Maukah kau bersabar?

Maukah kau bersabar, untuk rindu yang tak kurencanakan?

Sedari kau menumpahkan getir

Suaraku tak pelak menunda petir

Walau dadaku dipenuhi awan satir

Rasaku masih tak lelah untuk mengalir

Di lipatan jurang, aku menyembunyikan kebencianku. Padanya, padamu dan pada diriku sendiri. Jika kutanyakan lagi, pertanyaan yang sama

Apakah amarahmu berubah dalam impulsi

Atau hanya tertahan dalam bentuk avulsi

lalu memilih berpindah dimensi

atau memenuhi rongga yang tak berisi

Di lipatan jurang yang sama, aku menyembunyikan bahagiaku. Bahwa Tuhan membawamu untuk alasan. Alasan untuk mengikisku menjadi sebaik-baiknya sumber kasih dan sayang.

Menjadi wanita adalah seni. Seni pada membawa hati dan pikiran dalam ritme yang tak terganggu oleh gaduh namamu. 

Makassar, 7 November 2016

Pkl. 9.14 WITA di sudut yang sama

Tahun ke-3

Ini sudah tahun ke-3 saya duduk di Fakultas Kedokteran. Yang berbeda hanyalah di tahun pertama jam kuliah mulai pukul 08.00 dan di tahun ke-3 mulai sedikit lebih awal, yaitu 07.30. Ada satu hal yang menarik dari perjalanan memasuki tahun ke-3 ini.

Saya tetap jatuh cinta pada setiap sosok yang hadir membawakan kuliah, sama seperti saat masih duduk sebagai mahasiswa baru

Rasanya semakin jauh menyelam, semakin dalam lautan ilmu ini. Semakin beragam jenis dan semakin tak terhingga waktu yang dibutuhkan untuk menggali satu persatu. Dan, semakin kecil saya melihat diri ini.

Pagi ini seorang dosen yang saya kagumi, Prof. Budu, mengulas tentang masa lalunya ketika duduk di bangku kuliah. Beliau bercerita jika Anatomi dan Fisiologinya serta merta mendapat nilai A, sehingga ia tidak memilih mendaftar menjadi asisten di departemen tersebut. Justru beliau mendaftar sebagai asisten Biokimia karena merasa kurang dengan pemahaman pada siklus krebs dan segala interaksi biokimia yang ruwet. Singkat cerita, beliau memilih menjadi asisten Biokimia karena ingin memahami lebih dalam.

Saya belajar satu hal dari cerita beliau. Kita sebagai manusia cenderung mengikuti arus. Melakukan hal yang menurut kita mudah dan terlalu menakar dengan hitungan-hitungan matematis kemampuan diri kita.

Saya lupa jika Allah tidak mengenal batas dan dimensi. Jika Allah mampu melakukan segala hal diluar nalar, lalu mengapa kita gentar menantang arus?

Bulan ini saya terlalu banyak berkeluh kesah pada diri sendiri. Tentang padatnya jadwal kuliah, tetek bengek organisasi A, B dan C serta amanah sebagai asisten anatomi yang terasa melemahkan seluruh sendi-sendi saya. Saya lupa, bahwa Allah memiliki seluruh energi di alam semesta. Dan saya hanya butuh secuil untuk menyelesaikan semua tugas sebagai mahasiswa yang baik.

Saya tidak sedang menantang arus. Saya hanya percaya bahwa Allah bekerja di atas batas kemustahilan, dan saya menikmati keajaiban itu. 

Makassar, 7 November 2016

Pkl. 8.56 WITA, di sudut kamar belajar

Berdamai dengan perangai diri sendiri

Minggu ini saya terjebak, pada kepulan awan hitam yang saya undang. Betul, orang bodoh mana yang mengundang awan hitam? Sayangnya, saya berkehendak memanggil pelangi. Sehinggak konsekuensi demi konsekuensi adalah tanggung jawab pribadi.

Minggu ini saya dibungkamkan, oleh segala pertanyaan yang tidak bisa saya jawab. Bukan berarti saya tidak tahu, memang saya lupa bahwa ketidaktahuan adalah milik orang-orang yang enggan mencari tahu.

Minggu ini saya dipancing, oleh keadaan yang sama sekali tidak lucu untuk dibuat dalam serangkaian skenario. Fikiran saya ikut dibutakan oleh api-api kecil dan ketidakpandaian saya dalam segala hal. Segala ketidakberdayaan mengajak saya untuk menepi ke tepian dan melepaskan bersama air mata.

Namun, saya belajar untuk berdamai. Berdamai dengan masa lalu, berdamai dengan ambisi dan berdamai dengan keterbatasan yang saya miliki saat ini.

Ya, saya membenci keterbatasan.

Ya, saya membenci ketidaktahuan.

Ya, saya membenci ketidakberdayaan.

Ya, namun saya tidak pernah berani mencoba membenci diri saya terlepas dari kekurangan diatas. Ya, namun saya tidak pernah berani menunjukkan pada orang lain bahwa proses berdamai dengan diri adalah proses yang tidak singkat.

Jika menulis adalah cara terbaik untuk berbicara. Maka yang sedang berbicara adalah kawan yang bernama jiwa. Yang akan segera terbebas dari keterbatasan, ketidaktahuan dan ketidakberdayaan yang ia banggakan.

Saya mencintai ambiguitas. Yang memaksa orang menerka-nerka makna di atas makna. Atau dualisme yang tak saling singkron bahkan di penghujung. Kita patut berbahagia untuk ketidakmampuan yang membangunkan. Membangunkan jiwa untuk segera menggiring egosentris ini lubang yang menghanguskan.

Semoga hari ini saya menghabiskan jatah kekecewaan dan melanjutkan perdamaian dengan diri sendiri.