SPASI

To soulmate I choose not to love

Mungkin kau tak mendengar suaraku. Diantara spasi yang kau bentang di ruang hampa. Dan dalam bekunya tatap mata saat menyapaku. Bagiku tak ada yang lebih sulit dari menerjemahkan spasi diantara kaki-kaki kita. Menerka-nerka isi ruangan yang kau selipkan pada tiap jengkalnya. Mungkin agar cerita yang kuceritakan padamu bisa kau dengar dengan seutuhnya.

Cerita ini untukmu yang belum sempat kutemukan.

Rasanya masa mudaku hampir habis untuk menerka, lewat jalan mana Tuhan mendatangkanmu. Satu hal yang baru kutahu bahwa ternyata merindukan seseorang yang tak kau kenal jauh lebih sulit dari cinta yang tak terbalas.

Hingga aku sampai pada titik yang paling melelahkan. Yaitu merindukan diriku sendiri. 

Aku sedang belajar. Menumpulkan ego yang semakin hari semakin meruncing dan meninggi. Dan ketika kau menemukanku suatu hari, aku mungkin sedang terlelap di dalam doa-doa panjang yang selamanya menjadi rahasia antara aku dan pemilik langit.

Tanpa sadar Aku sendiri yang membangun jarak dan menikmati spasi itu sambil menghitung nafasku yang memanjang. Mendengar suara angin dan membaca ratusan halaman yang kuyakin bisa menemukanmu di dalamnya.

Tuhan masih meletakkan spasi diantara kita, sementara aku sibuk menerka dirimu dalam mimpi dan dalam doa. Kenanglah, semoga kita bertemu dalam suasana terpantas, untuk dipantaskan dan memantaskan.

Dariku yang belum mengenalmu, namun senantiasa merindukanmu…

Wotu, Luwu Timur, 27 Desember 2015

Leana Zivara

Karena ia mampu menciptakan keramaian. Ia menguasai fikirannya, tempat ia bermain dan tenggelam dalam imajinasi yang ia miliki. Dunianya dan seluruh yang dia inginkan. Sore ini ia akan bercerita tentang dirinya dan segala hal tentang sekelilingnya yang ia sukai. Ia akan memeluk semua yang ia sukai dan berhenti pada titik yang ia inginkan. Tak ada yang tahu kapan ia merasa lelah. Yang ia tahu, fikirannya dapat memecah keheningan dan perasaannya dapat menghanyutkan kebencian. Leana, fikiran, dan hatinya yang tak memilih bersatu.

Pada detik yang sama saat ia memutuskan, untuk kembali jatuh cinta, pada lelaki italia.

***

Ia pandai.

Pandai dalam segala hal.

Pandai menciptakan peperangan dan mendamaikan jiwanya sendiri. Ia tak pernah lupa untuk berbicara pada dirinya sendiri, menguatkan dirinya untuk mengikuti naluri serta mempercayai fikirannya. Fikiran yang selalu ia percayai memiliki variasi intensitas gelombang yang dapat memancar kemana saja, bahkan ke langit yang tertinggi. Serta naluri, tempatnya mengumpulkan surat-surat dari Tuhan. (Bersambung)