Elegi Dokter Muda

Pagi itu saya terbangun sangat pagi, saya terbangun dengan perasaan yang tidak sama seperti biasanya. Rasanya seperti ada tumpukan bunga-bunga bermekaran di dada (eits bukan jatuh cinta loh wkwk). Hanya saja hari itu 18 januari 2018, satu beban telah enyah untuk beberapa saat. Dan saya mengizinkan jiwa saya untuk merayakan hari tersebut. Ya, mereka menyebutnya hari yudisium. Sejenak memberi sedikit ruang bagi jiwa saya untuk bergembira mengabadikan moment dengan teman-teman, tertawa dan menandai hari itu sebagai simbol kebebasan sesaat.42BE2E6A-EC98-4274-A271-FB9A03EC1938.jpeg

Sejatinya saya tidak mengerti makna dari simbol bunga yang diberikan di pemakaman. Mungkin tidak jauh berbeda dengan memberikan bunga di hari yudisium sejawat. Baru 6 bulan sejak menjalani kepaniteraan akhirnya saya menyadari satu hal, bahwa  6 bulan lalu tersebut saya tidak sedang merayakan perpindahan jejak dari preklinik ke klinik. Namun, menutup satu persatu pintu untuk menuju jalan kebebasan menjalani hari-hari saya sebagai anak sekolah biasa (baca: manusia biasa).

“Di hari itu, saya telah menghibahkan diri saya untuk kemanusiaan. Berjanji setia untuk memberikan yang terbaik kepada mereka yang tidak saya kenal, di atas keluarga dan kepentingan pribadi saya”

Sayangnya, baru 6  bulan saya menyadari bahwa saya bukan anak sekolah biasa lagi.  I thought it’s not going to be so different. The same pressure, the same knowledge, the same teachers. Saya hanya meyakini bahwa fasilitasnya saja yang berbeda. Jika di preklinik semua serba manekin, ya di klinik semua adalah manusia. Sesimpel itu dan se-tidak spesial itu. Karena semua ujung-ujungnya akan berorientasi pada hasil ujian akhir, yaitu UKMPPD.

Seorang dosen yang saya sangat kagumi menghabiskan satu senja dengan kami dokter muda. Beliau memang tergolong masih muda di kalangan konsulen, namun saya tidak percaya bahwa semua kata-kata yang beliau lontarkan berjatuhan seperti emas berlian serta tamparan untuk diri saya sendiri.

Kalian sudah harus percaya diri, kalian harus berani membuat planning dan memasang target untuk pasien. Jangan cuma tensi-tensi saja!

Oh crap! tidak seharusnya saya sibuk memikirkan apa yang salah dari sistem pendidikan kedokteran di Indonesia. Mungkin kesalahan ada pada saya sendiri. Kesalahan dalam melihat diri saya sendiri masih sebagai ‘kuli ilmu’, bukan doctor in training seperti yang sistem pendidikan harapkan. Kesalahan kecil seperti membawa buku di bangsal (well, it’s not wrong but better not to). While ternyata semua pasien adalah “textbook” yang sejatinya wajib kita hatamkan.

Medical science is too wide to be trueThere are plenty of things you should memorisethousands of guidelines that updated annually yang kadang bikin bete karena terapi yang berubah. And that’s how medical works and that’s why you called a long life learner, simply due to the tsunami of new inventions, publications and theories found. Dan sebaik-baiknya ilmu adalah yang memberi kebermanfaatan until kemanusiaan.

Plak! Saya seakan berubah menjadi filsuf, bahwa kesalahan sebelumnya adalah tidak serta merta menghembuskan ruh percaya diri bahwa saya tidak sedang “coba-coba”. Oh ya, salah satu ketakutan untuk exploring more to our patients adalah we are afraid of rejection. Kadang ada rasa tidak enak jika pasien menganggap bahwa mereka adalah objek coba-coba kami. Hell no! we are not going to harm anyone. Tapi menurut saya, itu adalah sifat dasar manusia untuk cenderung menghindar dari hal-hal yang berpotensi merugikan.

Senja itu sudah cukup memasukkan ruh keyakinan, keteguhan hati dan tentunya rasa percaya diri. I’m going to give my fullest power as junior doctor in training, not as an ordinary medical student anymore (something that I should realise earlier). And yes, the hippocratic oath has been taken, there is no way back anymore, so just keep moving forward 🙂 

(I’m going to share all the stories through my rotation in clinical clerkship as junior doctor. I’m so excited to hear the feedback from you, feel free to write in comments below.)

Cheers,

Iin Fadhilah

 

 

Pada damai yang memanggil

Lembaran ini kembali berdebu. Bukan karena saya tidak mampu mencumbui literasi. Ujung-ujung jari masih sama tergelitik untuk bercerita tentang nelangsa yang dimangsa oleh alam pikiran saya pada minggu-minggu terakhir ini.

Damai. Salah satu dari banyak kesalahan dalam mengartikan damai adalah ketika saya menyamaartikan damai sebagai bentuk sunyi dan senyap. Beberapa sahabat memilih untuk berteman sunyi ketika mereka sedang mencari ‘damai’ yang dimaksud. Bahkan saya sendiri, memilih membatasi bertatap layar dengan smartphone yang rasa-rasanya membuat saya tidak menjadi smart sama sekali dengan keputusan ini. Menebang satu demi satu sosial media yang sekiranya merenggut waktu untuk berliterasi.

Boleh jadi kamu terjerembab dalam hiruk-pikuk keramaian, namun tak sedikitpun gelisah yang menyambangi. Ataupun sebaliknya, kau berada dalam ruangan yang tenang dan menurutmu mendamaikan, namun kau tidak sedang ditemani oleh damai itu sendiri.

Bukankah kedamaian, ketenangan itu milikmu?

Ah tidak. Semoga saya tidak sedang berpura-pura lupa bahwa ternyata ‘rasa damai’ itu hanya milik Tuhan. Kita hanya diizinkan meminjam, hanya jika kita menunjukkan kesungguhan.

Perasaan, pikiran dan perhatian adalah kawan yang tak bisa terpisahkan. Ia hadir pada setiap nadir untuk mengenal seberapa dalam sebuah jiwa berkeinginan menjiwai kita. Betul bukan? Jika salah satunya tidak ada, mungkin kau perlu menelisik lebih jauh apakah ada kepura-puraan yang sedang ia mainkan.

Sejatinya, tak ada yang dapat kita berikan untuk ketiganya. Selain meminjam namanya di dalam doa. Agar kelak kecewa tidak lagi menjadi kawan setia. Sebab pengharapan pada manusia adalah seburuk-buruknya harapan. Jangan bergantung, sesekali atau dua kali.

Hadirkan saja do’a yang sama. Penduduk langit tak pandai mengkhianati janji, cukupkan saja kehadiranNya. Pertanyaan yang sama kudengungkan, kapan raga ini bertemu pada titik terdamainya. Ah, wahai diri yang apati. Sudah lupakah bahwa Tuhan hadir di sepertiga malam menanti kisahmu?

Rindangkan saja hati ini, jauhkan dari kecemasan untuk esok yang tidak pasti.

Bahkan ketika aku tak menjamin sanggup tidak mengkhianati, Dia berulang-ulang mengulang sumpah bahwa tak kan pernah  jauhdari urat dan nadimu.