Dimana ujung lelah ini?

Bagaimana jika hari ini kontrakmu dengan Tuhan sudah habis?

Setiap pagi, kalimat yang paling sering membangunkan seluruh molekul tubuh adalah kalimat pengandaian jika seandainya hari ini adalah hari terakhir Allah mengizinkan raga berpijak. Maka segenap sel-sel pun akan ikut terbangun, bertasbih, dan bekerja dalam batas maksimal bahkan kadang melampaui batas. Cukup sederhana untuk menghirupkan ruh produktivitas ke dalam raga. Hingga terkadang kateter intravena harus bersedia bersahabat jikalau raga memilih memboikot ruh produktivitas yang penuh semangat itu.

Lalu kapan belajar dan bekerja ini akan singgah pada sebuah ujung?

Jawabannya sederhana. Hingga liang lahat-mu telah tergali dimana kau disana bersandar selamanya. Mungkin itulah akhir dari belajar dan bekerja.

Menjaga semangat serta produktivitas adalah buah dari kesyukuran kepada Allah Swt. Kesyukuran tentang nikmat kesehatan, akal sehat, iman dan lingkungan yang beratmosfir positif. Memang kita tidak selalu berada dalam keadaan yang optimal dan nyaman untuk belajar dan bekerja. Namun ternyata selama kita percaya bahwa apapun yang terjadi hari itu adalah sebuah perencanaan dari sang Maha Penulis Skenario, mungkin kita sedang memenangkan penghargaan dari kerajaan langit tentang kesabaran dalam menghadapi proses kenaikan tingkat sebagai manusia yang berkembang dan mendewasa.

Tak ada yang tahu sepanjang apa perjalanan yang harus ditempuh. Kadang tulang belakang seperti membeku dan tak mampu lagi bergerak ketika bertemu dengan kenikmatan kasur, atau mata yang enggan terbuka karena lelahnya aktivitas. Namun, sedini mungkin mari jadikan seluruh perencanaan kita adalah bagian dari ibadah kepada-Nya, karena-Nya, oleh-Nya dan untuk-Nya. Dan segala yang terjadi diluar perencanaan kita adalah rencana dari Sang Maha Pembuat Perencana yang mendatangkan hal terbaik, untuk kita belajar dan bersabar sebagai proses memantaskan diri sebelum berkumpul bersama-Nya di kerajaan langit.

Dan tentu,

Agar tak ada lagi rasa khawatir jika habis masa berlaku kita berpijak di bumi-Nya. 

Iin Fadhilah ©

Makassar, 23 Februari 2017

Author: Iin Fadhilah

Close

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s