Pendidikan Berkarakter Lahirkan Penduduk Bermutu (Harian FAJAR)

Pendidikan Berkarakter Lahirkan Penduduk Bermutu

Oleh : Iin Tammasse

*Dimuat di Harian FAJAR 8 April 2013

(Penulis saat bersama rekan mengunjungi ETH Zurich, Swiss)

Infrastruktur memadai, stabilitas keamanan dan ekonomi yang kuat, serta segala aspek yang membuat Swiss menjadi negara termakmur di dunia. Apa sih kelebihan negara yang kekayaan alamnya jauh dibawah dibandingkan dengan Indonesia namun mampu menjadi unggul di segala lini?

Optimalisasi sumber daya manusia (SDM) oleh dunia pendidikan menjadi kunci bangsa ini lahir menjadi bangsa yang berkarakter. Subsidi besar-besaran di bidang pendidikan oleh pemerintah Swiss semata-mata untuk melahirkan penduduk yang bermutu dan berinovasi tinggi. Sekolah setingkat SD, SMP hingga SMA menjadi hal yang wajib dan gratis bagi seluruh penduduk termasuk bagi penduduk asing. Yang mengesankan, angka buta huruf pun hampir mencapai 0%.

Menjadi siswa pertukaran pelajar di Swiss merupakan suatu kesempatan besar untuk melihat lebih dekat dunia pendidikan yang dinilai berkualitas baik. Guru yang berperan sebagai fasilitator tidak menyediakan textbook tebal melainkan hanya lembaran-lembaran materi di setiap pertemuan. Selain praktis, hal ini membuat siswa tidak berpatokan pada textbook. Lembaran materi ini hanya untuk  memancing siswa membuka kemampuan berpikir masing-masing.

Dari peninjauan sehari-hari, model pembelajaran yang digunakan mengutamakan ekspresi individu siswa (individual self expression). Keaktifan siswa memberikan sumbangsi pemikiran di kelas seperti menyatakan pendapat, memberi pertanyaan dan diskusi menjadi inti dari proses belajar mengajar. Awalnya penulis mengira hal itu akan mengganggu proses transfer ilmu, namun ternyata keaktifan tersebut yang menjadi inti dari proses belajar mengajar. Selain untuk menunjukkan ketertarikan pada tema pelajaran, juga secara tidak langsung dapat melihat kompetensi individu siswa secara spontan.

Sehingga tidak heran jika di Swiss tidak memiliki sistem Ujian Semester ataupun Ujian Mid-Semester karena nilai tertulis bukanlah sesuatu yang menjadi tolak ukur kemampuan siswa.  Hanya ada ulangan harian untuk masing-masing sub-materi. Uniknya, terdapat dua kolom penilaian yaitu Punkt sebagai nilai tertulis dan Mündlich sebagai nilai keaktifan selama proses belajar mengajar dengan skala penilaian dari 1 sampai 6. Namun tidak berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia, di Swiss terdapat Matura Prüfung yang setara dengan Ujian Akhir Nasional.

Dalam keseharian siswa tidak hanya diberikan teori, namun juga diajarkan bagaimana aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan pendapat Ahli Pendidikan Swiss, Johan Pestalozzi bahwa metode pembelajaran yang baik adalah metode pengalaman. Ilmu yang diimplementasikan dalam pengalaman akan lebih membekas dan masuk ke dalam alam bawah sadar.

Pendidikan berkarakter Swiss tercermin dari pelaksanaan Maturarbeit bagi siswa jenjang terakhir Gymnasium (setara SMA). Maturarbeit ini adalah proyek individu yang bisa berupa penelitian ilmiah, eksebisi karya seni, penulisan buku dan lain sebagainya dalam kurun waktu satu tahun. Proyek ini bertujuan memberikan pengalaman sebagai orientasi tentang dunia pekerjaan, mendidik siswa menjadi lebih mandiri dan bertanggung jawab dalam mengorganisir suatu hal

Istilah tinggal kelas di kalangan pelajar bukanlah sebuah hal yang memalukan. Jika siswa tidak memenuhi standar penilaian maka harus mengulang hingga mencapai standar yang telah ditentukan. Karakter jujur dan individual membuat aksi saling contek-mencontek menjadi pemandanan yang jarang terlihat. Hal ini terjadi karena sedari usia dini sudah ditanamkan nilai-nilai bahwa hal tersebut bisa merusak diri mereka sendiri.

Beginilah cara Swiss mencetak penduduk berkualitas melalui pendidikan berkarakter. Berguru pada negara yang masyarakatnya memiliki produktivitas tinggi tentu sangat menarik. Tidak ada kata terlambat untuk Indonesia yang baru memulai. Harapan untuk memajukan bangsa kita masih ada, di tangan pelajar-pelajar Indonesia yang kelak akan menjadi nahkoda untuk kemudi masa depan. Indonesia bisa!

Semalam di Amsterdam (Harian FAJAR)

Semalam di Amsterdam

Oleh : Iin Tammasse

*Dimuat di Harian FAJAR 22 Maret 2013

Setelah kurang lebih 12 jam terlelap di atas Night Train  atau kereta malam, akhirnya tibalah penulis di Amsterdam Ibukota Belanda tepatnya di Stasiun kereta Amsterdam Center. Perjalanan ke negara kincir angin ini terasa lebih seru karena bisa mengunjungi siswa pertukaran pelajar Indonesia di Belanda Sekar Adhaninggar, chapter Bogor.

Tidak seperti peribahasa indah kabar daripada rupa, Amsterdam justru sebaliknya. Arsitektur bangunan khas belanda yang unik serta kanal-kanal panjang memenuhi seluk beluk kota.  Jembatan kuno yang bisa terbuka dan tertutup membuat kota tua ini terasa berbeda di benak penulis.

Setibanya di Amsterdam penulis langsung diajak menyusuri kota kanal ini dengan perahu bermotor yang  memiliki jendela dan atap kaca. Selama kurang lebih sejam ber-Canal Cruise, penulis dan pengunjung yang lain diajak berkeliling melihat bangunan-bangunan bersejarah pada pinggiran kanal. Sambil mendengar penjelasan dari  tour guide dalam empat bahasa (Prancis, Jerman, Belanda, dan Inggris).

Di kota Makassar mungkin tidak jarang kita menemukan bangunan peninggalan belanda seperti Gedung MULO. Sedikit berbeda, umumnya bangunan menjulang tinggi dan tidak terlalu lebar dengan jendela kaca yang banyak. Rumah seribu kaca, Gereja tua dan Houseboat menjadi  objek yang paling istimewa selama tur kanal ini. Houseboat sendiri adalah bangkai kapal di zaman perang yang bentuk fisiknya masih bisa digunakan, namun hingga kini masih banyak penduduk yang menetap di dalam Houseboat ini. Juga ada beberapa yang dijadikan museum dan disewakan untuk penginapan turis.

Setelah puas berkeliling kami pun bergegas menuju Dam Square yang menjadi taman pusat kota Amsterdam, terdapat tugu Amsterdam dan kawanan burung merpati yang jinak disini. Disinipun penulis bertemu salah satu teman pertukaran pelajar dari Indonesia lainnya yaitu Astarina Natyasari, chapter Palembang.

Di sisi Dam Square yang lain terdapat Museum patung lilin Madam Tussauds dari London yang terdiri atas artis dan tokoh terkenal bahkan terdapat juga  patung lilin dari keluarga kerajaan Belanda. Royal Palace yang menjadi kediaman keluarga Belanda yang sekarang dipimpin oleh Ratu Beatrix juga berlokasi di sekitar Dam Square.

Belanda memang salah satu destinasi wisata mancanegara favorit. Tanah kelahiran pelukis Vincent Van Gogh ini memang diakui sebagai pusat budaya dan seni sehingga mampu menarik jutaan pengunjung tiap tahunya. Memakai pakaian tradisional khas belanda Kladeracht  dan topi Njektiher menjadi salah satu ceklist utama penulis ketika berkunjung ke kampung halaman pesepak bola legendaris Ruud Gullit ini.

Sebagai negara anti polusi, sepeda sudah menjadi kendaraan sehari-hari.  Budaya bersepeda memang sudah ditanamkan sejak tahun 1800-  an. Bahkan pemerintah menyediakan jalur khusus sepeda di jalan raya serta fasilitas lainnya demi keamanan dan kenyamanan bersepeda. Uniknya sepeda yang dipakai bukanlah buatan modern akan tetapi sepeda onthel kuno yang bisa kita lihat di film dokumenter Indonesia pada zaman penjajahan. Penulis pun sempat diajak berkeliling kota Hilegom dengan sepeda Onthel.

Tidak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi museum-museum penting di negara yang pernah mengisi halaman cerita kelam tanah air ini. Sebut saja Museum Multatuli yang tak jauh dari pusat kota Amsterdam. Museum ini dulunya adalah kediaman dari Multatuli atau Douwes Dekker, salah seorang yang memegan peran dalam sejarah kemerdekaan Indonesia melalui kekuatan tulisan dari novelnya Max Havelaar.

Di museum sederhana ini masih terdapat bunga dan cengkeh sebagai oleh-oleh saat berlayar dari Maluku kepada anak dan istrinya. Terdapat juga jam hias serta meja pemberian agar Multatuli berhenti menulis hal-hal yang merugikan pihak belanda. Terdapat juga bola dunia yang selalu menghadapkan peta Indonesia pada sisi muka. Bahkan sofa merah tempat Multatuli menghembuskan nafas terakhir pada tahun 1887 di Jerman.

Menurut pemilik Museum, hingga kini Max Havelaar menjadi salah satu buku dari lima puluh yang wajib dibaca oleh pelajar di Belanda sebelum menamatkan sekolah. Beliau pun terlihat sangat senang saat mengetahui kami berdua yang mengunjungi museum adalah pelajar sekolah menengah dari Indonesia.