Dilema Mahasiswa, Kejar Prestasi atau Berorganisasi

Terbit di Harian Fajar (Link: http://fajaronline.com/2017/03/07/dilema-mahasiswa-kejar-prestasi-atau-berorganisasi)

Memasuki gerbang perguruan tinggi adalah impian setiap lulusan SLA. Dengan sendirinya menanggalkan gelar siswa lalu menyandang gelar sebagai mahasiswa. Menerima gelar mahasiswa, bersiap-siaplah bergumul “kemahasiksaan”.

Dunia baru akan memantik banyak kejutan. Tidak ada lagi pakaian seragam, namun pakaian bebas sopan. Waktu belajar dituntut belajar mandiri dan kelompok. Tidak diatur lagi protokoler lonceng jam pelajaran. Kuliah kadang dilakukan di luar kelas. Tanpa bangku dan meja. Dosen memberikan tugas harus tepat waktu. Tidak ada tolerir atau kompromi kalau terlambat menyetor tugas.

Dunia kemahasiswaan rada-rada sulit. Artinya, menjadi seorang mahasiswa bukanlah hal mudah. Bisa dipermudah jika kita mau menjalaninya dengan cantik. Harus pandai-pandai memainkan waktu. Jika tidak, kita akan kerepotan menyusun langkah-langkah pasti.

Caranya, kita harus menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa dengan semestinya. Menjadi mahasiswa jangan hanya sebatas mahasiswa biasa. Maksudnya datang kuliah tiap hari, duduk manis ikuti kuliah, diam-diam di kelas, selesai kuliah langsung pulang ke rumah. Tidak seperti itu dilakukan jika ingin memeroleh nilai plus.

Di kampus, kita harus membiasakan diri menunjukkan empati sosial yang tinggi. Jangan hanya bermasa bodoh (apatis). Itu semua bisa dimanifestasikan jika bergabung dalam organisasi di kampus. Di sana kita bisa unjuk diri dan mampu memberikan kontribusi positif di lingkungan kampus. Kita bisa menjadi model bagi rekan-rekan yang lain maupun junior yang akan bergabung nantinya.

Nah, di sinilah biasanya timbul dilema. Ibarat kata peribahasa lawas, bahwa “dimakan, ibu mati, tak dimakan, ayah mati.” Satu sisi kita mau peringkat dengan kejar Indeks Prestasi (IP) tinggi, sisi lain kita juga perlu berorganisasi.

Kadangkala orang tua pun ikut menabuh gendang. Apakah sebenarnya tujuanmu masuk kuliah? Bukankah untuk menuntut ilmu? Hindarilah beraktivitas selain menuntut ilmu. Organisasi itu hanya menjerumuskan ke dalam lubang kehancuran IP. Itu kata sebagian orang tua yang tidak mengerti urgensi organisasi. Namun, keduanya bisa berjalan selaras selama kita bisa bermain cantik.

Ibaratnya menarik rambut dalam tepung, rambut jangan putus, tepung jangan berserak. Kapan ikut kuliah, kapan berorganisasi. Di sinilah dibutuhkan kebijakan pemanfaatan waktu. Dengan kata lain, menghadapi dilema ini, perlu mendisiplinkan diri mengatur gerak langkah berpacu melawan waktu.

Berorganisasi dan belajar di kampus ibarat dua sisi mata uang. Organisasi merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dengan dunia mahasiswa. Dalam berorganisasi, kita bisa mengenal dunia kampus lebih luas.

Misalnya, kita adalah seorang mahasiswa yang tidak terbiasa dengan pidato atau pun sering gugup ketika berbicara di depan orang ramai. Dengan berorganisasi, kita dibina hal itu. Setidaknya, keluar dari organisasi tersebut kita mampu berbicara secara terbuka di depan orang banyak.

Terdapat perbedaan signifikan antara organisatoris dan antiorganisasi. Jangankan berbicara di depan orang ramai, berdiskusi dengan ruang lingkup kecil pun tidak mampu mengeluarkan pendapat. Orang yang kurang pengalaman berorganisasi, ibaratnya bagai katak di bawah tempurung ”padai tuppang natongko’e kaddaro” (bahasa Bugis).

Bagi mahasiswa yang belum menemukan jati dirinya sebagai seorang mahasiswa, bergabunglah dengan organisasi di kampus. Semua itu akan berguna untuk kelangsungan perkuliahan. Demikian pula akan terjalin persahabatan antara sesama mahasiswa di kampus. Hindari menjadi mahasiswa vakum tanpa gerak dinamis.

Mungkin kita pernah mendengar istilah “mahasiswa 5 D”, datang, duduk, diam, dingin, dungu), artinya mahasiswa tersebut sekadar datang mengikuti perkuliahan semata. Informasi lainnya yang ada di kampus, tidak ia hiraukan. Acuh bebek jika tidak ada sangkut-pautnya dengan mata kuliah. Bukan bermaksud menggurui, tetapi janganlah mencontoh mahasiswa demikian.

Pada sisi yang lain, kegiatan perkuliahan tetap nomor wahid. Tujuan utama memasuki perguruan tinggi tentunya belajar. Mengejar prestasi akademik (IP) itu wajib. Harapan orang tua dan keluarga akan terpenuhi. Tanpa harus menciderai yang lain, organisasi pula tidak bisa disepelekan.

Kemampuan akademik yang tinggi, akan lebih paripurna dengan hasil yang didapatkan dalam ikut berorganisasi. Seperti apakah pentingnya organisasi? Silakan bergabung dan rasakan bedanya. (*)

Author: Iin Fadhilah

Close

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s