Silver Tsunami, tantangan baru negara Asia

Laporan: Iin Tammasse dari Singapura

*Terbit di Koran Tribun Timur 21 Juli 2015

Silver Tsunami mungkin tidak seberbahaya Tsunami yang melanda Indonesia 2004 lalu. Tapi siapkah kita menghadapi Silver Tsunami? Alias peningkatan jumlah populasi usia lanjut yang begitu cepat.

Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi serta angka harapan hidup yang juga meningkat membuat kita tidak asing lagi dengan istilah Aging Population atau Penuaan Populasi. Pergeseran demografi ini tentu harus mendapat perhatian yang serius oleh pemerintah khususnya di bidang kesehatan. Karena diperkirakan pada tahun 2050 jumlah penduduk usia lanjut diatas 60 tahun akan melebihi penduduk usia 15 tahun.

Populasi unik ini mengundang keprihatinan oleh  Asosiasi mahasiswa kedokteran se-Asia untuk berkumpul membicarakan hal ini pada The 36th Asian Medical Student Conference di Singapura 5-12 Juli 2015, yang mengusung tema “Embracing the Silver Tsunami”. Dalam konferensi ini dihadiri 500 Mahasiswa Kedokteran dari Indonesia, Cina, Taiwan, Jepang, Bangladesh, India, Malaysia, Thailand, Hongkong, Filipina, Korea Selatan, Cambodia serta Australia dan Inggris yang ikut berpartisipasi.

Dalam Konferensi yang dibuka oleh Menteri Kesehatan Singapura ini, para delagasi diberi kesempatan mendekatkan pemahaman terhadap  Kedokteran Geriatri dan mengembangkan ide-ide baru dalam diskusi aktif serta menambah pengetahuan dan skill dalam menghadapi Silver Tsunami.

Yang menarik adalah para delegasi mendapat kesempatan bertukar informasi mengenai kesiapan negara masing-masing dalam menghadapi ledakan populasi lansia di masa akan datang. Singapura adalah salah satu negara dengan peningkatan jumlah populasi lansia yang tinggi. Diperkirakan pada tahun 2030 satu dari lima penduduk adalah lansia berusia 65 tahun ke atas. Tak bisa dipungkiri hal ini merupakan akibat dari perkembangan ilmu pengetuan, teknologi dan kedokteran yang pesat dalam dekade ini.  Meskipun memiliki populasi yang kecil, Singapura ternyata sangat tanggap dalam menghadapi masalah ini. Pemerintah Singapura sudah memberikan layanan kesehatan yang cukup memadai dan tersedianya komunitas-komunitas bagi lansia untuk tetap aktif di masa senja.

Menurut WHO, perubahan demografi ini membutuhkan perhatian khusus dari dunia kesehatan yang harus mengakomodasi kebutuhan lansia dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. Bahkan PBB telah mengkategorikan pelatihan dan pendidikan bagi lansia sebagai salah satu prioritas global. Fenomena ini bukan tanggung jawab tenaga medis semata, namun membutuhkan keterlibatan generasi muda untuk proaktif dalam komunitas untuk  mendukung populasi lansia.

blekekek
Arham, Iin, Safara dari AMSA Unhas di depan Science Building