Breaking bad news: sebuah pelajaran

Breaking bad news adalah salah satu skill yang sedan saya coba latih dan pelajari. Beruntung seorang senior sangat bijak memberi saya ruang untuk belajar hal tersebut. Beberapa hari yang lalu saat saya terbangun di suatu subuh, seorang teman sejawat sedang terburu-buru membuka handscoen. Sebagai simbol kepekaan, saya mendekat dan bertanya untuk apa. Rupanya pasien yang sedang ia pantau tanda vital sedang mengalami penurunan tekanan darah bahkan nadinya mulai melemah.

Dengan sigap saya juga segera mengambil Alat Pelindung Diri (APD) kemudian bahu membahu bersama teman saya sesama dokter muda dan perawat yang bertugas. Saat tiba giliran saya, saya berusaha untuk memperbaiki posisi, memberikan tekanan dan kecepatan secara maksimal sesuai dengan panduan Push Hard, Push Fast dimana dalam 1 menit saya harus menghasilkan 100 kali pompa.

Dalam sekejap saya yang tadi berjalan sempoyongan baru terbangun (saat itu pukul 04.00 dini hari) langsung menjadi awas dengan kesadaran penuh. Pikiran saya seakan menembus dinding dada bapak tersebut, saya memvisualisasikan jantungnya yang berhenti berdetak. Tangan saya perlahan meraba dan memastikan titik yang harus saya tekan dengan tangan kiri di atas tangan kanan. Bismillahirrahmanirrahim, saya memulai resusitasi jantung pagi itu dengan tekanan yang sangat mantap dan mata yang tajam lurus menatap monitor. Perasaan penuh cemas, semoga tekanan ini mampu memberi harapan untuk keluarganya yang sudah menangis tak karuan.

Pikiran dan perasaan saya berdesir. Segala macam cara telah dilakukan. Hingga tiba waktunya untuk memberi kabar terakhir pada keluarga pasien bahwa, ‘kami telah melakukan yang terbaik’. Sebuah kalimat pendek dan sederhana, namun sulit untuk mengungkapkan. Suatu masa dimana kita berusaha menahan air mata, ketika orang-orang disekeliling telah banjir air mata. Suatu masa dimana lisan kita telah diakui secara hukum untuk secara sah menyampaikan kepada keluarga pasien bahwa orang yang mereka cintai telah kembali ke pelukan sang Maha Mencintai.

Tentu tidak akan pernah mudah. Dan sampai detik ini saya terus berusaha belajar untuk bisa memampukan jiwa dan raga dalam menyampaikan kabar tersulit yang siapapun tidak ingin mendengarnya.

#Day7

Kau dan waktu

Kau dimiliki waktu
Saat diantara kita ada sekat yang semu
Mungkin hari ini akan jauh lebih biru, tanpamu

Boleh kutuangkan rasa cemburu
Pada waktu,
Yang senantiasa menyembunyikanmu
Pada waktu,
Yang belum mengizinkanmu pulang sore itu

Kelak perjumpaan kita tidaklah sama
Aku dan cerita nelangsaku
Telah kuhamparkan di atas semesta
Yang tidak terburu-buru berucap rindu

Walau akhirnya
Waktu akan menghadiahkan kita
dirinya sendiri
dan tak lain,

dirimu, hanya dirimu saja

Makassar, 16 Desember 2018

#Day6

Jas Putih 2

Tak terasa jas putih milik saya sudah mulai menguning. Mungkin karena terlalu sering dipakai tidur di sembarang tempat jika sedang jaga malam. Sudah setahun saya diberi kesempatan oleh Allah SWT. merasakan secara dalam tentang arti dari sebuah kehidupan serta arti dari sebuah kesehatan itu sendiri.

Tapi setelah setahun bersama rasa lelah yang bertubi-tubi menghantam tiap harinya. Rasa lelah yang tidak bisa membuat kita berfikir lebih jernih, bahkan tersenyum lebih lebar untuk menatap matahari. Sejatinya, rasa lelah ini haruslah dinikmati. Meskipun esok hari jelas tidak akan lebih mudah dari hari ini.

Satu hal saya menyadari makna dari sebuah pepatah umum yang berkata “Hidup ini bukan tentang menunggu badai selesai, namun tentang bagaimana menari dibawah hujan”. Saya baru mengerti setelah termenung beberapa hari, bahwa memang saya tidak punya pilihan lain. 5 tahun sudah terlewati dengan badai yang tidak mudah. Masih ada 10 tahun kedepan untuk badai badai selanjutnya. Namun apakah saya harus menggerutu menunggu badai ini selesai? Tentu tidak.

Saya lebih menyadari bahwa meskipun di tengah remuknya badan setelah jaga malam. Saya menyadari bahwa perjalanan ini sangat indah untuk dinikmati. Maka dari itu, saya memilih tetap menulis, seletih apapun hari yang terlewati. Karena menulis adalah bagian dari menari itu sendiri. Karena menanti badai ini berhenti adalah bagian dari kemustahilan.

#Day5

Jas Putih 1

Hari ini adalah hari yang panjang. Hampir setiap hari saya menghela nafas panjang setelah tiba di rumah, di titik ternyaman dalam hidup ini. Merebahkan lelah di atas kasur layaknya sebuah kemenangan ketika mengakhiri hari hari panjang di lorong rumah sakit. Lelah sudah berada di puncaknya dan terkadang terlelap hingga pagi menyambut. Begitu seterusnya, tiap hari, tiap minggu hingga tak terasa berganti tahun.

Banyak yang mengira, kami yang berjas putih akan berjalan dengan rasa bangga di atas kaki. Sejatinya, seorang dokter diberi label sejak pendidikan dasar bahwa kami adalah seorang long life learner atau pembelajar seumur hidup. Baru saya sadari bahwa seorang dokter tidak akan pernah berada di puncak piramida. Karena ia harus senantiasa berada dalam suasana ‘ingin tahu’ dan senantiasa mengais ilmu demi untuk mempertanggungjawabkan gelar yang telah disandang.

Seorang dokter muda berada di keduanya, yaitu pendidikan dan pelayanan. Baiklah sebelum lebih lanjut saya ingin bercerita tentang apa sih tugas Dokter Muda? Dokter Muda adalah lulusan sarjana kedokteran yang menjalankan praktek secara langsung dibawah supervisi Dokter Spesialis yang dilakukan di Rumah Sakit Pendidikan dan Rumah Sakit jejaring. Untuk tugas pendidikan kami tetap mengikuti kegiatan kuliah, mengerjakan tugas referat, tugas laporan kasus, menulis puluhan status pasien, diskusi dengan PPDS dan juga dengan Supervisor. Untuk tugas pelayanan yang merupakan bagian dari pendidikan itu sendiri kami turun langsung memeriksa pasien, memeriksa tanda-tanda vital, melaksanakan jaga malam dalam membantu PPDS menjalankan tugasnya. Semua dilakukan tiap hari, hari libur adalah hari sabtu minggu yang diisi dengan jadwal jaga.

Pada akhirnya, ketika lelah menyapa. Saya senantiasa berusaha mengingat mundur apa yang membuat saya bercita-cita kuat untuk sampai ke titik ini. Betapa banyak orang di luar sana ingin menjadi seorang dokter muda. Kadang lelah itu perlahan sirna jika melihat wajah pasien yang dengan tulus mengucapkan terima kasih. Walau hanya sedikit perhatian yang bisa seorang dokter muda berikan, tentu dengan sedikit ilmu yang ia miliki.

#Day4

 

 

 

Belajarlah, rindu!

Aku ingin membiarkan rindu menenangkan dirinya. Sambil mengenalkannya pada lara yang menjadi sahabat paling karib saat ini. Di tepian mana lagi kita menepi. Mencoba berbaur dengan nelangsa yang siap menerkam hari-hari nanti. Walau seberapa jauh kau mencoba membutakan langkah. Hati ini tetap tahu kemana harus berpulang.

Bukan pada dirimu. Melainkan pada rindu yang telah mendewasa. Yang memilih bisu ketika harus berbicara. Tentang rindu. Semua masih sama tentang kau. Menyelisih jarak yang tidak ada ujungnya dan bergelayut pada sarang-sarang kenaifanku. Sungguh, andai rindu bisa kubagi. Jelas tak kan kubagi untukmu.

Secangkir kopi mencoba membenci kita. Sayup sayup kudengar ia meneriakkan kebencian dari riak yang dangkal. Jelas mereka bersaksi untuk rindu yang selayaknya harus berguguran. Tepat di antara jejas-jejas yang  kita ukir bersama.

Kemarin. ketika kau memilh melepaskan seutas tali, yang menjadi simbol keutuhan dari dua buah sepatu. Berjalan beriringan namun tak pernah bersatu. Mungkin rindu yang kualamatkan padamu tak pernah sampai. Karena ia telah mengakhiri hidupnya di depan pintu rumahku.

Di pintu rumahku yang menunggu ketukanmu. Bergegaslah untuk memulai tapak pertama, barangkali kau salah arah. Disanalah arahku, yang menunggu tanpa jenuh. Kau tak perlu khawatir, tidak ada yang paling kuat menarik rindu selain do’a. Dan jelas, kita mampu menunggu untuk keadaan dan ketiadaan yang diukir-Nya.

#day3

Mengapa menulis?

Mengapa menulis?

Pertanyaan ini senantiasa menjadi dilema untuk saya yang berada di lingkup generasi milenial. Saya teringat ketika menjadi seorang narasumber di sekolah dasar yang menjadi tempat saya menimba ilmu saat masih kanak-kanak. Seorang anak dengan berani mengacungkan jarinya untuk bertanya kepada saya. Setelah selesai, saya pun berbalik bertanya. “Dek, cita-cita kamu apa?” dan dengan lugas ia menjawab “Youtuber, kak!”.

Saya tidak pernah menyangka bahwa dalam kurang lebih 10 tahun cita-cita yang dahulunya hanyalah dokter, pengacara, guru, polisi sudah tidak lagi ramai digaungkan oleh anak-anak di bangku sekolah dasar. Saya jelas berdecak kagum dan memuji penanya tadi bahwa ia memiliki ide yang sangat out of the box.

Dahulu, kita senantiasa mengira bahwa memiliki pekerjaan yang mulia dan bermanfaat tentulah hanya sebatas menjadi dokter atau guru misalnya. Saat ini, generasi kita tidak lagi memikirkan hal tersebut. Bukan karena mereka menyampingkan asas kebermanfaatan. Namun ternyata dengan menjadi youtuber misalnya justru akan membawa manfaat yang jauh lebih besar. Apalagi jika kontennya positif dan memberi banyak perubahan yang baik dalam hidup orang lain.

Jika dikalkulasikan manfaatnya sudah bisa menjadi suatu angka eksponensial. Dan saya merasa bahwa generasi ini memikirkan tentang hal itu. Bekerja singkat, namun hasil banyak dan bertahan.

Bagi saya, begitu pula dengan menulis. Walau sejauh apa, sesulit apa dan sesempit apa waktu yang saya miliki, tekad dan keinginan kuat untuk konsisten dalam menulis tetap saya pertahankan. Saya tidak pernah tahu ada beberapa banyak orang yang tergugah dengan tulisan saya. Yang saya tahu, saya hanya bisa mengintip jumlah viewer dari stats di kolom dashboard blog ini.

Mungkin satu, mungkin dua namun itu cukup memberi saya banyak kebahagiaan bahwa diluar sana walau tidak saling bertatap muka. Ada orang lain yang menunggu tulisan sederhana yang saya bagi setiap harinya. Saya selalu memegang prinsip give, give and give bukan take and give. Menurut saya, jika kita menggunakan take and give, sama saja kita bisa menghitung kebaikan dan mengharap kebaikan yang sama akan kembali. Namun ketika kita menggunakan sistem give,give and give maka tentu kebaikan akan kembali dalam bentuk eksponensial yang tak terhitung. Mengapa? karena saya tidak sedang menghitung apa yang saya beri, karena itu bukan tanggung jawab saya. Tanggung jawab saya adalah memberi dengan keikhlasan penuh, karena kebaikan tidak selalu dapat dilihat secara kasat mata. Iman, kesehatan, keluarga yang utuh, teman yang baik adalah contoh dari segelintir kebaikan yang kita dapatkan dan sepatutnya untuk disyukuri.

Menulis adalah satu-satunya cara saya bisa berdoa dan bersyukur dalam satu lembaran yang sama. Do’a dan rasa syukur haruslah dituliskan. Mengapa? bukankah doa itu bersifat privacy. Tentu tidak. Agar siapapun yang membaca tulisan ini bisa membantu saya mengaminkan.

Menulis adalah tentang menebar kebermanfaatan. Menulsi adalah tentang menjadikan nama kita abadi, menjadikan kebahagiaan, do’a dan ketulusan kita untuk menjadi seseorang yang bermanfaat itu abadi. Dan hanya lewat tulisan semua bisa menjadi satu.

#Day2

Menyapa diri sendiri

Selamat datang di tulisan pertama saya untuk tantangan menulis #30DWC. Dalam 30 hari kedepan saya akan banyak mengupload banyak tulisan di blog ini sebagai wahana latihan menulis. Sejatinya, menulis adalah sesuatu yang perlu dilatih. Dan satu-satunya cara untuk bisa menulis adalah dengan menulis itu sendiri. So, dukung saya untuk berlatih. Karena tidak ada kata henti untuk belajar dan mengupgrade skill. Apalagi jika dikatikan dengan hobby saya yaitu menulis.

Berkenalan dengan mimpi adalah salah satu usaha untuk mengenal diri sendiri. Sebelum mengetahui apa goals kita tentu kita harus mengenal diri sendiri terlebih dahulu. Nah, siapakah kita? dan apa tujuan kita berada disini? Pertanyaan-pertanyaan itu adalah pertanyaan yang tidak berhenti saya tanyakan pada diri saya ketika saat awal memasuki remaja. Saya melihat terlalu banyak tulisan tulisan ” Jauhi Narkoba”, “Jangan Merokok” dan sebagainya. Seakan-akan bahwa semua tulisan itu ditujukan kepada kita anak remaja. Dimana untuk saya yang berada di lingkungan yang jauh dari kedua hal tersebut menjadi cukup bingung untuk memvisualisasikan dalam bentuk yang lebih real.

Saat itu saya mulai bertanya-tanya jika memang kita harus menjauhi hal-hal negatif itu, lalu apa yang harus kita lakukan? Dan saya membawa alam bawah sadar saya untuk senantiasa menyelami pertanyaan apa tujuan penciptaan kita sebenarnya atau  mengapa kita diciptakan. Pertanyaan ini sangat mudah didapatkan di dalam Al-Qur’an dan sangat jelas dijelaskan oleh guru-guru agama bahwa tujuan kita diciptakan tidak lain adalah untuk menjadi khalifah di bumi ini. Dan dalam menjadi seorang khalifah kita harus senantiasa menebar kebermanfaatan di muka bumi ini.

Ya, bermanfaat. Apalah arti kata bermanfaat untuk saya yang baru beranjak remaja. Baru memulai suatu fase kehidupan untuk mulai mengatur langkah akan kemana saya berpijak. Saat itu, saya merasa bahwa cukup sulit untuk menebar kebermanfaatan saat kita masih menyandang status ‘remaja’. Saat itu, jawaban paling sederhana dari kedua orang tua saya adalah saya harus belajar dengan baik agar bisa menggapai cita-cita. Dan dari situlah perjalanan ini dimulai.

Mungkin di usia yang sangat dini itu saya bisa bermanfaat untuk kedua orang tua saya. Saya bisa memberikan rasa bahagia dan rasa bangga atas pencapaian prestasi sebagai bukti yang lebih riil. Lalu saya pun tidak diam dan mulai mencari strategi untuk bisa aktif mengikuti berbagai kegiatan di luar sekolah, mulai dari kegiatan ekstrakurikuler dan sebagainya. Namun, semua itu tidak berhenti disitu.

Saya tetap ditantang di saat saat tertentu ketika harus pulang dengan tangan kosong, atau rasa sedih ketika tidak mampu membawa pulang piala. Saat itu saya merasa gagal dan tidak berarti, namun orang tua saya senantiasa menerima hal tersebut dan tetap menyemangati hingga saya lupa kekecewaan itu, bahkan membalikkannya menjadi cambuk untuk memenangkan kompetisi yang lain.

Namun akhirnya kembali lagi, kebermanfaatan itu belum juga terasa. Apa yang menjadi tujuan saya untuk menjadi seseorang yang bermanfaat belum juga mencapai kadar titrasi yang optimal. Saat masuk ke dewasa muda, saya mulai melihat bahwa sepertinya saya berada di jalan yang belum tepat. Kebermanfaatan yang saya rasakan belum cukup membuat saya bahagia. Sehingga sekali lagi saya terjebak dalam dua pilihan, menjadi bahagia atau menjadi bermanfaat. Kedua pertanyaan ini berseliwerang memaksa saya untuk memilih salah satunya.

#Day1