Dialog di bawah matahari

DCIM103GOPROGOPR6007.

Matahari Goldcoast yang nyetrong membuat saya tidak takut hitam meski angin musim dingin memilih berhembus lebih kencang. Dua puluh satu derajat celcius hanyalah lelucon yang terlalu jenaka jika mengingat bahwa saya pernah hampir mati kedinginan karena minus dua-puluh-derajat celcius.

Untung saja saya tidak dikaruniai kemampuan melihat radiasi UV A atau UV B yang sedang mengarahkan sinarnya. Mencoba menembus lapisan kutan saya.

Setiap orang mungkin dikaruniai child-like-inside yang terkadang hidup pada saat-saat tertentu. Child-like-inside saya sering hidup saat tak memiliki beban, saat tak dikejar deadline dan saat tak dirundung kesedihan. Entah apa yang anak kecil dalam diri saya cari, namun tak ada yang lebih bahagia melihatnya bersenang-senang.

Terkadang menyenangkan untuk memiliki waktu dengan diri kita sendiri. Berdialog dengan sisi lain dari diri kita. Terbebas dari ekspektasi sekeliling yang selalu menginginkan kita menjadi sesuatu yang mereka inginkan. Bahkan saat menulis pun, saya merasa sedang berdialog dengan dirinya, dan yang menulis saat ini mungkin adalah dia.

Mungkin banyak keluh kesah yang ingin ia ceritakan, tanpa batas, dan tanpa ‘edit kata’ sedikitpun.

Hai !

Ini diri saya yang lain. Saya masih kecil dan memilih untuk tidak bertumbuh dewasa. Menjadi dewasa sama saja dengan melekatkan kompleksitas pada hidup kita. Terkadang, banyak hal yang tidak boleh kita katakan, karena sebagai orang dewasa tak ada ‘permakluman’ dan kita tidak bisa dimaklumi bahkan akan segera di judge.

Ini masih saya si anak kecil. Menjadi dewasa hanyalah sebuah fase kepura-puraan. Kita tampil ada apanya, bukan apa adanya. Kita tampil untuk meng-impress semua orang bahwa dewasa adalah achievement tertinggi atau perubahan yang luar biasa dari fase hidup manusia. Betul bukan?

Ini masih saya lagi, si anak kecil. Saat saya mengangkat teh dengan cangkir untuk para tamu di rumah saya. Lalu tiba-tiba tak sengaja menumpahkannya, serta merta kita di judge kurang hati-hati, kita di judge sembrono. Tapi sebagai anak kecil, itu adalah bentuk kesuksesan. Semua orang akan bertepuk tangan untuk menghibur hati anak kecil yang telah berusah tergopoh-gopoh membawa 2-3 cangkir teh. Luar biasa bukan?

Ini masih saya lagi yang tadi, si anak kecil. Jika seorang yang dewasa bertindak seperti anak-anak maka ia akan dicela mati-matian oleh sekelilingnya, sebaliknya jika anak-anak bertindak sebagai orang dewasa? Ia akan dipuji sebagai seperti seseorang yang sangat berdedikasi tinggi. Saya tidak mampu memahami, mengapa akselerasi fase hidup manusia menuai pujian yang luar biasa.

Hai, ini saya yang sudah dewasa, namun masih merawat dengan baik anak kecil dalam diri saya.

Saya tidak menyesal menjadi dewasa bahkan tanggung jawab ini adalah hadiah untuk orang-orang terpilih saja. Ada kalanya kita boleh menjadi anak kecil bahkan ada kalanya pula kita boleh menjadi dewasa yang seutuhnya. Lalu bagaimana jika saya menghidupkan keduanya bersama-sama dalam diri saya? Sederhananya ketika saya mencoba berbuat baik kepada seseorang, jika orang tersebut menilai saya sebagai orang dewasa mungkin saja ia akan mengira bahwa saya sedang menarik perhatiannya atau saya sedang mencoba meng-impress dirinya untuk mengubah persepsi tentang diri saya. Tanpa ia pernah tahu bahwa sesungguhnya saya sedang mencoba untuk menyentuh hatinya dan berharap dengan penuh kesungguhan untuk tak pernah dilupakan (atau selalu dikenang).

Beberapa kali saya terjerat dalam kejadian seperti perandaian di atas. Meski begitu, saya memilih untuk tetap merawaat anak kecil dalam jiwa saya. Karena ia selalu membisikkan kejujuran dan mengajarkan saya untuk menjadi apa adanya dan berbuat untuk menyentuh hati, bukan untuk dipandang baik atau kini dikenal sebagai pencitraan.

Mungkin para koruptor di Indonesia lupa menghidupan anak kecil dalam dirinya…

DCIM103GOPROGOPR6050.

Author: Iin Fadhilah

Close

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s