Pada damai yang memanggil

Lembaran ini kembali berdebu. Bukan karena saya tidak mampu mencumbui literasi. Ujung-ujung jari masih sama tergelitik untuk bercerita tentang nelangsa yang dimangsa oleh alam pikiran saya pada minggu-minggu terakhir ini.

Damai. Salah satu dari banyak kesalahan dalam mengartikan damai adalah ketika saya menyamaartikan damai sebagai bentuk sunyi dan senyap. Beberapa sahabat memilih untuk berteman sunyi ketika mereka sedang mencari ‘damai’ yang dimaksud. Bahkan saya sendiri, memilih membatasi bertatap layar dengan smartphone yang rasa-rasanya membuat saya tidak menjadi smart sama sekali dengan keputusan ini. Menebang satu demi satu sosial media yang sekiranya merenggut waktu untuk berliterasi.

Boleh jadi kamu terjerembab dalam hiruk-pikuk keramaian, namun tak sedikitpun gelisah yang menyambangi. Ataupun sebaliknya, kau berada dalam ruangan yang tenang dan menurutmu mendamaikan, namun kau tidak sedang ditemani oleh damai itu sendiri.

Bukankah kedamaian, ketenangan itu milikmu?

Ah tidak. Semoga saya tidak sedang berpura-pura lupa bahwa ternyata ‘rasa damai’ itu hanya milik Tuhan. Kita hanya diizinkan meminjam, hanya jika kita menunjukkan kesungguhan.

Perasaan, pikiran dan perhatian adalah kawan yang tak bisa terpisahkan. Ia hadir pada setiap nadir untuk mengenal seberapa dalam sebuah jiwa berkeinginan menjiwai kita. Betul bukan? Jika salah satunya tidak ada, mungkin kau perlu menelisik lebih jauh apakah ada kepura-puraan yang sedang ia mainkan.

Sejatinya, tak ada yang dapat kita berikan untuk ketiganya. Selain meminjam namanya di dalam doa. Agar kelak kecewa tidak lagi menjadi kawan setia. Sebab pengharapan pada manusia adalah seburuk-buruknya harapan. Jangan bergantung, sesekali atau dua kali.

Hadirkan saja do’a yang sama. Penduduk langit tak pandai mengkhianati janji, cukupkan saja kehadiranNya. Pertanyaan yang sama kudengungkan, kapan raga ini bertemu pada titik terdamainya. Ah, wahai diri yang apati. Sudah lupakah bahwa Tuhan hadir di sepertiga malam menanti kisahmu?

Rindangkan saja hati ini, jauhkan dari kecemasan untuk esok yang tidak pasti.

Bahkan ketika aku tak menjamin sanggup tidak mengkhianati, Dia berulang-ulang mengulang sumpah bahwa tak kan pernah  jauhdari urat dan nadimu.

Author: Iin Fadhilah

Close

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s