Puisi terakhir bulan ini


  1. di tanganku ada duri, sisa mawar
    yang kau titipkan di meja makan
    sebagai isyarat yang lebih kejam
    —-dari rupa kenangan


  2. sebuah pisau tertancap di mataku
    ada yang mengucur dan berlinang
    tak tahu mana darah, mana air mata
    sebab yang hilang bukan ingatan


  3. jika tubuhku adalah puisi,
    Aku bukan apapun, selain semesta
    yang meniadakanku, dan
    : meng-aku-kanmu

  4. sayup terbisik rambat api,
    –di liang telinga
    yang masih membara,
    menghanguskan isi kepalaku

    Makassar, 31 Agustus 2019

Advertisements

Hingga Aku tak terlihat

di matamu,
tidak kutemukan harapan
hanya lawan bicara yang sepadan
yang mencari-cari keterkaitan

di matamu,
kubendung sinar yang menjadikanku teduh
bersama teh yang pagi-pagi kuseduh
saat hatimu masih memilih beku

kau tak harus mengenalku,
yang kini menatap mata yang lain
walau tetap di matamu,
aku ingin tinggal selamanya

membersamaimu melihat dunia
di suatu masa aku tak lagi terlihat

Osaka, 13 Agustus 2019

Aku dan tabahku yang hilang suara

tak ada kata yang benar-benar bisa mewakili kita,
oleh makna yang bisa lebih terburu-buru tiba,
diperantarai senyuman,
sebelum kata mendarat di pintu telinga,
mengetuk hati yang samar tertutup rapat

tanpa sengaja,
membiarkanmu menjadi pilihan
adalah menuntunku
ke luka yang kecewa
–lagi menganga

walau hanya sepintas fatamorgana,
kau jelas mampu membekali nelangsa,
di perjalananku yang hilang arah
dan tabahku yang hilang suara

Osaka, 13 Agustus 2019

Di tepi telaga

Tak ada yang berhak menghakimimu
pun tak ada yang berkewajiban memahamimu
kau hidup untuk keutuhan, namun tak harus selalu utuh

tak harus selalu bersembunyi
kuyakin kau lebih paham makna sunyi
semoga tak pernah kau sadari
aku tak pandai menahan hati bersimfoni

walau kita mampu melangkah sendiri sendiri
sisakan aku satu tempat di belakangmu
akan akan sisakan ribuan destinasi untukmu
agar kau mengerti,
mengapa kita bergenap

Osaka, 13 Agustus 2019

Kita tak perlu sama

Apa yang berbahaya dari lembaran-lembaran itu?

Apa yang berbahaya dari tahta elit-elit itu?

Apa yang berbahaya dari pemikiran-pemikiran bebas itu?

Sesungguhnya tidak ada, hanya ketakutanmu akan ketiadaan makna dirimu

Inferioritas dan kesempitan caramu melihat dunia yang lebih berbahaya

Bukan aku merasa benar, kawan!

Kau dan perasaanmu yang merasa lebih benar justru jauh lebih berbahaya

Padamkan, dunia mampu menjadi indah denganku dan denganmu, yang tak perlu selalu sama.

Di pemakaman

Di pemakaman perasaan kita bersepakat untuk membunuh bayangan pikiran, sambil menenun kain kafan berutaskan janji,

sedang wangi melati tak sabar menggiringmu ke ringkih peti mati,

disana akan kau temukan tulang rusukku, bertuliskan goresan namamu, boleh kau tancapkan sebagai pengganti nisanku.

kini kukembalikan rasa, bersama payung hitam yang lebih terluka kala itu.

sedang jasadku? akan bersegera membumi,
dimana pijak tapak anak-anakmu kelak bermain dan menumbuhkan bunga yang kau selip di sela rambut wanitamu.

di pemakaman perasaanku,
di hari bahagiamu

Darah Kata

sesekali kau diam dan tidak berkata apa-apa
saat kita mulai dibunuh waktu. kau enggan berpindah
walau sehasta

rongga dadaku sudah sesak dipenuhi kata
menguji rindu yang terduduk di beranda
tak pernah beranjak walau sedepa

jika,

sebentar lagi kata menjadi arwah
kau boleh tertawa
karna rasa kehilangan,
ingin kubalas nyawa

menghilanglah!

Makassar, 1 Agustus 2019