Rumah kedua

Sebuah pengingat otomatis tentang foto memori beberapa tahun lalu yang menjadi fitur terkini aplikasi Facebook berhasil memporak-porandakan hari saya. Kemarin, 14 Maret 2017.

Kerinduan itu muncul lagi, berkumpul bersama teman-teman AFS Swiss 2012-2013. Wahh! sekarang sudah 2017, sudah hampir 4 tahun perjalanan itu mengakhiri kisahnya. Namun tidak dengan rindu. 

Sekuat apapun kita menggenggam rindu, akan ada hari dimana semua menjadi pecah saja. Apalagi mengingat rutinitas yang sama sekali tidak sedikitpun mengizinkan untuk sejejak melangkahkan kaki ke benua biru, rumah kedua yang tidak pernah berhasil minggat dari ingatan.

Segala kemungkinan membuat saya semakin yakin, bahwa kesungguhan hari ini adalah titian-titian kecil untuk menghadapi ketidakmungkinan di masa depan. Agar saya bersiap untuk diterjunkan kemana saja dan kapan saja. Memori masa lalu itu kembali dan ternyata menjadi alasan-alasan bagaimana hari ini saya bisa menjalani ‘semua’ hal yang bahkan di mata orang lain tidak mungkin.

Saya selalu berharap agar kerinduan terhadap masa-masa terbaik di masa lampau hanyalah bumbu dari proyek ketapel yang saya jalani. Namun riak-riak rindu itu perlahan bermetamorfose menjadi nyeri-nyeri yang menggaung tiap malamnya, berubah menjadi serbi keinginan lain untuk kembali pulang ke rumah keduaku.

Rumah kedua, tempat terlahir kembali dan bertumbuh dewasa.

(Sejenak teringat pada janji terakhir sebelum lepas landas dari Zurich airport…)

Saya tidak akan kembali, sebelum menemukan separuh dari diri saya yang lain.

Ruang hampa

Lalu bagaimana jika upayamu mengendalikan spasi justru menjadi bentuk ketidakberdayaanku dalam mengisi ruang?

Tidak ada ruangan yang kosong, hanya saja kita selalu terkalahkan oleh udara yang lebih dahulu mengisinya. Berbeda dengan ruang hampa yang sekuat tenaga mengosongkan sudut ruang. Naifnya, segala perumpamaan tentangmu tetap saja tidak sampai pada kata usai.

Perumpaan sebuah ruang. Kadang sebuah ruang tidak dapat memberikan jarak yang cukup untuk  kaki kita  melangkah. Ataukah Ruang yang kau miliki tidak memiliki dimensi yang sama denganku? Atau kau sedang menantang kapabilitiasku mengisi ruang?

Entah. Pintu itu yang tak kulihat, atau kau sama sekali tak mengizinkanku mengetuk dan melangkah ke dalamnya.

Entahlah, mungkin ini yang dinamai ruang hampa.

Kesah dan Keluh

Pada malam yang senantiasa menyediakan gelap demi sebuah lelap. Salah satu seni dari menjadi tombak organisasi adalah jangan mengeluh. Kehadiran kita selalu menjadi oase bagi mereka yang menginginkan harapan dalam rangka menemukan tetes-tetes manfaat.

Keluhan/rasa ingin mengeluh adalah tanda memanusiakan diri sendiri. Mungkin cara pengelolaan dan obyek yang dituju yang harus mengalami berbagai modifikasi, hingga sampai pada kesimpulan nyata bahwa mengeluh bukanlah pertanda lemahnya seorang manusia. Namun cara untuk memanusiakan dirinya.

Sepertinya saya mencitrakan diri sebagai seseorang yang lupa memanusiakan diri sendiri. Jika berkaca pada jangan mengeluh, mungkin ada kalimat yang harus melanjutkan seperti jangan mengeluh, kecuali pada Allah. 

Keluh kesah yang sejati dan paling berarti, di waktu-waktu yang terdekat denganNya. Semoga segala keluh menjadi peluh yang dapat dihitung, dan kesah adalah resah yang akan segera berganti, bersama roda waktu yang setia berputar tanpa henti.