Surga yang ia juga rindukan

Dia adalah dimensi lain dari galaksi. Dia kembali menyandarkan kepasrahan yang sama di 1/3 akhir malam pekat. Tempat berlari dan kembali dari panas dingin siklus pagi, dan dari malam yang mencengkram jiwanya.

Dia takut tertunduk pada dunia, pun tak berniat menundukkan dunia. Dia hanya ingin menggenggam dunia, agar tak dipasak kaki tangannya pada rutinitas yang membutakan. Dia hanya ingin mengutuhkan jiwanya, untuk senantiasa berjalan di titian sebagai budak yang lemah di hadapan penciptanya. Yang tunduk lisan dan hatinya dan yang lembut perangai dan geraknya.

Mungkin tak pantas jika perempuan ini merindu surga. Tapi tak pernah patah harapannya untuk dirindukan surga.

Atau

Mungkin ia sedang merindukan  kau (surganya). Di malam ini ketika lelah menyapa, dan kerinduan untuk membagi hari-harinya denganmu semakin tidak nyata.

Sekali lagi, ia sedang menghukum diri karena rasa kalah. Kalah pada perasaan yang tidak seharusnya ia urai. Kalah untuk tidak membawa perasaan pada kadar yang berlebih. Sejatinya jangan kau lupa bahwa dia adalah wanita.

Dan, sekali lagi ia sedang belajar bersabar.

Bersabar pada dirinya sendiri yang tak kunjung menjadi yang terbaik, di matamu

(ps: Semoga kotamu senantiasa bersikap ramah)

Makassar, 28 Februari 2017

Author: Iin Fadhilah

Close

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s