it’s been a long time

I am at a crossroads. When we are at crossroads, we often feel dread and paralysis. The current life is quite less-intense as how it used to be due to the COVID-19 pandemic. Most people are willing to take this #stayathome action labeled “rebahan” as a big chance to live their happy slow life. Well, me too. But, adjusting from the past life, abundant and terrific life as a medical student is a bit challenging.

It’s been a long time since the last time I posted on this page. Well, I have much to write in my drafts though, but several things were revealed to fix from the day one of this year so I barely couldn’t manage to share feelings and thoughts (I don’t care if some people come for a regular check).

We’re getting into the middle of twenty-twenty. I began the year with a hattrick exams, followed by some stressful episode and ‘I could have done better‘ guilty feelings. Medicine is too wide to be true, too much to learn, and too little time. It was a daunting exams. It’s time for a little dose of reality. I didn’t make it to be a valedictorian this time, but graduated as cumlaude (GPA 3.95) is enough to start the next journey as lifelong learner.

An entirely different life as I sketched at the end of 2019 was happening. I met my man and we decided to settle down this year. Despite of a super plan I made, the X factor involvement was undeniable. Let’s be honest. It was the greatest broke I have to endure in my whole life. The piercing cry I have never expected, as I was born to be an alpha with multiple stories and mitigations I could manage. I constantly told myself that things aren’t going to end badly. A bit less dramatic obsession to start a new life with this one. I should map out everything from the start, adjusting expectations as I always do when things didn’t work out as how it should be. I believe in His plan is the greatest plan after all.

I wouldn’t consider myself as a pathetic. I somehow motivated day by day to start a new life and making more and more possible decisions as I have this extra two months free before the internship started in August. Here’s what it’s going to take to get real. That’s not easy as it sounds. Life may never be as mind-expanding as we desire to have. I have accomplished a lot in my undergraduate life, I shouldn’t lose any hope in this adult land. Those years come with hefty price tag, unrewind moments, and so on.

So the questions will be: Master degree or working in government owned hospital? emergency room or a stunning practice room in aesthetic clinic? taking hospital management courses or biomedical researcher-as I always dream of. PhD candidate with a thick jacket everyday or a tough-life as physician attendant in hospital? starting a business or starting a family first?- they all are squirrling inside my mind, within familiar framework. I have a once in a lifetime chance to try on this wide spectrums of future possibilties.
Bismillah, Insha Allah.

Puisi terakhir bulan ini


  1. di tanganku ada duri, sisa mawar
    yang kau titipkan di meja makan
    sebagai isyarat yang lebih kejam
    —-dari rupa kenangan


  2. sebuah pisau tertancap di mataku
    ada yang mengucur dan berlinang
    tak tahu mana darah, mana air mata
    sebab yang hilang bukan ingatan


  3. jika tubuhku adalah puisi,
    Aku bukan apapun, selain semesta
    yang meniadakanku, dan
    : meng-aku-kanmu

  4. sayup terbisik rambat api,
    –di liang telinga
    yang masih membara,
    menghanguskan isi kepalaku

    Makassar, 31 Agustus 2019

Hingga Aku tak terlihat

di matamu,
tidak kutemukan harapan
hanya lawan bicara yang sepadan
yang mencari-cari keterkaitan

di matamu,
kubendung sinar yang menjadikanku teduh
bersama teh yang pagi-pagi kuseduh
saat hatimu masih memilih beku

kau tak harus mengenalku,
yang kini menatap mata yang lain
walau tetap di matamu,
aku ingin tinggal selamanya

membersamaimu melihat dunia
di suatu masa aku tak lagi terlihat

Osaka, 13 Agustus 2019

Aku dan tabahku yang hilang suara

tak ada kata yang benar-benar bisa mewakili kita,
oleh makna yang bisa lebih terburu-buru tiba,
diperantarai senyuman,
sebelum kata mendarat di pintu telinga,
mengetuk hati yang samar tertutup rapat

tanpa sengaja,
membiarkanmu menjadi pilihan
adalah menuntunku
ke luka yang kecewa
–lagi menganga

walau hanya sepintas fatamorgana,
kau jelas mampu membekali nelangsa,
di perjalananku yang hilang arah
dan tabahku yang hilang suara

Osaka, 13 Agustus 2019

Di tepi telaga

Tak ada yang berhak menghakimimu
pun tak ada yang berkewajiban memahamimu
kau hidup untuk keutuhan, namun tak harus selalu utuh

tak harus selalu bersembunyi
kuyakin kau lebih paham makna sunyi
semoga tak pernah kau sadari
aku tak pandai menahan hati bersimfoni

walau kita mampu melangkah sendiri sendiri
sisakan aku satu tempat di belakangmu
akan akan sisakan ribuan destinasi untukmu
agar kau mengerti,
mengapa kita bergenap

Osaka, 13 Agustus 2019

Kita tak perlu sama

Apa yang berbahaya dari lembaran-lembaran itu?

Apa yang berbahaya dari tahta elit-elit itu?

Apa yang berbahaya dari pemikiran-pemikiran bebas itu?

Sesungguhnya tidak ada, hanya ketakutanmu akan ketiadaan makna dirimu

Inferioritas dan kesempitan caramu melihat dunia yang lebih berbahaya

Bukan aku merasa benar, kawan!

Kau dan perasaanmu yang merasa lebih benar justru jauh lebih berbahaya

Padamkan, dunia mampu menjadi indah denganku dan denganmu, yang tak perlu selalu sama.

Di pemakaman

Di pemakaman perasaan kita bersepakat untuk membunuh bayangan pikiran, sambil menenun kain kafan berutaskan janji,

sedang wangi melati tak sabar menggiringmu ke ringkih peti mati,

disana akan kau temukan tulang rusukku, bertuliskan goresan namamu, boleh kau tancapkan sebagai pengganti nisanku.

kini kukembalikan rasa, bersama payung hitam yang lebih terluka kala itu.

sedang jasadku? akan bersegera membumi,
dimana pijak tapak anak-anakmu kelak bermain dan menumbuhkan bunga yang kau selip di sela rambut wanitamu.

di pemakaman perasaanku,
di hari bahagiamu