Lebih dari Putih Salju (Harian FAJAR)

*Dimuat di Harian FAJAR 11 Februari 2013

Oleh : Iin Tammasse

Dalam perjalanan membuka cakrawala ini, salju dan musim dingin menjadi catatan unik tersendiri di benak  penulis. Tidak berlebihan jika dikatakan seperti mimpi ketika pertama kali menyentuh kristal salju dan merasakan dinginnya merambat pada kulit tropis nan tipis ini. Seketika menyirnakan paradigma anak kecil yang melekat bahwa salju hanya ada di dongeng Putri Salju dan 7 Kurcaci.

Tenggeran bunga salju di pepohonan yang juga menyelimuti jalanan dan atap-atap rumah menjadi pemandangan biasa yang menghiasi perjalanan ke sekolah setiap harinya. Pemandangan yang mustahil terlihat di kota Anging Mamiri. Namun suhu yang terkadang mencapai minus sepuluh membuat penulis harus bertahan melawan hawa dingin yang terasa menembus sampai ke tulang.

Olahraga ski menjadi kegiatan utama penulis di liburan musim dingin pada awal tahun. Di Swiss, ski sudah menjadi olahraga nasional yang dilakukan oleh anak kecil, remaja hingga orang tua. Anak kecil semenjak berumur 3 tahun sudah mulai diajarkan bermain ski. Sehingga sambil belajar berjalan mereka juga sudah bisa bermain ski.

Namun olahraga ski tidak semudah yang terlihat di layar televisi. Meluncur di atas salju yang licin dengan dua papan panjang ini cukup terbilang ekstrim. Belum lagi mengontrol laju  dan arah ski membutuhkan tenaga dan kecekatan. Namun ayah angkat dengan penuh kesabaran mengajarkan sehingga sedikit demi sedikit bisa bermain ski. Meskipun melelahkan, olahraga ski ini sangat seru dan menantang.

Liburan musim dingin penulis habiskan di sebuah villa di Hasliberg, daerah kawasan pegunungan Kanton Bern. Selain orang swiss, banyak juga orang Jerman dan orang Belanda yang berkunjung ke kawasan ini, karena pegunungan salju abadi Swiss memang terkenal untuk arena rekreasi musim dingin.

Berlibur di Kanton Bern kurang lengkap jika tidak mengunjungi Kota Bern yang bersejarah. Bern yang hanya berpopulasi 130 ribu jiwa ini merupakan  ibukota terkecil dari seluruh negara Eropa. Situasi kota ini tidak sepadat dan segesit Zurich, kota tempat penulis menuntut ilmu. Suasana kota ini lebih damai apalagi dikelilingi sungai Aare yang mengalir tenang. Taman beruang yang terletak di tengah kota menjadi daya tarik tersendiri untuk kota yang bersimbol beruang ini. Sudut kota yang menjadi favorit penulis adalah area altstadt atau kota tua. Bangunan tua, jalanan bebatuan serta menara jam tinggi (Zytglogge) yang berdiri tegak di kedua ujung jalan memperkuat atmosfir abad pertengahan di kota tua ini. Sejak tahun 1983, Bern sudah ditetapkan sebagai warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO.

Terdapat banyak museum-musem seni dan budaya di kota ini. Salah satu yang pernah penulis kunjungi bersama ibu angkat adalah Museum Paul Klee. Paul Klee sendiri adalah pelukis terkenal beraliran kubisme dan surealisme yang berasal dari kota Bern. Museum Paul Klee ini memiliki arsitektur bangunan yang sangat unik, berbentuk tiga bukit yang memiliki konsep menyatu dengan bumi.

Rabu (23/1) lalu, penulis dan sekitar 50 siswa pertukaran pelajar lainnya diundang sebagai perwakilan negara masing-masing untuk menghadiri Bundeshaus Visit 2013. Yaitu acara kunjungan ke gedung Parlemen Federal Swiss. Kami dibekali pengetahuan mengenai sistem politik dan pemerintahan Swiss serta diajak melihat ruangan-ruangan parlemen yang dipakai oleh pejabat negara setingkat presiden. Desain interior Bundeshaus tidak kalah elegannya seperti yang terlihat dari luar. Sayangnya demi alasan keamanan pengunjung tidak diperbolehkan mengambil gambar

Sistem pemerintahan Swiss terkenal sangat bagus karena mampu menyerap serta mencerminkan keanekaragaman masyarakatnya sebagai negara yang berbentuk Republik Federal. Sejak tahun 1848, sistem pemilihan umum yang berlaku adalah sistem pemilihan umum yang bersifat langsung.

Berbeda dengan Indonesia yang kekuasaan eksekutif yang hanya dipegang oleh Presiden dan Wakil Presiden, di Swiss kekuasaan eksekutif berada di tangan Bundesrat (Dewan Federal) yang terdiri dari tujuh orang. Ketujuh orang tersebut yang nantinya secara bergilir mendapat jabatan sebagai presiden dan wakil presiden. Seperti pada periode sekarang dipimpin oleh Ueli Maurer yang menjabat selama setahun.

Sebagai negara netral yang menganut hak persamaan gender, Swiss tidak memberi batasan kepada perempuan untuk berpartisipasi dalam parlemen. Bahkan tiga diantara tujuh dewan federal pemegang eksekutif adalah perempuan.

Meskipun terkenal sebagai negara netral yang tidak memihak blok barat atau blok timur, Swiss tetap menjalankan fungsinya sebagai negara yang memiliki hubungan bilateral dan multilateral dengan negara-negara tetangga, termasuk Indonesia.

Tanpa terasa perjalanan membuka cakrawala ini sudah sampai di pertengahan jalan. Pengalaman yang luar biasa untuk hidup secara bikulturalis,  yaitu menimbang dan menyaring hal-hal positif dan negatif dari tugas sebagai siswa pertukaran pelajar yang menjembatani terjadinya pengertian antara dua budaya. Menciptakan The new comfort zone  di sebuah negara yang pada awalnya terasa asing. Bertemu banyak hal-hal baru dan menilai sesuatu dari kacamata yang berbeda. Melihat semenit terkadang lebih berarti dibanding membaca seribu lembar. Namun semakin mendalami dan menyatu dengan negara ini, kecintaan pada tanah air terasa tidak berkurang. Rasa-rasa rindu pada panas terik kota daeng yang menyengat terasa semakin bertambah seiring suhu dingin yang menurun. Namun ini bagian dari tantangan, bukan untuk dihindari tapi dinikmati prosesnya. Semoga!