Kemarin yang memilih tak baik

Jika berbicara tentang kemarin. Saya hamper tidak pernah lupa, apa yang saya lakukan kemarin dan apa yang saya cita-cita kan kemarin. Pepatah mengatakan jika bagaimana dirimu hari ini adalah buah dari apa yang kau tanam kemarin. Kemarin? Apa yang saya lakukan kemarin?

Lantas, pantaskah segala hal yang saya lakukan kemarin menjadi alasan kuat bagi saya untuk berekspektasi lebih pada hari ini? Lalu bagaimana jika yang saya lakukan kemarin tidak cukup atau belum maksimal? Bisakah saya menuntut untuk berekspektasi lebih? Atau haruskah saya duduk bersedih atas keyakinan bahwa apa yang saya dapat hari ini mungkin bukanlah sesuatu hal yang baik. Setidaknya tidak sebaik jika saya melakukan dengan maksimal.

Dimanakah kemarin menepi? Dan bagaimana kemarin berdampak pada hari ini? Jikalau semua sudah diatur secara rapih oleh sang pemilik. Dimanakah batas manusia untuk mengatur ‘besok’ yang harus diusahakan ‘hari ini’?

“Kami sudah melakukan yang terbaik”

Kalimat ini selalu menjadi andalan aktor yang memainkan profesi dokter di sinetron ataupun film. Kalimat pembela diri atas sebuah takdir atau ketentuan yang dimiliki pemiliki ketentuan. Apa yang menjadi batasan terbaik, jikalau yang mengukur hanya diri kita sendiri?

Bagaimana seorang penulis bisa dikatakan memiliki tulisan yang baik? Jika sampai hari ini, dari seminar ke seminar tidak ada yang berani memaparkan tulisan baik dan terbaik seperti apa? Kejuaraan menulis juga bukan tolak ukur yang baik. Bisa saja karena selera, selera juri atau penilai yang berbeda. Kebetulan jika tulisan itu mampu memberi kepuasan pada selera seorang penilai, maka jadilah iya nomor satu. Sederhana bukan?

Jadi dimana letak tolak ukur terbaik?

Saya mencoba berkesimpulan bahwa terbaik bukan sebuah hal yang mutlak. Meskipun kadang kita tertipu dengan imbuhan ‘ter’ yang menjadi mahkota dari kata ‘baik’. Dua kata yang selalu menjadi tujuan siapa saja. Semua pada akhirnya berujung pada selera, atau taste dari yang kita tuju. Sebaik apapun itu jika tak sesuai dengan keinginan Sang Penilai, maka sia-sia segala usaha “terbaik” yang kita perjuangkan.

Selamat malam dari Brisbane, Barakula Flat, Nathan Campus, Griffith University

Author: Iin Fadhilah

Close

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s