Di tepi telaga

Tak ada yang berhak menghakimimu
pun tak ada yang berkewajiban memahamimu
kau hidup untuk keutuhan, namun tak harus selalu utuh

tak harus selalu bersembunyi
kuyakin kau lebih paham makna sunyi
semoga tak pernah kau sadari
aku tak pandai menahan hati bersimfoni

walau kita mampu melangkah sendiri sendiri
sisakan aku satu tempat di belakangmu
akan akan sisakan ribuan destinasi untukmu
agar kau mengerti,
mengapa kita bergenap

Osaka, 13 Agustus 2019

Advertisements

Darah Kata

sesekali kau diam dan tidak berkata apa-apa
saat kita mulai dibunuh waktu. kau enggan berpindah
walau sehasta

rongga dadaku sudah sesak dipenuhi kata
menguji rindu yang terduduk di beranda
tak pernah beranjak walau sedepa

jika,

sebentar lagi kata menjadi arwah
kau boleh tertawa
karna rasa kehilangan,
ingin kubalas nyawa

menghilanglah!

Makassar, 1 Agustus 2019


Breaking bad news: sebuah pelajaran

Breaking bad news adalah salah satu skill yang sedang saya coba latih dan pelajari. Beruntungnya seorang senior sangat bijak memberi saya ruang untuk belajar hal tersebut. Beberapa hari yang lalu saat saya terbangun di suatu subuh, seorang teman sejawat sedang terburu-buru membuka bungkusan handscoen. Sebagai simbol kepekaan, saya mendekat dan bertanya untuk apa gerangan. Rupanya pasien yang sedang ia pantau tanda vitalnya sedang mengalami penurunan tekanan darah bahkan nadinya mulai melemah.

Dengan sigap saya juga segera mengambil Alat Pelindung Diri (APD) kemudian bahu membahu bersama teman saya sesama dokter muda dan perawat yang bertugas. Saat tiba giliran, saya berusaha untuk memperbaiki posisi, memberikan tekanan dan kecepatan secara maksimal sesuai dengan panduan Push Hard, Push Fast dimana dalam 1 menit saya harus menghasilkan 100 kali pompa di jantung pasien tersebut.

Dalam sekejap saya yang tadi berjalan sempoyongan baru terbangun (saat itu pukul 04.00 dini hari) langsung menjadi awas dengan kesadaran penuh. Pikiran saya seakan menembus dinding dada bapak tersebut, saya memvisualisasikan jantungnya yang berhenti berdetak. Tangan saya perlahan meraba dan memastikan titik yang harus saya tekan dengan tangan kiri di atas tangan kanan. Bismillahirrahmanirrahim, saya memulai resusitasi jantung pagi itu dengan tekanan yang sangat mantap dan mata yang tajam lurus menatap monitor. Perasaan penuh cemas, semoga usaha ini mampu memberi harapan untuk keluarganya yang sudah menangis meraung sedari tadi.

Pikiran dan perasaan saya berdesir. Segala macam cara telah dilakukan. Hingga tiba waktunya untuk memberi kabar terakhir pada keluarga pasien bahwa,

‘Maaf bu. Kami telah melakukan yang terbaik’

Sebuah kalimat pendek dan sederhana, namun sulit untuk mengungkapkan. Suatu masa dimana kita berusaha menahan air mata, ketika orang-orang disekeliling telah banjir air mata. Suatu masa dimana lisan kita telah diakui secara hukum untuk secara sah menyampaikan kepada keluarga pasien bahwa orang yang mereka cintai telah kembali ke pelukan sang Maha Mencintai.

Tentu tidak akan pernah mudah.

Dan sampai detik ini saya masih terus berusaha belajar untuk bisa memampukan jiwa dan raga dalam menyampaikan kabar tersulit yang siapapun tidak ingin mendengarnya.

#Day7

Jas Putih 2

Tak terasa jas putih milik saya sudah mulai menguning. Mungkin karena terlalu sering dipakai tidur di sembarang tempat jika sedang jaga malam. Sudah setahun saya diberi kesempatan oleh Allah SWT. merasakan secara dalam tentang arti dari sebuah kehidupan serta arti dari sebuah kesehatan itu sendiri.

Tapi setelah setahun bersama rasa lelah yang bertubi-tubi menghantam tiap harinya. Rasa lelah yang tidak bisa membuat kita berfikir lebih jernih, bahkan tersenyum lebih lebar untuk menatap matahari. Sejatinya, rasa lelah ini haruslah dinikmati. Meskipun esok hari jelas tidak akan lebih mudah dari hari ini.

Satu hal saya menyadari makna dari sebuah pepatah umum yang berkata “Hidup ini bukan tentang menunggu badai selesai, namun tentang bagaimana menari dibawah hujan”. Saya baru mengerti setelah termenung beberapa hari, bahwa memang saya tidak punya pilihan lain. 5 tahun sudah terlewati dengan badai yang tidak mudah. Masih ada 10 tahun kedepan untuk badai badai selanjutnya. Namun apakah saya harus menggerutu menunggu badai ini selesai? Tentu tidak.

Saya lebih menyadari bahwa meskipun di tengah remuknya badan setelah jaga malam. Saya menyadari bahwa perjalanan ini sangat indah untuk dinikmati. Maka dari itu, saya memilih tetap menulis, seletih apapun hari yang terlewati. Karena menulis adalah bagian dari menari itu sendiri. Karena menanti badai ini berhenti adalah bagian dari kemustahilan.

#Day5

Jas Putih 1

Hari ini adalah hari yang panjang. Hampir setiap hari saya menghela nafas panjang setelah tiba di rumah, di titik ternyaman dalam hidup ini. Merebahkan lelah di atas kasur layaknya sebuah kemenangan ketika mengakhiri hari hari panjang di lorong rumah sakit. Lelah sudah berada di puncaknya dan terkadang terlelap hingga pagi menyambut. Begitu seterusnya, tiap hari, tiap minggu hingga tak terasa berganti tahun.

Banyak yang mengira, kami yang berjas putih akan berjalan dengan rasa bangga di atas kaki. Sejatinya, seorang dokter diberi label sejak pendidikan dasar bahwa kami adalah seorang long life learner atau pembelajar seumur hidup. Baru saya sadari bahwa seorang dokter tidak akan pernah berada di puncak piramida. Karena ia harus senantiasa berada dalam suasana ‘ingin tahu’ dan senantiasa mengais ilmu demi untuk mempertanggungjawabkan gelar yang telah disandang.

Seorang dokter muda berada di keduanya, yaitu pendidikan dan pelayanan. Baiklah sebelum lebih lanjut saya ingin bercerita tentang apa sih tugas Dokter Muda? Dokter Muda adalah lulusan sarjana kedokteran yang menjalankan praktek secara langsung dibawah supervisi Dokter Spesialis yang dilakukan di Rumah Sakit Pendidikan dan Rumah Sakit jejaring. Untuk tugas pendidikan kami tetap mengikuti kegiatan kuliah, mengerjakan tugas referat, tugas laporan kasus, menulis puluhan status pasien, diskusi dengan PPDS dan juga dengan Supervisor. Untuk tugas pelayanan yang merupakan bagian dari pendidikan itu sendiri kami turun langsung memeriksa pasien, memeriksa tanda-tanda vital, melaksanakan jaga malam dalam membantu PPDS menjalankan tugasnya. Semua dilakukan tiap hari, hari libur adalah hari sabtu minggu yang diisi dengan jadwal jaga.

Pada akhirnya, ketika lelah menyapa. Saya senantiasa berusaha mengingat mundur apa yang membuat saya bercita-cita kuat untuk sampai ke titik ini. Betapa banyak orang di luar sana ingin menjadi seorang dokter muda. Kadang lelah itu perlahan sirna jika melihat wajah pasien yang dengan tulus mengucapkan terima kasih. Walau hanya sedikit perhatian yang bisa seorang dokter muda berikan, tentu dengan sedikit ilmu yang ia miliki.

#Day4

 

 

 

Elegi Dokter Muda

Pagi itu saya terbangun sangat pagi, saya terbangun dengan perasaan yang tidak sama seperti biasanya. Rasanya seperti ada tumpukan bunga-bunga bermekaran di dada (eits bukan jatuh cinta loh wkwk). Hanya saja hari itu 18 januari 2018, satu beban telah enyah untuk beberapa saat. Dan saya mengizinkan jiwa saya untuk merayakan hari tersebut. Ya, mereka menyebutnya hari yudisium. Sejenak memberi sedikit ruang bagi jiwa saya untuk bergembira mengabadikan moment dengan teman-teman, tertawa dan menandai hari itu sebagai simbol kebebasan sesaat.42BE2E6A-EC98-4274-A271-FB9A03EC1938.jpeg

Sejatinya saya tidak mengerti makna dari simbol bunga yang diberikan di pemakaman. Mungkin tidak jauh berbeda dengan memberikan bunga di hari yudisium sejawat. Baru 6 bulan sejak menjalani kepaniteraan akhirnya saya menyadari satu hal, bahwa  6 bulan lalu tersebut saya tidak sedang merayakan perpindahan jejak dari preklinik ke klinik. Namun, menutup satu persatu pintu untuk menuju jalan kebebasan menjalani hari-hari saya sebagai anak sekolah biasa (baca: manusia biasa).

“Di hari itu, saya telah menghibahkan diri saya untuk kemanusiaan. Berjanji setia untuk memberikan yang terbaik kepada mereka yang tidak saya kenal, di atas keluarga dan kepentingan pribadi saya”

Sayangnya, baru 6  bulan saya menyadari bahwa saya bukan anak sekolah biasa lagi.  I thought it’s not going to be so different. The same pressure, the same knowledge, the same teachers. Saya hanya meyakini bahwa fasilitasnya saja yang berbeda. Jika di preklinik semua serba manekin, ya di klinik semua adalah manusia. Sesimpel itu dan se-tidak spesial itu. Karena semua ujung-ujungnya akan berorientasi pada hasil ujian akhir, yaitu UKMPPD.

Seorang dosen yang saya sangat kagumi menghabiskan satu senja dengan kami dokter muda. Beliau memang tergolong masih muda di kalangan konsulen, namun saya tidak percaya bahwa semua kata-kata yang beliau lontarkan berjatuhan seperti emas berlian serta tamparan untuk diri saya sendiri.

Kalian sudah harus percaya diri, kalian harus berani membuat planning dan memasang target untuk pasien. Jangan cuma tensi-tensi saja!

Oh crap! tidak seharusnya saya sibuk memikirkan apa yang salah dari sistem pendidikan kedokteran di Indonesia. Mungkin kesalahan ada pada saya sendiri. Kesalahan dalam melihat diri saya sendiri masih sebagai ‘kuli ilmu’, bukan doctor in training seperti yang sistem pendidikan harapkan. Kesalahan kecil seperti membawa buku di bangsal (well, it’s not wrong but better not to). While ternyata semua pasien adalah “textbook” yang sejatinya wajib kita hatamkan.

Medical science is too wide to be trueThere are plenty of things you should memorisethousands of guidelines that updated annually yang kadang bikin bete karena terapi yang berubah. And that’s how medical works and that’s why you called a long life learner, simply due to the tsunami of new inventions, publications and theories found. Dan sebaik-baiknya ilmu adalah yang memberi kebermanfaatan until kemanusiaan.

Plak! Saya seakan berubah menjadi filsuf, bahwa kesalahan sebelumnya adalah tidak serta merta menghembuskan ruh percaya diri bahwa saya tidak sedang “coba-coba”. Oh ya, salah satu ketakutan untuk exploring more to our patients adalah we are afraid of rejection. Kadang ada rasa tidak enak jika pasien menganggap bahwa mereka adalah objek coba-coba kami. Hell no! we are not going to harm anyone. Tapi menurut saya, itu adalah sifat dasar manusia untuk cenderung menghindar dari hal-hal yang berpotensi merugikan.

Senja itu sudah cukup memasukkan ruh keyakinan, keteguhan hati dan tentunya rasa percaya diri. I’m going to give my fullest power as junior doctor in training, not as an ordinary medical student anymore (something that I should realise earlier). And yes, the hippocratic oath has been taken, there is no way back anymore, so just keep moving forward 🙂 

(I’m going to share all the stories through my rotation in clinical clerkship as junior doctor. I’m so excited to hear the feedback from you, feel free to write in comments below.)

Cheers,

Iin Fadhilah

 

 

Tahun ke-3

Ini sudah tahun ke-3 saya duduk di Fakultas Kedokteran. Yang berbeda hanyalah di tahun pertama jam kuliah mulai pukul 08.00 dan di tahun ke-3 mulai sedikit lebih awal, yaitu 07.30. Ada satu hal yang menarik dari perjalanan memasuki tahun ke-3 ini.

Saya tetap jatuh cinta pada setiap sosok yang hadir membawakan kuliah, sama seperti saat masih duduk sebagai mahasiswa baru

Rasanya semakin jauh menyelam, semakin dalam lautan ilmu ini. Semakin beragam jenis dan semakin tak terhingga waktu yang dibutuhkan untuk menggali satu persatu. Dan, semakin kecil saya melihat diri ini.

Pagi ini seorang dosen yang saya kagumi, Prof. Budu, mengulas tentang masa lalunya ketika duduk di bangku kuliah. Beliau bercerita jika Anatomi dan Fisiologinya serta merta mendapat nilai A, sehingga ia tidak memilih mendaftar menjadi asisten di departemen tersebut. Justru beliau mendaftar sebagai asisten Biokimia karena merasa kurang dengan pemahaman pada siklus krebs dan segala interaksi biokimia yang ruwet. Singkat cerita, beliau memilih menjadi asisten Biokimia karena ingin memahami lebih dalam.

Saya belajar satu hal dari cerita beliau. Kita sebagai manusia cenderung mengikuti arus. Melakukan hal yang menurut kita mudah dan terlalu menakar dengan hitungan-hitungan matematis kemampuan diri kita.

Saya lupa jika Allah tidak mengenal batas dan dimensi. Jika Allah mampu melakukan segala hal diluar nalar, lalu mengapa kita gentar menantang arus?

Bulan ini saya terlalu banyak berkeluh kesah pada diri sendiri. Tentang padatnya jadwal kuliah, tetek bengek organisasi A, B dan C serta amanah sebagai asisten anatomi yang terasa melemahkan seluruh sendi-sendi saya. Saya lupa, bahwa Allah memiliki seluruh energi di alam semesta. Dan saya hanya butuh secuil untuk menyelesaikan semua tugas sebagai mahasiswa yang baik.

Saya tidak sedang menantang arus. Saya hanya percaya bahwa Allah bekerja di atas batas kemustahilan, dan saya menikmati keajaiban itu. 

Makassar, 7 November 2016

Pkl. 8.56 WITA, di sudut kamar belajar