Maukah kau bersabar?

Maukah kau bersabar, untuk rindu yang tak kurencanakan?

Sedari kau menumpahkan getir

Suaraku tak pelak menunda petir

Walau dadaku dipenuhi awan satir

Rasaku masih tak lelah untuk mengalir

Di lipatan jurang, aku menyembunyikan kebencianku. Padanya, padamu dan pada diriku sendiri. Jika kutanyakan lagi, pertanyaan yang sama

Apakah amarahmu berubah dalam impulsi

Atau hanya tertahan dalam bentuk avulsi

lalu memilih berpindah dimensi

atau memenuhi rongga yang tak berisi

Di lipatan jurang yang sama, aku menyembunyikan bahagiaku. Bahwa Tuhan membawamu untuk alasan. Alasan untuk mengikisku menjadi sebaik-baiknya sumber kasih dan sayang.

Menjadi wanita adalah seni. Seni pada membawa hati dan pikiran dalam ritme yang tak terganggu oleh gaduh namamu. 

Makassar, 7 November 2016

Pkl. 9.14 WITA di sudut yang sama

Author: Iin Fadhilah

Close

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s