Kesah dan Keluh

Pada malam yang senantiasa menyediakan gelap demi sebuah lelap. Salah satu seni dari menjadi tombak organisasi adalah jangan mengeluh. Kehadiran kita selalu menjadi oase bagi mereka yang menginginkan harapan dalam rangka menemukan tetes-tetes manfaat.

Keluhan/rasa ingin mengeluh adalah tanda memanusiakan diri sendiri. Mungkin cara pengelolaan dan obyek yang dituju yang harus mengalami berbagai modifikasi, hingga sampai pada kesimpulan nyata bahwa mengeluh bukanlah pertanda lemahnya seorang manusia. Namun cara untuk memanusiakan dirinya.

Sepertinya saya mencitrakan diri sebagai seseorang yang lupa memanusiakan diri sendiri. Jika berkaca pada jangan mengeluh, mungkin ada kalimat yang harus melanjutkan seperti jangan mengeluh, kecuali pada Allah. 

Keluh kesah yang sejati dan paling berarti, di waktu-waktu yang terdekat denganNya. Semoga segala keluh menjadi peluh yang dapat dihitung, dan kesah adalah resah yang akan segera berganti, bersama roda waktu yang setia berputar tanpa henti.

Author: Iin Fadhilah

Close

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s