Saling Bertukar Tenaga Riset

Menenal CESDI (Centre of Excellence Sustainable for Indonesia)

*Tulisan ini terbit di Harian FAJAR SkeMA 15 Agustus 2015

Laporan Iin Tammasse, Brisbane Australia

Dari kiri ke kanan (Iin Tammasse, Andi Najiah, Rizki Malik, Muh. Iffah) di depan kantor CESDI Griffith University
Dari kiri ke kanan (Iin Tammasse, Andi Najiah, Rizki Malik, Muh. Iffah) di depan kantor CESDI Griffith University

Griffith University memiliki beberapa kampus yang tersebar di negara bagian Queensland. Di Goldcoast, Mt. Gravatt, Southbank, Logan dan Nathan. Nathan Campus adalah tempat penulis dan teman-teman menuntut ilmu. Suasana Nathan Campus Griffith University tak jauh berbeda dengan Kampus Tamalanrea Universitas Hasanuddin yang rindang.

Kepedulian dari lingkungan sudah jelas terlihat, Nathan Campus dipenuhi pepohonan dan berbagai jenis vegetasi. Tak jarang saya melihat seekor koala menggendong anaknya dan memanjat pohon atau sekeor Rakun berlarian di antara pepohonan. Nathan Campus terletak di area konservasi hutan dan satwa yang hidup secara liar pun adalah hewan yang dilindungi. Karena terletak di daerah konservasi, pembangunannya pun dibatasi agar tak mengganggu ekosistem sekitar.

Griffith University telah lama membangun kerjasama bilateral dengan Indonesia dalam bidang lingkungan. Salah satunya, terdapat pusat kajian dinamakan CESDI atau Centre of Excellence of Sustainable Development for Indonesia. Sejak didirikan 2007 lalu, CESDI telah membangun kerjasama dengan Kementerian Negara Lingkungan Hidup yang berfokus pada peningkatan kapasitas dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Sebagai bentuk memperkuat kerjasama, CESDI juga memfasilitasi tenaga riset dari Indonesia selama berada di Australia dan sebaliknya. “Semacam pertukaran, tenaga riset yang datang dari Indonesia akan difasilitasi di CESDI. Riset di Indonesia dan di Australia tentu berbeda, sehingga diharapkan dari kombinasi keduanya akan memperbanyak empirical evidence”, tukas Gunaro Setiawan salah satu mahasiswa yang aktif di CESDI.

Tidak hanya dalam bidang Lingkungan, CESDI juga memfasilitasi beberapa kegiatan akademis bagi para mahasiswa Indonesia. Salah satu ruangan di kantor CESDI menjadi basecamp untuk organisasi ISAGU (Indonesian Student Association of Griffith University). Dr. Peter Davey selaku ketua dari CESDI sangat menyambut baik program kerjasama Griffith dan UNHAS ini. Bahkan, kami diberi izin untuk menggunakan fasilitas kantor CESDI.

Dalam bidang akademik ada dua program yang diadakan CESDI, yaitu PAR (Progaram Academic Recharge) dan Program Sandwich untuk melakukan riset. Universitas Hasanuddin termasuk salah satu yang secara konsisten mengirim mahasiswa setiap tahun mengikuti Program Sandwich ini. Ada banyak manfaat mengikuti program sandwhich tersebut, meski tak menjadi mahasiswa permanen tapi kita bisa memanfaatkan akses jurnal dan ebook dari Griffith secara gratis.

Saya merasa kagum bahwa negara tetangga saja mampu menunjukkan kepeduliannya terhadap potensi terbesar Indonesia yaitu lingkungan hidup dan sumber daya manusia. Lalu kapankah kita mulai menyadari  dan memanfaatkan potensi besar ini semaksimal mungkin?

Author: Iin Fadhilah

Close

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s