Mengapa menulis?

Mengapa menulis?

Pertanyaan ini senantiasa menjadi dilema untuk saya yang berada di lingkup generasi milenial. Saya teringat ketika menjadi seorang narasumber di sekolah dasar yang menjadi tempat saya menimba ilmu saat masih kanak-kanak. Seorang anak dengan berani mengacungkan jarinya untuk bertanya kepada saya. Setelah selesai, saya pun berbalik bertanya. “Dek, cita-cita kamu apa?” dan dengan lugas ia menjawab “Youtuber, kak!”.

Saya tidak pernah menyangka bahwa dalam kurang lebih 10 tahun cita-cita yang dahulunya hanyalah dokter, pengacara, guru, polisi sudah tidak lagi ramai digaungkan oleh anak-anak di bangku sekolah dasar. Saya jelas berdecak kagum dan memuji penanya tadi bahwa ia memiliki ide yang sangat out of the box.

Dahulu, kita senantiasa mengira bahwa memiliki pekerjaan yang mulia dan bermanfaat tentulah hanya sebatas menjadi dokter atau guru misalnya. Saat ini, generasi kita tidak lagi memikirkan hal tersebut. Bukan karena mereka menyampingkan asas kebermanfaatan. Namun ternyata dengan menjadi youtuber misalnya justru akan membawa manfaat yang jauh lebih besar. Apalagi jika kontennya positif dan memberi banyak perubahan yang baik dalam hidup orang lain.

Jika dikalkulasikan manfaatnya sudah bisa menjadi suatu angka eksponensial. Dan saya merasa bahwa generasi ini memikirkan tentang hal itu. Bekerja singkat, namun hasil banyak dan bertahan.

Bagi saya, begitu pula dengan menulis. Walau sejauh apa, sesulit apa dan sesempit apa waktu yang saya miliki, tekad dan keinginan kuat untuk konsisten dalam menulis tetap saya pertahankan. Saya tidak pernah tahu ada beberapa banyak orang yang tergugah dengan tulisan saya. Yang saya tahu, saya hanya bisa mengintip jumlah viewer dari stats di kolom dashboard blog ini.

Mungkin satu, mungkin dua namun itu cukup memberi saya banyak kebahagiaan bahwa diluar sana walau tidak saling bertatap muka. Ada orang lain yang menunggu tulisan sederhana yang saya bagi setiap harinya. Saya selalu memegang prinsip give, give and give bukan take and give. Menurut saya, jika kita menggunakan take and give, sama saja kita bisa menghitung kebaikan dan mengharap kebaikan yang sama akan kembali. Namun ketika kita menggunakan sistem give,give and give maka tentu kebaikan akan kembali dalam bentuk eksponensial yang tak terhitung. Mengapa? karena saya tidak sedang menghitung apa yang saya beri, karena itu bukan tanggung jawab saya. Tanggung jawab saya adalah memberi dengan keikhlasan penuh, karena kebaikan tidak selalu dapat dilihat secara kasat mata. Iman, kesehatan, keluarga yang utuh, teman yang baik adalah contoh dari segelintir kebaikan yang kita dapatkan dan sepatutnya untuk disyukuri.

Menulis adalah satu-satunya cara saya bisa berdoa dan bersyukur dalam satu lembaran yang sama. Do’a dan rasa syukur haruslah dituliskan. Mengapa? bukankah doa itu bersifat privacy. Tentu tidak. Agar siapapun yang membaca tulisan ini bisa membantu saya mengaminkan.

Menulis adalah tentang menebar kebermanfaatan. Menulsi adalah tentang menjadikan nama kita abadi, menjadikan kebahagiaan, do’a dan ketulusan kita untuk menjadi seseorang yang bermanfaat itu abadi. Dan hanya lewat tulisan semua bisa menjadi satu.

#Day2

Author: Iin Fadhilah

Close

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s