Dilema Mahasiswa, Kejar Prestasi atau Berorganisasi

Terbit di Harian Fajar (Link: http://fajaronline.com/2017/03/07/dilema-mahasiswa-kejar-prestasi-atau-berorganisasi)

Memasuki gerbang perguruan tinggi adalah impian setiap lulusan SLA. Dengan sendirinya menanggalkan gelar siswa lalu menyandang gelar sebagai mahasiswa. Menerima gelar mahasiswa, bersiap-siaplah bergumul “kemahasiksaan”.

Dunia baru akan memantik banyak kejutan. Tidak ada lagi pakaian seragam, namun pakaian bebas sopan. Waktu belajar dituntut belajar mandiri dan kelompok. Tidak diatur lagi protokoler lonceng jam pelajaran. Kuliah kadang dilakukan di luar kelas. Tanpa bangku dan meja. Dosen memberikan tugas harus tepat waktu. Tidak ada tolerir atau kompromi kalau terlambat menyetor tugas.

Dunia kemahasiswaan rada-rada sulit. Artinya, menjadi seorang mahasiswa bukanlah hal mudah. Bisa dipermudah jika kita mau menjalaninya dengan cantik. Harus pandai-pandai memainkan waktu. Jika tidak, kita akan kerepotan menyusun langkah-langkah pasti.

Caranya, kita harus menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa dengan semestinya. Menjadi mahasiswa jangan hanya sebatas mahasiswa biasa. Maksudnya datang kuliah tiap hari, duduk manis ikuti kuliah, diam-diam di kelas, selesai kuliah langsung pulang ke rumah. Tidak seperti itu dilakukan jika ingin memeroleh nilai plus.

Di kampus, kita harus membiasakan diri menunjukkan empati sosial yang tinggi. Jangan hanya bermasa bodoh (apatis). Itu semua bisa dimanifestasikan jika bergabung dalam organisasi di kampus. Di sana kita bisa unjuk diri dan mampu memberikan kontribusi positif di lingkungan kampus. Kita bisa menjadi model bagi rekan-rekan yang lain maupun junior yang akan bergabung nantinya.

Nah, di sinilah biasanya timbul dilema. Ibarat kata peribahasa lawas, bahwa “dimakan, ibu mati, tak dimakan, ayah mati.” Satu sisi kita mau peringkat dengan kejar Indeks Prestasi (IP) tinggi, sisi lain kita juga perlu berorganisasi.

Kadangkala orang tua pun ikut menabuh gendang. Apakah sebenarnya tujuanmu masuk kuliah? Bukankah untuk menuntut ilmu? Hindarilah beraktivitas selain menuntut ilmu. Organisasi itu hanya menjerumuskan ke dalam lubang kehancuran IP. Itu kata sebagian orang tua yang tidak mengerti urgensi organisasi. Namun, keduanya bisa berjalan selaras selama kita bisa bermain cantik.

Ibaratnya menarik rambut dalam tepung, rambut jangan putus, tepung jangan berserak. Kapan ikut kuliah, kapan berorganisasi. Di sinilah dibutuhkan kebijakan pemanfaatan waktu. Dengan kata lain, menghadapi dilema ini, perlu mendisiplinkan diri mengatur gerak langkah berpacu melawan waktu.

Berorganisasi dan belajar di kampus ibarat dua sisi mata uang. Organisasi merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dengan dunia mahasiswa. Dalam berorganisasi, kita bisa mengenal dunia kampus lebih luas.

Misalnya, kita adalah seorang mahasiswa yang tidak terbiasa dengan pidato atau pun sering gugup ketika berbicara di depan orang ramai. Dengan berorganisasi, kita dibina hal itu. Setidaknya, keluar dari organisasi tersebut kita mampu berbicara secara terbuka di depan orang banyak.

Terdapat perbedaan signifikan antara organisatoris dan antiorganisasi. Jangankan berbicara di depan orang ramai, berdiskusi dengan ruang lingkup kecil pun tidak mampu mengeluarkan pendapat. Orang yang kurang pengalaman berorganisasi, ibaratnya bagai katak di bawah tempurung ”padai tuppang natongko’e kaddaro” (bahasa Bugis).

Bagi mahasiswa yang belum menemukan jati dirinya sebagai seorang mahasiswa, bergabunglah dengan organisasi di kampus. Semua itu akan berguna untuk kelangsungan perkuliahan. Demikian pula akan terjalin persahabatan antara sesama mahasiswa di kampus. Hindari menjadi mahasiswa vakum tanpa gerak dinamis.

Mungkin kita pernah mendengar istilah “mahasiswa 5 D”, datang, duduk, diam, dingin, dungu), artinya mahasiswa tersebut sekadar datang mengikuti perkuliahan semata. Informasi lainnya yang ada di kampus, tidak ia hiraukan. Acuh bebek jika tidak ada sangkut-pautnya dengan mata kuliah. Bukan bermaksud menggurui, tetapi janganlah mencontoh mahasiswa demikian.

Pada sisi yang lain, kegiatan perkuliahan tetap nomor wahid. Tujuan utama memasuki perguruan tinggi tentunya belajar. Mengejar prestasi akademik (IP) itu wajib. Harapan orang tua dan keluarga akan terpenuhi. Tanpa harus menciderai yang lain, organisasi pula tidak bisa disepelekan.

Kemampuan akademik yang tinggi, akan lebih paripurna dengan hasil yang didapatkan dalam ikut berorganisasi. Seperti apakah pentingnya organisasi? Silakan bergabung dan rasakan bedanya. (*)

Saling Bertukar Tenaga Riset

Menenal CESDI (Centre of Excellence Sustainable for Indonesia)

*Tulisan ini terbit di Harian FAJAR SkeMA 15 Agustus 2015

Laporan Iin Tammasse, Brisbane Australia

Dari kiri ke kanan (Iin Tammasse, Andi Najiah, Rizki Malik, Muh. Iffah) di depan kantor CESDI Griffith University
Dari kiri ke kanan (Iin Tammasse, Andi Najiah, Rizki Malik, Muh. Iffah) di depan kantor CESDI Griffith University

Griffith University memiliki beberapa kampus yang tersebar di negara bagian Queensland. Di Goldcoast, Mt. Gravatt, Southbank, Logan dan Nathan. Nathan Campus adalah tempat penulis dan teman-teman menuntut ilmu. Suasana Nathan Campus Griffith University tak jauh berbeda dengan Kampus Tamalanrea Universitas Hasanuddin yang rindang.

Kepedulian dari lingkungan sudah jelas terlihat, Nathan Campus dipenuhi pepohonan dan berbagai jenis vegetasi. Tak jarang saya melihat seekor koala menggendong anaknya dan memanjat pohon atau sekeor Rakun berlarian di antara pepohonan. Nathan Campus terletak di area konservasi hutan dan satwa yang hidup secara liar pun adalah hewan yang dilindungi. Karena terletak di daerah konservasi, pembangunannya pun dibatasi agar tak mengganggu ekosistem sekitar.

Griffith University telah lama membangun kerjasama bilateral dengan Indonesia dalam bidang lingkungan. Salah satunya, terdapat pusat kajian dinamakan CESDI atau Centre of Excellence of Sustainable Development for Indonesia. Sejak didirikan 2007 lalu, CESDI telah membangun kerjasama dengan Kementerian Negara Lingkungan Hidup yang berfokus pada peningkatan kapasitas dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Sebagai bentuk memperkuat kerjasama, CESDI juga memfasilitasi tenaga riset dari Indonesia selama berada di Australia dan sebaliknya. “Semacam pertukaran, tenaga riset yang datang dari Indonesia akan difasilitasi di CESDI. Riset di Indonesia dan di Australia tentu berbeda, sehingga diharapkan dari kombinasi keduanya akan memperbanyak empirical evidence”, tukas Gunaro Setiawan salah satu mahasiswa yang aktif di CESDI.

Tidak hanya dalam bidang Lingkungan, CESDI juga memfasilitasi beberapa kegiatan akademis bagi para mahasiswa Indonesia. Salah satu ruangan di kantor CESDI menjadi basecamp untuk organisasi ISAGU (Indonesian Student Association of Griffith University). Dr. Peter Davey selaku ketua dari CESDI sangat menyambut baik program kerjasama Griffith dan UNHAS ini. Bahkan, kami diberi izin untuk menggunakan fasilitas kantor CESDI.

Dalam bidang akademik ada dua program yang diadakan CESDI, yaitu PAR (Progaram Academic Recharge) dan Program Sandwich untuk melakukan riset. Universitas Hasanuddin termasuk salah satu yang secara konsisten mengirim mahasiswa setiap tahun mengikuti Program Sandwich ini. Ada banyak manfaat mengikuti program sandwhich tersebut, meski tak menjadi mahasiswa permanen tapi kita bisa memanfaatkan akses jurnal dan ebook dari Griffith secara gratis.

Saya merasa kagum bahwa negara tetangga saja mampu menunjukkan kepeduliannya terhadap potensi terbesar Indonesia yaitu lingkungan hidup dan sumber daya manusia. Lalu kapankah kita mulai menyadari  dan memanfaatkan potensi besar ini semaksimal mungkin?

Atmosfir akademik yang multikultural

*Terbit di SKeMa (Seputar Kegiatan Mahasiswa) Harian FAJAR 3 Agustus 2015

Metode Pre-Reading, Materi diunggah ke Website

Oleh: Iin Tammasse, dari Brisbane, Australia.

Persimpangan musim dingin dan musim semi menjadi saat yang berkesan mengunjungi kota Brisbane. Brisbane menjadi salah satu destinasi studi favorit para pelajar dari seluruh penjuru dunia.

Nuansa multikultural sangat kental terasa sehingga tak membuat saya dan ketiga rekan dari Universitas Hasanuddin, Rizki Malik Budu, Iffah Nurhikmah dan Andi Najihah merasa gamang saat pertama kali menginjakkan kaki di ibu kota negara bagian Queensland ini.

Kedatangan kami di Brisbane bukan untuk berwisata, melainkan kunjungan akademik. Melalui program kerjasama Internasional antara Universitas Hasanuddin dan Griffith University, kami berkesempatan untuk sit-inclass selama sebulan sesuai dengan jurusan kami masing-masing serta mencicipi fasilitas lengkap dari Griffith University.

Tujuan program kerjasama Internasional Unhas yang telah berjalan selama dua tahun ini adalah sebagai sarana bagi kami para mahasiswa untuk dapat berinteraksi, berkenalan dengan kemajuan metode pendidikan serta membangun networking jikalau ke depan kita hendak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Untuk program musim semi, saya dan Rizki Malik Budu yang sama-sama di Fakultas Kedokteran diperbolehkan memilih enam mata kuliah untuk bulan ini diantaranya yaitu Pharmacology, Infectius Disease, Advanced Physiology, Language& Communication for Health, Principle of Forensic Medicine, Human Skill for Medicine, Anatomy and Physiology, Gemes and Disease.

Fasilitas yang paling menarik adalah Perpustakaan. Selain menyediakan buku-buku, perpustakaan Griffith University juga menyediakan akses gratis untuk jurnal ilmiah dan buku elektronik.

Di perpustakaan juga sering diadakan workshop untuk mendukung skill akademik mahasiswa selama mengikuti studi di Griffith. Seperti academic workshop, library workshop, dan computing workshop. Seluruh workshop tersebut dapat diikuti secara gratis oleh mahasiswa.

Selain atmosfir keilmiahan yang bersifat multikultural, teknologi yang canggih juga sangat baik penerapannya. Uniknya, absensi atau kehadiran bukanlah sesuatu yang penting seperti di Indonesia. Saat dosen membawakan kuliah, kuliah tersebut dapat diikuti secara streaming di rumah.

Meskipun tak mengikuti kuliah, suara dosen saat membawakan kuliah otomatis terekam dan terunggah ke portal intranet Griffith. Sehingga mahasiswa bisa mengunduh rekaman suara dosen yang berbentuk mp4 dan mendengarkannya di mana saja dan kapan saja.

Bahkan portal intranet Griffith University dapat diakses melalui aplikasi gratis yang bisa diunduh di gadget via App store dan Google play. Sehingga mudah untuk mengakses jadwal kuliah bahkan peta dalam kampus.

Seluruh materi kuliah juga telah diunggah ke website sehari sebelum materi tersebut dikuliahkan, ini dikarenakan banyak dosen yang menganjurkan Pre-reading agar suasana kelas berjalan efisien dan efektif.

Saya juga mengenal beberapa mahasiswa Indonesia yang terhimpun dalam ISAGU (Indonesian Student Association of Griffith University). Organisasi ini menghimpun seluruh mahasiswa Indonesia yang sedang menjalankan studi di Griffith. Sebagai alumni Griffith sekaligus chevron dari program kami, Ibu Ida Leida selalu  membawa kami ke event yang diadakan oleh ISAGU. Sehingga meskipun baru beberapa hari menginjakkan kaki di Brisbane kami akan selalu merasa homie.

Pembantaian ter-indah (Catatan Pengkaderan)

Apa yang terjadi setahun kemarin?

Tertawa kecil di dalam hati menjadi rutinitas favorit di sore hari. Membaca kembali catatan kecil  tentang pembantaian kecil kecilan hari itu. Pembantaian itu mereka gaungkan  sebagai Pengkaderan, pahit terdengar namun manis rasanya.

“Bagaimana pengkaderan itu?”

Hampir semua orang yang saya tanyai tidak bisa mendeskripsikan dengan jelas. Seorang sahabat yang mencoba menceritakan adegan demi adegan juga tidak mampu mencari diksi yang tepat untuk menjelaskan pembantaian ini. Tidak menjawab rasa ingin tahu, semua seakan sepakat untuk menjawab “ko rasa mi saja nanti”. Membuat rasa penasaran semakin menjadi-jadi.

Rasa excited saya untuk memasuki dunia kemahasiswaan merajai segala rasa takut yang sering dibisikkan orang-orang. Bukan dunianya yang menyeramkan, namun proses adaptasi yang butuh tekat dan kemauan untuk menerima serta berproses secara ikhlas.

Layaknya menunggu ayam betina bertelur. Untuk menjadi anak ayam, telur haruslah dierami terlebih dahulu. Butuh kehangatan yang berlangsung selama 21 hari untuk merubah sebuah bentuk menjadi bentuk lain. Pengkaderan sendiri memiliki tujuan untuk menambahkan dan mengubah nilai-nilai dalam diri seorang anak SMA menjadi nilai-nilai seorang mahasiswa. Butuh waktu yang panjang dan butuh ‘kehangatan’ tersendiri agar proses yang lama tadi bisa lebih dipersingkat.

Tapi terlihat panik dan tergesa-gesa. Banyak yang menginginkan proses itu berjalan cepat dan singkat. Wajar saja jika banyak diantara mahasiswa yang belum bisa mengikuti ritme kemahasiswaan dengan baik. Setiap orang memiliki level kemampuan adaptasi yang berbeda. Dan itu merupakan satu hal yang lumrah terjadi.

Pengkaderan kalian lebih mudah. Jika melihat kondisi global dari kacamata yang lebih makro, segala hal kini memang lebih mudah. Zaman bergeser dan nilai-nilai memuda, bisa kita saksikan dimana saja dan dalam bidang apa saja. Dunia kedokteran pun demikian, cara kita memandang penyakit infeksi pada zaman dahulu dan sekarang sudah berbeda. Semua dipermudah dengan lahirnya antibiotik. Jika hal besar bergeser, tak perlu heran jika hal-hal kecil juga menunjukkan perubahan.

Membela dan menolong teman. Siapapun tidak akan pernah tahu kapan kita akan meminta pertolongan pada orang lain. Oleh karena itu, menolong teman akan menjadi nilai yang sangat positif selama tidak dilakukan saat ujian 😀

Setahun menjalani Proses Pengkaderan menjadikan batin terasa sangat kaya akan hikmah. Tidak semua orang bisa menyambut hal baru dengan sangat positif dan sangat negatif. Saya pribadi memilih untuk tetap memfilter segala hal, memilah nilai-nilai mana yang penting, meneladani hal positif dari para senior saja dan ikhlas menjalani prosesnya meski hati tak jarang menggerutu.

Pengkaderan akan terus berlanjut hingga akhir

Proses, proses akan selalu berlanjut untuk mengevaluasi dan memperbaiki hal-hal yang perlu mendapat perhatian lebih. Bonsai yang indah tidak tercipta dari satu atau dua kali pangkas saja, namun ribuan kali dipangkas barulah ia menjadi tanaman yang memiliki estetika.

Dalam setiap proses akan selalu ada human error. Dan hingga hari ini saya masih menganggap bahwa kata-kata bersifat judgmental dengan nada yang menjatuhkan adalah bagian dari human error. Cukup lihat nilai-nilai yang hendak disampaikan dan jangan melihat packagenya saja, karena mungkin kesalahan bisa sering terjadi dalam membungkus sebuah nilai.

Proses akan terus belanjut sampai akhir. Meski pengkaderan formal telah berakhir justru menjadi awal dari pengkaderan informal. Sebagai mahasiswa, harus selalu diingat bahwa suatu hari kita akan terjun di masyarakat untuk menerapkan ilmu yang didapat di bangku kuliah. Dan terjun di masyarakat akan menjadi ajang pengkaderan yang lebih memacu adrenalin.

Silver Tsunami, tantangan baru negara Asia

Laporan: Iin Tammasse dari Singapura

*Terbit di Koran Tribun Timur 21 Juli 2015

Silver Tsunami mungkin tidak seberbahaya Tsunami yang melanda Indonesia 2004 lalu. Tapi siapkah kita menghadapi Silver Tsunami? Alias peningkatan jumlah populasi usia lanjut yang begitu cepat.

Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi serta angka harapan hidup yang juga meningkat membuat kita tidak asing lagi dengan istilah Aging Population atau Penuaan Populasi. Pergeseran demografi ini tentu harus mendapat perhatian yang serius oleh pemerintah khususnya di bidang kesehatan. Karena diperkirakan pada tahun 2050 jumlah penduduk usia lanjut diatas 60 tahun akan melebihi penduduk usia 15 tahun.

Populasi unik ini mengundang keprihatinan oleh  Asosiasi mahasiswa kedokteran se-Asia untuk berkumpul membicarakan hal ini pada The 36th Asian Medical Student Conference di Singapura 5-12 Juli 2015, yang mengusung tema “Embracing the Silver Tsunami”. Dalam konferensi ini dihadiri 500 Mahasiswa Kedokteran dari Indonesia, Cina, Taiwan, Jepang, Bangladesh, India, Malaysia, Thailand, Hongkong, Filipina, Korea Selatan, Cambodia serta Australia dan Inggris yang ikut berpartisipasi.

Dalam Konferensi yang dibuka oleh Menteri Kesehatan Singapura ini, para delagasi diberi kesempatan mendekatkan pemahaman terhadap  Kedokteran Geriatri dan mengembangkan ide-ide baru dalam diskusi aktif serta menambah pengetahuan dan skill dalam menghadapi Silver Tsunami.

Yang menarik adalah para delegasi mendapat kesempatan bertukar informasi mengenai kesiapan negara masing-masing dalam menghadapi ledakan populasi lansia di masa akan datang. Singapura adalah salah satu negara dengan peningkatan jumlah populasi lansia yang tinggi. Diperkirakan pada tahun 2030 satu dari lima penduduk adalah lansia berusia 65 tahun ke atas. Tak bisa dipungkiri hal ini merupakan akibat dari perkembangan ilmu pengetuan, teknologi dan kedokteran yang pesat dalam dekade ini.  Meskipun memiliki populasi yang kecil, Singapura ternyata sangat tanggap dalam menghadapi masalah ini. Pemerintah Singapura sudah memberikan layanan kesehatan yang cukup memadai dan tersedianya komunitas-komunitas bagi lansia untuk tetap aktif di masa senja.

Menurut WHO, perubahan demografi ini membutuhkan perhatian khusus dari dunia kesehatan yang harus mengakomodasi kebutuhan lansia dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. Bahkan PBB telah mengkategorikan pelatihan dan pendidikan bagi lansia sebagai salah satu prioritas global. Fenomena ini bukan tanggung jawab tenaga medis semata, namun membutuhkan keterlibatan generasi muda untuk proaktif dalam komunitas untuk  mendukung populasi lansia.

blekekek
Arham, Iin, Safara dari AMSA Unhas di depan Science Building

Venesia, Warisan Nyata Sejarah dan Budaya Eropa (Harian FAJAR)

Dimuat di Harian FAJAR 8 Juni 2013

Oleh : Iin Tammasse

Venesia, Italia

(Foto: iin fadhilah)

Stasiun kereta api St. Lucia Venesia menjadi persinggahan terakhir setelah menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 10 jam dari kota Zurich setelah sebelumnya transit di Milan. Tepat 16 April lalu,  di salah satu kota yang terletak di bagian utara Italia ini, penulis dan rombongan melakukan  Study tour selama empat hari. Didampingi oleh Guru bidang studi Sejarah, perjalanan kami di kota asal Marco Polo ini pun dimulai.

Sesaat setelah tiba di penginapan, kami pun bergegas kembali berkumpul untuk berkeliling kota menyusuri Kanal Grande yang membelah kota Venesia. Kanal Grande inilah yang menjadi jalanan utama dan pusat transportasi air. Tidak adanya kendaraan motor atau mobil menjadi salah satu daya tarik Venesia. Segala jenis  transportasi dipusatkan di atas kanal-kanal seperti perahu, gondola serta bus air. Selama masa study tour, kami difasilitasi kartu Passday untuk  menggunakan Bus air (vaporetto). Bus air ini berbentuk seperti kapal ferry dan sangat disipilin waktu, berhubung di atas kanal tidak terjadi kemacetan seperti di jalan raya.

Suasana kota semakin terlihat berbeda dengan bangunan-bangunan khas Eropa, mulai dari bangunan gaya bizantium, gotik, renaissans hingga baroque berjejer rapi di sekitar kanal. Panorama kota terapung ini juga diperindah dengan Jembatan Rialto dan Accademia yang menghubungkan kedua sisi kanal. Terdapat kurang lebih sekitar 400 jembatan-jembatan kecil di kota bersejarah ini.

Oleh pembimbing Sejarah, kami yang telah dibagi ke dalam beberapa kelompok diinstruksi untuk melakukan observasi pada objek sejarah tertentu. Kelompok penulis ditugaskan untuk mengobservasi Katedral St. Maria yang berada di Pulau Torcello (sekitar satu jam dari Venesia). Untuk sampai di Pulau Torcello kami harus beberapa kali berganti bus air di Pulau Murano. Di pulau kecil yang dijuluki sebagai `pulau kaca ini kami bisa melihat proses pembuatan kaca hias oleh ahlinya secara langsung.

Setibanya kami di lokasi Katedral St. Maria, kami pun tidak sabar untuk segera masuk ke dalam. Sebelumnya kami harus membayar tiket masuk sekitar 6 €. Karena guide utama berbahasa Italia maka kami harus menyewa alat penerjemah berbahasa Jerman seharga 2 €. Katedral yang berasitektur Venetian-Byzantium ini tidak hanya terlihat menakjubkan dari luar. Bagian interior pun terlihat mengagumkan dengan seni kerajinan mozaik yang membentuk lukisan pada beberapa dinding gereja.

Cuaca yang bagus tentu menjadi pendukung utama lancarnya kegiatan ini. Dengan berbekal peta kecil, kami menelusuri jalanan-jalanan kecil Venesia yang berliku-liku seperti labirin. Jalanan tersebut memang diperuntukkan untuk pejalan kaki mengingat tidak adanya kendaraan yang lalu lalang. Sesekali penulis dan teman-teman menikmati Gelato  atau es krim khas italia yang terkenal sangat enak dengan harga terjangkau.

Objek sejarah lain yang kami kunjungi terletak di kawasan Piazza San Marco. Piazza San Marco ini adalah sudut yang sangat penting karena merupakan alun-alun utama Venesia. Luas dan dipenuhi burung-burung merpati yang jinak serta dikelilingi bangunan berarsitektur romawi yang kental. Sehingga tidak heran jika keindahan dan keunikan Venesia mampu menarik sekitar 20 juta turis mancanegara setiap tahunnya.

Observasi kedua kami lakukan di salah satu maskot Venesia yaitu Gereja Basilica San Marco. Gereja berasitektur Bizantium ini dijuluki sebagai Chiesa d’Oro atau gereja emas karena kubahnya yang didominasi lapisan emas, sebagai simbol status kekayaan dan kekuasaan Venesia pada abad ke-11.

Tepat di sebelah kanan Basilica San Marco terdapat Palazzo Ducale atau istana dari penguasa tertinggi Venesia zaman dahulu. Istana yang dijadikan pusat pemerintahan ini dibangun sekitar tahun 1340. Namun sejak tahun 1923 Palazzo Ducale dibuka sebagai museum untuk umum. Terdapat dua pintu masuk yaitu Porta della Carta sebagai pintu masuk utama sebelah barat dan Porta del Fruminto sebelah selatan yang kini menjadi pintu masuk bagi pengunjung museum. Bangunan Palazzo Ducale terdiri dari beberapa tingkatan. Pada tingkatan Basement terdapat penjara untuk para tahanan, penjara ini juga dihubungkan oleh Bridge of Sighs dengan ruang interogasi Palazzo Ducale. Jembatan ini dinamakan Bridge of Sighs karena disinilah tahanan melihat dunia luar untuk terakhir kalinya sebelum memasuki ruang tahanan yang gelap.

Ruangan yang menarik lainnya adalah Sala del Collegio. Disini merupakan ruang tunggu duta besar yang hendak bertemu dengan Duke. Ruangan ini tampak sangat luas dengan dekorasi yang terkesan mewah. Pada dinding terpampang lukisan-lukisan untuk menunjukkan kejayaan dan kekuatan Venesia pada masa tersebut.

Kolaborasi seni dan sejarah Venesia tidak perlu diragukan lagi. Gallerie dell`Accademia misalnya adalah salah satu galeri lukisan terbaik di Eropa. Disini dapat ditemui karya-karya pelukis ternama seperti Bellini, Titian, Veronese ataupun Tintoretto. Terdapat sekitar ratusan lukisan yang menggambarkan sejarah perjalanan seni Venesia dari abad ke-14 hingga 18.

Waktu selama empat hari pun terasa tidak cukup untuk mengeksplorasi Venesia yang hanya seluas 2.467 km2 ini. Meskipun singkat, Venesia mengambil tempat tersendiri di dalam memor. Mengisahkan cerita bahagia dan bangga untuk melihat secara langsung salah satu  warisan nyata seni, sejarah serta budaya peradaban Eropa. (*)

Pendidikan Berkarakter Lahirkan Penduduk Bermutu (Harian FAJAR)

Pendidikan Berkarakter Lahirkan Penduduk Bermutu

Oleh : Iin Tammasse

*Dimuat di Harian FAJAR 8 April 2013

(Penulis saat bersama rekan mengunjungi ETH Zurich, Swiss)

Infrastruktur memadai, stabilitas keamanan dan ekonomi yang kuat, serta segala aspek yang membuat Swiss menjadi negara termakmur di dunia. Apa sih kelebihan negara yang kekayaan alamnya jauh dibawah dibandingkan dengan Indonesia namun mampu menjadi unggul di segala lini?

Optimalisasi sumber daya manusia (SDM) oleh dunia pendidikan menjadi kunci bangsa ini lahir menjadi bangsa yang berkarakter. Subsidi besar-besaran di bidang pendidikan oleh pemerintah Swiss semata-mata untuk melahirkan penduduk yang bermutu dan berinovasi tinggi. Sekolah setingkat SD, SMP hingga SMA menjadi hal yang wajib dan gratis bagi seluruh penduduk termasuk bagi penduduk asing. Yang mengesankan, angka buta huruf pun hampir mencapai 0%.

Menjadi siswa pertukaran pelajar di Swiss merupakan suatu kesempatan besar untuk melihat lebih dekat dunia pendidikan yang dinilai berkualitas baik. Guru yang berperan sebagai fasilitator tidak menyediakan textbook tebal melainkan hanya lembaran-lembaran materi di setiap pertemuan. Selain praktis, hal ini membuat siswa tidak berpatokan pada textbook. Lembaran materi ini hanya untuk  memancing siswa membuka kemampuan berpikir masing-masing.

Dari peninjauan sehari-hari, model pembelajaran yang digunakan mengutamakan ekspresi individu siswa (individual self expression). Keaktifan siswa memberikan sumbangsi pemikiran di kelas seperti menyatakan pendapat, memberi pertanyaan dan diskusi menjadi inti dari proses belajar mengajar. Awalnya penulis mengira hal itu akan mengganggu proses transfer ilmu, namun ternyata keaktifan tersebut yang menjadi inti dari proses belajar mengajar. Selain untuk menunjukkan ketertarikan pada tema pelajaran, juga secara tidak langsung dapat melihat kompetensi individu siswa secara spontan.

Sehingga tidak heran jika di Swiss tidak memiliki sistem Ujian Semester ataupun Ujian Mid-Semester karena nilai tertulis bukanlah sesuatu yang menjadi tolak ukur kemampuan siswa.  Hanya ada ulangan harian untuk masing-masing sub-materi. Uniknya, terdapat dua kolom penilaian yaitu Punkt sebagai nilai tertulis dan Mündlich sebagai nilai keaktifan selama proses belajar mengajar dengan skala penilaian dari 1 sampai 6. Namun tidak berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia, di Swiss terdapat Matura Prüfung yang setara dengan Ujian Akhir Nasional.

Dalam keseharian siswa tidak hanya diberikan teori, namun juga diajarkan bagaimana aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan pendapat Ahli Pendidikan Swiss, Johan Pestalozzi bahwa metode pembelajaran yang baik adalah metode pengalaman. Ilmu yang diimplementasikan dalam pengalaman akan lebih membekas dan masuk ke dalam alam bawah sadar.

Pendidikan berkarakter Swiss tercermin dari pelaksanaan Maturarbeit bagi siswa jenjang terakhir Gymnasium (setara SMA). Maturarbeit ini adalah proyek individu yang bisa berupa penelitian ilmiah, eksebisi karya seni, penulisan buku dan lain sebagainya dalam kurun waktu satu tahun. Proyek ini bertujuan memberikan pengalaman sebagai orientasi tentang dunia pekerjaan, mendidik siswa menjadi lebih mandiri dan bertanggung jawab dalam mengorganisir suatu hal

Istilah tinggal kelas di kalangan pelajar bukanlah sebuah hal yang memalukan. Jika siswa tidak memenuhi standar penilaian maka harus mengulang hingga mencapai standar yang telah ditentukan. Karakter jujur dan individual membuat aksi saling contek-mencontek menjadi pemandanan yang jarang terlihat. Hal ini terjadi karena sedari usia dini sudah ditanamkan nilai-nilai bahwa hal tersebut bisa merusak diri mereka sendiri.

Beginilah cara Swiss mencetak penduduk berkualitas melalui pendidikan berkarakter. Berguru pada negara yang masyarakatnya memiliki produktivitas tinggi tentu sangat menarik. Tidak ada kata terlambat untuk Indonesia yang baru memulai. Harapan untuk memajukan bangsa kita masih ada, di tangan pelajar-pelajar Indonesia yang kelak akan menjadi nahkoda untuk kemudi masa depan. Indonesia bisa!