapi proses kenaikan tingkat sebagai manusia yang berkembang dan mendewasa.

Tak ada yang tahu sepanjang apa perjalanan yang harus ditempuh. Kadang tulang belakang seperti membeku dan tak mampu lagi bergerak ketika bertemu dengan kenikmatan kasur, atau mata yang enggan terbuka karena lelahnya aktivitas. Namun, sedini mungkin mari jadikan seluruh perencanaan kita adalah bagian dari ibadah kepada-Nya, karena-Nya, oleh-Nya dan untuk-Nya. Dan segala yang terjadi diluar perencanaan kita adalah rencana dari Sang Maha Pembuat Perencana yang mendatangkan hal terbaik, untuk kita belajar dan bersabar sebagai proses memantaskan diri sebelum berkumpul bersama-Nya di kerajaan langit.

Dan tentu,

Agar tak ada lagi rasa khawatir jika habis masa berlaku kita berpijak di bumi-Nya. 

Iin Fadhilah ©

Makassar, 23 Februari 2017

Dear Al

Dear Al,

Sore ini gradasi langit senja terpantul di bilik matamu. Kulihat tatapanmu kosong, namun jelas kau sedang menikmati jingga itu. Maafkanlah jika kalimat spontanku mengusikmu.  “Jangan kau lihat langit itu”, tanyaku. “Mengapa?”, balasmu.

“Langit itu tinggi dan indah, namun ia sama sekali tidak ada. Kau tak mungkin menjangkaunya.”, kataku menghamburkan lamunanmu.

Dear Al,

Kau dan senja tidak akan bisa bersahabat. Langit selalu menunjukkan kesementaraan yang indah. Jika jingga begitu merona mengapa ia terlalu sebentar?, jika biru begitu anggun mengapa ia pun tak memiliki seluruh waktu?, dan jika hitam memang menakutkan lalu mengapa tuhan menebar bintang-bintang di antaranya?

Dear Al,

Bisa kau jawab pertanyaanku? Kau boleh mencintai senja, namun sejatinya itu menyakitimu. Seiring tergelincirnya matahari, maka tenggelam pula rasa bahagiamu. Aku tak sedang mengajarimu mencintai biru langit, karena toh ia hanya pantulan dan sisa-sisa ketidakmampuan cahaya menembus atmosfir. Pun aku tak sedang menuntunmu untuk mencintai gelap malam, walaupun ia berbintang, kupastikan esok pagi kau kan merasa sedih karna langit subuh mulai menyamarkan cahayanya.

Dear Al,

Sore ini aku berbohong padamu, bahwa langit itu tidak ada. Aku ingin menghukum jiwamu yang hanya mencintai senja. Jika seandainya senja, biru langit dan gelap malam hanya kebohongan, masihkah kau percaya jika langit itu ada? Iya. Sesuai dugaanmu.

Dear Al,

Senja, biru langit, dan gelap malam hanyalah pantulan. Jika biru langit diibaratkan kebahagiaan dan gelap malam diibaratkan kesedihan, maka Senja adalah segala rasa yang kau peluk di dalam hatimu. Lihatlah mereka berputar pada poros dan porsi yang sama.

Dear Al, taukah kau siapa  pemilik warna itu? Betul, pemiliknya adalah Langit. Langit yang telah Tuhan titipkan di hatimu. Langit yang menjadi ruang tanpa batas untuk bersabar menunggunya. Langit yang tak memiliki tiang namun tak bisa roboh sekencang apapun angin bertiup. Langit yang secara sederhana harus kau ketuk di 1/3 malam agar seluruh tentara langit datang membolak-balik hatinya untuk datang menuju dirimu. 

Makassar, 23 Januari 2017

Maukah kau bersabar?

Maukah kau bersabar, untuk rindu yang tak kurencanakan?

Sedari kau menumpahkan getir

Suaraku tak pelak menunda petir

Walau dadaku dipenuhi awan satir

Rasaku masih tak lelah untuk mengalir

Di lipatan jurang, aku menyembunyikan kebencianku. Padanya, padamu dan pada diriku sendiri. Jika kutanyakan lagi, pertanyaan yang sama

Apakah amarahmu berubah dalam impulsi

Atau hanya tertahan dalam bentuk avulsi

lalu memilih berpindah dimensi

atau memenuhi rongga yang tak berisi

Di lipatan jurang yang sama, aku menyembunyikan bahagiaku. Bahwa Tuhan membawamu untuk alasan. Alasan untuk mengikisku menjadi sebaik-baiknya sumber kasih dan sayang.

Menjadi wanita adalah seni. Seni pada membawa hati dan pikiran dalam ritme yang tak terganggu oleh gaduh namamu. 

Makassar, 7 November 2016

Pkl. 9.14 WITA di sudut yang sama

Berdamai dengan perangai diri sendiri

Minggu ini saya terjebak, pada kepulan awan hitam yang saya undang. Betul, orang bodoh mana yang mengundang awan hitam? Sayangnya, saya berkehendak memanggil pelangi. Sehinggak konsekuensi demi konsekuensi adalah tanggung jawab pribadi.

Minggu ini saya dibungkamkan, oleh segala pertanyaan yang tidak bisa saya jawab. Bukan berarti saya tidak tahu, memang saya lupa bahwa ketidaktahuan adalah milik orang-orang yang enggan mencari tahu.

Minggu ini saya dipancing, oleh keadaan yang sama sekali tidak lucu untuk dibuat dalam serangkaian skenario. Fikiran saya ikut dibutakan oleh api-api kecil dan ketidakpandaian saya dalam segala hal. Segala ketidakberdayaan mengajak saya untuk menepi ke tepian dan melepaskan bersama air mata.

Namun, saya belajar untuk berdamai. Berdamai dengan masa lalu, berdamai dengan ambisi dan berdamai dengan keterbatasan yang saya miliki saat ini.

Ya, saya membenci keterbatasan.

Ya, saya membenci ketidaktahuan.

Ya, saya membenci ketidakberdayaan.

Ya, namun saya tidak pernah berani mencoba membenci diri saya terlepas dari kekurangan diatas. Ya, namun saya tidak pernah berani menunjukkan pada orang lain bahwa proses berdamai dengan diri adalah proses yang tidak singkat.

Jika menulis adalah cara terbaik untuk berbicara. Maka yang sedang berbicara adalah kawan yang bernama jiwa. Yang akan segera terbebas dari keterbatasan, ketidaktahuan dan ketidakberdayaan yang ia banggakan.

Saya mencintai ambiguitas. Yang memaksa orang menerka-nerka makna di atas makna. Atau dualisme yang tak saling singkron bahkan di penghujung. Kita patut berbahagia untuk ketidakmampuan yang membangunkan. Membangunkan jiwa untuk segera menggiring egosentris ini lubang yang menghanguskan.

Semoga hari ini saya menghabiskan jatah kekecewaan dan melanjutkan perdamaian dengan diri sendiri.

Kau yang tak kukenal

Aku ingin berkenalan denganmu
Jauh sebelum rindu belajar mencekik
Jauh sebelum namamu bisa kueja dengan lantang
Jauh sebelum aromamu melekat di ingatan

Seperti nada yang kehilangan melodi
Langkahku berirama ke arah datangnya gelap
Disebelah sungai-sungai yang siap melenyapkanku                                                              Serta hutan tandus tempatku menepi

Pagi ini aku terjebak lagi di titik titik embun                                                                             Ada banyak rasa yang hendak kuceritakan
Dan diantaranya, seberkas doa yang tak bisa kutitipkan
Di perjalananmu dan perjalananku yang jelas berbeda
Hai kau yang tak kukenali
Semoga ada paruh waktu yang kau sisipkan untukku
Kelak
Di masa yang tak kukenal
(Makssar, 13 September 2016)
Pkl 5.26 WITA