Kamu tanya, saya jawab-(2)

Hai, Kak Iin!
 
Kenalkan, saya Rifka, stalker blog Kakak dan beberapa blog peserta AFS lainnya.
Jujur, program pertukaran pelajar ini hebat banget buat saya, dan saya kepingin ikut sejak… sejak kapan, ya? Kelas 8 SMP kalo gak salah. Waktu itu ada returnee AFS yang dateng ke sekolah buat sharing-sharing motivasi (semacam itu lah). Dan saya yang emang udah punya semangat belajar di luar negeri jadi ketempa tujuh kali, makin pingin dan kepingin belajar di luar negeri, apalagi dengan jalan AFS. Sekarang saya sudah kelas 10 dan sedang menata jiwa dan raga (halah…) untuk ikut pendaftaran April besok, chapter Jogja. Tapi ada buanyaaakkk sekali hal yang kepingin saya tanyakan, dan karena akun resmi AFS Jogja di Twitter gak selalu ngejawab sampe bikin saya galau dikeroyok berbagai macam pertanyaan yang butuh jawaban, maka saya memburu para returnee-nya dan selamat Kakak jadi salah satu yang beruntung saya jadikan konsultan hehe.
Halo adik Rifka yang penuh semangat 🙂
Kakak senang sekali mendapat email dari kamu dan juga meminta maaf karena baru bisa dijawab sekarang. Wah, kamu kalah dong, saya kepingin ikut AFS itu sejak kelas 6 SD loh haha. Rasa excited nya buat ikut program ini entah bagaimana dijelaskan dari umur semuda itu. Tapi ingat pepatah “Kejar mimpimu, sampai mimpi itu terlihat bodoh dihadapanmu” hahaha kejar yah kejar terus sampai dapat. Saya coba jawab sebisanya yah 🙂
 
Oke, mari kita mulai sesi tanya-jawab ini, Kak. Berharap Kakak bakal ngejawab, sebisa Kakak. 
 
1. Awal saya tahu AFS, saya dengar AFS ini program pertukaran pelajaran yang gratis. Tapi saya yakin gak bener-bener gratis, pasti ada lah beberapa hal yang harus ditukar dengan uang. Nah, itu apa aja, Kak? I mean, “beberapa hal yang harus ditukar dengan uang” itu apa aja kalo setahu Kakak? Paspor dan Visa termasuk, ya? Selain itu, ada apa lagi? Biar saya bisa lebih mempersiapkan isi dompet begitu Kak hehe .
Jadi begini dik, di Indonesia bernama Bina Antarbudaya yang berpartner dengan AFS, YES, Kizuna dan beberapa program lain. Nah, setiap program memiliki beasiswa berbeda-beda. Beasiswa secara keseluruhan dibantu dari beberapa instansi, perusahaan ataupun donatur-donatur yang mendukung program pertukaran pelajar ini. Kenal dengan penyair Taufik Ismail atau mantan Menteri BUMN Tenri Abeng? Mereka dulu adalah siswa pertukaran pelajar AFS  yang mendukung program hingga sekarang. Sebagai contoh program YES yang beasiswa langsung dari pemerintah US. Nah ada juga bantuan langsung kakak-kakak volunteer yang bekerja secara sukarela untuk membantu penyeleksian adik-adik agar banyak yang bisa berkesempatan belajar ke luar negeri. Dengan filosofi dasar “Mendengar dan didengarkan dunia”
 
2. Seleksi Tahap 1 itu tentang IPU (iya kan ya?). Kakak sendiri belajar apa aja sebelum tes itu? Jangan bilang Kakak gak belajar dulu hehe… IPU itu mencangkup pengetahuan di bidang/pelajaran apa aja, Kak?
Yah, Ilmu Pengetahuan Umum. Sekedar untuk mengukur wawasan global adik. Apakah adik peduli dan melek gak dengan keadaan lingkungan global. Saya pribadi tidak mempersiapkan hal-hal yang mengkhusus, hanya berdoa agar dilancarkan. Yang dipilih bukan yang pintar, jenius, jago ini atau jago itu tapi yang terpilih nantinya adalah yang siap. Siap dalam artian apa?, rahasia… hehehehe
 
3. Kakak dulu minta izin ke sekolah buat ikut dengan cara yang seperti apa, Kak? Saya takut gak diizinin sekolah 
Izin sekolah itu baru keluar ketika sudah dinyatakan akan berangkat. Akan berangkat lagi belum tentu berangkat sampai benar-benar duduk di dalam pesawat menuju negara tujuan. Karena banyak hal yang bisa terjadi. Sekolah pasti sangat-sangat mendukung. Keputusan ini memang beresiko besar yah ketinggalan setahun dengan teman-teman. Tapi tidak semua orang bisa mendapatkan, jadi jangan takut atau ragu.
 
 
4. Setelah tahu Kakak mau ditempatin di Swiss, persiapan Kakak apa aja? I mean, bukan yang mental, tapi yang barang-barang. Misal beli ini beli itu, gitu, winter coat juga. Kalo boleh tahu, belinya di mana, Kak? Dan habis budget berapa? (Gak perlu disebutin mendetail deh soal budget-nya, saya cuma kepingin mempersiapkan dompet soalnya)
Hahaha persiapan, saya jadi ketawa sendiri mengingat masa-masa persiapan keberangkatan. Nah, inilah kenapa ada Orientasi pra keberangkatan agar adik tau apa-apa saja yang perlu dibawa. Kalau wintercoat, saya pribadi tidak bawa dari Indonesia karena ingin beli dari negara asalnya. Kalau menurut teman-teman lain, wintercoat banyak di mall-mall besar Jakarta atau Bandung.
 
5. Kakak tentu banyak berdoa dong agar lolos AFS ini. Nah, karena kita sesama muslimah yang kece dan cantik-cantik (halahhh), saya kepingin nanya. “Berdoa” versi Kakak itu ngapain aja? Puasa Senin-Kamis? Salat Dhuha? Salat tahajud? Salat tepat lima waktu tentu jalan terus dong ya hehe… Sedekah juga gak, Kak? Pokoknya agar Allah akhirnya mau ngabulin doa kita lolos AFS, saran Kakak, musti berdoa apa aja?
Wah saya bingung menjawab pertanyaan ini, takutnya kan riya hehehe. Intinya ibadah-ibadah yang adik sebutkan diatas tidak berlaku hanya untuk bisa lolos AFS loh, tapi diaplikasikan untuk segala macam aspek kehidupan (cie). Berdoa saja jika memang program ini bisa membuat adik menjadi lebih baik dan memberi banyak manfaat untuk adik dan sekitar, maka mohon untuk diluruskan dan dilancarkan.
 
6. Di Swiss kan Kakak jadi muslim minoritas. Boleh tahu gak, gimana ibadah Kakak di sana? Di sana jarang ada masjid apalagi suara azan. Jam dan cuaca juga beda sama di Indonesia. Gimana Kakak bisa tahu kapan waktunya salat? 
Iya minoritas. Kemajuan teknologi dong, setel adzan dan waktu shalat di handphone. Meskipun hampir setiap musim waktu shalat berubah drastis. Misalnya pas summer Isya itu sekitar jam 10 an dan malam banget rasanya. Sedangkan pas winter Maghrib sekitar jam 4 sore, jadi di awal-awal kedatangan sempat repot juga beradaptasi dengan perubahan waktu.
 
8. Yang terakhir, temen-temen Kakak yang dari Jepang itu kece-kece abis. Saya agak iri baca postingan Kakak yang malah Kakak ngerasa kea Snow White dan 7 Kurcaci. Pertanyaan saya, boleh gak saya titip salam ke temen-temen Jepang Kakak yang kece-kece topan itu, Kak? Ehehehehehe…. *mendadak kecentilan*
Hahaha kece yah, hmm biasa aja sih wkwk. Iya nanti saya kirimkan salamnya 🙂 Mereka baik dan unyu-unyu kan? hehe.
 
Untuk sementara ini, itu dulu aja, Kak. Untuk sementara ini? IYA, untuk sementara ini. Boleh dong kapan-kapan, saya tanya-tanya lagi. Iya gak, iya gak? *angkat-angkat alis*
Sip dengan senang hati. Menjadi pelajar yang tertukar akan sangat menyenangkan jika bisa bertukar pengalaman, pendapat, perasaan atau pikiran dengan teman-teman di Indonesia 🙂 Untuk dijadikan ajang saling menginspirasi. Iya kan?
 
Saya harap Kakak mau membalas. Gak perlu panjang lebar kok, Kak, cukup tepat sasaran ke pertanyaan aja. Saya kepingiiiiiiin banget ikut AFS, Kak. Dan salah satu impian saya adalah menginjakkan kaki di Swiss. Saya pertama kali nyemplung ke blog Kakak itu ya karena saya lihat di sebuah blog peserta AFS lain yang nyantumin nama negara tempat Kakak menjelajah: Switzerland. Awalnya saya iri, tapi lama-lama malah tertantang. Kalo Kakak bisa, kenapa saya engga? 
 
Dan saya harap Allah juga bekerja sama dengan saya. AFS itu salah satu resolusi terbesar saya untuk tahun 2013. Saya gak berani berharap tinggi-tinggi biar nantinya kalo jatuh sakitnya gak banget-banget, tapi saya gak bisa nyangkal kalo saya emang kepingin banget nget nget sampe kebelet…Nah lho, malah curhat ihihihi 
Semoga jawaban-jawaban kakak diatas memuaskan yah. Oh tentu saja kamu pasti bisa. Intinya jangan pernah melakukan sesuatu hal dengan setengah hati dan selalu bersungguh-sungguh. Tapi jangan lupa bahwa ada sang Maha Perencana, Dia lebih tau yang mana yang terbaik untuk adik. Beasiswa bukan cuma AFS kok, ada banyak jalur-jalur lain yang bisa ditempuh. Sejujurnya, saya masih berkeinginan besar untuk bisa belajar di Amerika Serikat, toh takdir membawa ke negara ini tentu dengan tujuan dan alasan yang terbaik. Tapi mimpi Amerika masih hidup, mungkin 4 atau 5 tahun kedepan. Haha saya jadi ikutan curhat.
Segini dulu aja deh, Kak. Mohon doa juga agar saya bisa menyusul Kakak ya.
Sekian dan terima kasih, Kak Iin yang cantik dan kece dan lucky dan unyu-unyu.

Terima kasih sudah berkunjung, nantikan cerita-cerita selanjutnya 🙂
 
Yang menulis dengan segenap harapan,
 
Rifka 

Kamu tanya, saya jawab-(1)

Halo pembaca setia, apa kabar? semoga dalam keadaan baik dan luar biasa. Posting blog agak terlambat dikarenakan waktu dan jadwal yang padat dan sulitnya membagi waktu yang hanya 24 jam. Salah satu project dari exchange year ini adalah Kamu tanya, Saya jawab. Teman-teman boleh bertanya apa saja tentang program pertukaran pelajar, exchange life saya dan sebagainya. Pertanyaan bisa lewat segala macam sosial media ataupun di blog ini. Kami disini untuk menjembatani dua budaya, akan sangat menyenangkan jika bisa bertukar pengetahuan yang mungkin kalian sekedar ingin tahu. Feel free untuk bertanya.

Berikut email dari :

Anggia Kinariana <puroeay@yahoo.com>
Halo Kak Iin, 
Kalo boleh jujur, aku akhir-akhir ini suka buka-buka & baca-baca post di blog kamu lho, kak.
Blog punyamu itu keren, kak. Isinya menarik dan mudah dipahami.
Aku rencananya sih mau ikut AFS chapter Jogja tahun depan, ya gara-gara kakak ini. 
Tapi aku masih punya beberapa pertanyaan, Kak. Berhubung aku binggung mau tanya sama siapa, mending aku tanya sama pesertanya langsung aja .
Oke, ini pertanyaan-pertanyaanku. Tolong dibantu ya, Kak. 
Halo adik 🙂
Terima kasih sudah mau berkunjung dan menyukai isi dari cerita-cerita kakak. Blog sederhana ini hanya sebagian kecil dari petualangan ini, kakak sangat senang jika kamu tergerak untuk memiliki keinginan besar ‘merubah lajur hidupmu’ dengan program ini.
  1. Gini kak, AFS kan buat anak kelas 10. Nah, sewaktu kita pergi ke luar negeri buat ikut pertukaran pelajar, nilai-nilai ulangan kita di sekolah yang di Indonesia— seperti Ulangan harian, ulangan tengah semester dll, gimana dong kak ? Apa nanti sewaktu kita balik kita disuruh ikut ulangan susulan atau gimana ? Jadi sebenarnya TES mengikuti AFS untuk siswa/siswi kelas 10 tetapi memakan proses panjang kurang lebih 2 tahun dan kami diberangkatkan sebelum naik kelas 12. Nah, nanti setelah pulang ke Indonesia harus mengulang lagi setahun, jadi total SMA selama 4 tahun. Sama sekali tidak menyesal  harus lama sekolahnya,  karena pengalaman yang kami dapatkan Insya Allah lebih worth it 😀                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  
  2. Aku kemarin habis baca syarat-syarat pendaftaran AFS, disitu tertulis kalo peserta yang ikut seleksi harus lahir diantara 01 Agustus 1997- 01 Agustus 1998. Kalo misalnya aku lahir tanggal 10 September 1998 gimana dong kak ? Masa iya harus daftar lagi tahun 2015, kalo daftar tahun 2015 aku sudah enggak kelas 10 lagi.Nah, cek dulu dik pendaftaran program 2013/2014 yang sudah berlangsung itu 1 Agustus 1995-1 Agustus 1997. Karena kamu daftar tahun depan kemungkinan kelahiran yang terpilih 1 Agustus 1996 – 1 Agustus 1998. Jangan patah semangat terus update di chapter terdekat di kota kamu, regulasi bisa saja berubah.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      
  3. Nanti kalo misalnya negara tujuan yang aku pilih Belanda, padahal aku belum bisa bahasa Belanda, nanti kita harus belajar autodidak atau dibantu oleh pihak AFSnya, Kak?  Untuk negara tujuan sama sekali belum tentu sesuai pilihan. Pertama harus memilih program dulu ada AFS, YES, atau Kizuna. Lalu kemudian menyusun 10 pilihan negara. Saya pribadi benar-benar no idea dengan bahasa jerman sebelum berangkat ke Swiss. Tergantung negaranya juga, semisal Jerman dan Swiss memang ada Language course di bulan pertama hosting. Selanjutnya di sekolah juga ada les jerman. Masalah bahasa benar-benar akan menjadi ‘masalah’ karena itu alat berkomunikasi vital. Yang penting pede dan mau bekerja keras 🙂                                                                
  4. Temen-temen kakak yang foto-fotonya diposting di blog itu temen sekelas kakak ?? Anak AFS juga ? Itu nanti anak-anak AFS dikumpulin disatu kelas yang sama ?  Teman-teman AFS itu teman sekelas semasa les jerman di bulan pertama. Setelahnya masuk ke sekolah umum Gymnasium  setara dengan SMA, bedanya Gymnasium ini terdiri dari 6 tingkatan dan saya di tingkatan 5.                                                                                                
Ya sudah, segitu saja, Kak. Thank you for your time. May God always bless you wherever you are. 🙂 
Baik terima kasih adik. Senang bisa mendengar antusiasme dari adik. Sekedar ingin tahu sudah merupakan langkah kecil untuk perubahan kecil. Pertukaran pelajar ini seperti ‘banting setir’. Memang bukan ke jalan tol bisa cepat lulus atau merangkai impian yang lebih nyata. Jauh dari pada itu kita bisa melihat hal lebih banyak, berkenalan dengan orang banyak, mempelajari hal-hal yang mungkin tidak di dapatkan di bangku sekolah. Paling penting adalah lebih mengenal diri sendiri karena kita dituntut untuk membuat keputusan sendiri dan memecahkan masalah sendiri. Layaknya ketapel yang ditarik mundur untuk meluncur jauh ke depan. Dan kita harus tetap optimis untuk esok hari yang masih menjadi misteri.

Mendefinisikan 2012

Belajar mendefinisikan 2012. Tahun yang benar-benar luar biasa. Menyimpan misteri tersendiri, menyimpan memori tersendiri dan menyimpan bait cerita yang tertulis abadi di dalam batin. Mari mengurai satu persatu.

Bahkan menyusun kata untuk menjelaskan bagaimana 2012 ini terasa…aaaah. Kata “Luar biasa” mungkin tidak begitu cukup  mendeskripsikan bagaimana menghadapi Januari hingga Desember yang terasa seperti roller coaster. Di tahun ini saya mencoba membuka, menalari, merasai, hingga menjejaki. Mempertajam indera ke-enam yang bernama naluri. Naluri yang menjadi indera penerima berita dari langit.

Tahun proses. Menghargai proses jatuh dan bangun, terkilir dan terpelintir, tertawa dan terbahak, menangis dan meringis, menari dan berlari, mencinta dan dicinta, mengukir nama-nama dari bulir-bulir memori bersama keluarga dan sahabat. Di pertengahan tahun ketika harus bernavigasi untuk hidup yang baru, memulai diri yang baru. Proses panjang yang lebih kompleks.

Tahun halilintar. Di sebuah tahun tentang segala rasa yang bercampur dan berkecamuk menjadi satu. Membontang-bantingkan rasa: senang, getir, pahit, manis, sedih, takut, kecewa, bahagia, cemburu, benci, gembira, marah, ragu, galau, dan segala perasaan bombastis yang cetar membahana. Segala rasa yang tergulung rapi oleh satu bahasa bernama senyum 🙂

Tahun kejutan. Berbagai kejutan-kejutan istimewa dari mereka yang mengitari kepala dan hati. Salah satunya di awal April, acara syukuran ulang tahun ke-17 dengan 300 jiwa keluarga dan rekan yang datang mendoakan. Ditambah kejutan dari sahabat-sahabat tercinta. Serta kejutan-kejutan yang tak terduga lainnya.

Tahun sibuk. Di awal tahun tugas-tugas keburengan sekolah yang menjadi prioritas utama sebagai “anak IPA”. Kompetisi menulis dan berbicara yang memakan tenaga dan perasaan. Deadline naskah berita sebagai jurnalis KeKer ataupun event organizer dadakan. Mengerjakan tumpukan berkas AFS dan tugas-tugas lainnya. Blogging untuk berbagi thought and feelings. Senang menjadi sibuk yang berguna, daripada menyampahkan tenaga.

Tahun navigasi. Navigasi sudut pandang dari A ke B dan dari C ke D. Sesuai dengan perjalanan hati ke benua ini. Harus diakui, Eropa mendidik dengan keras, sangat keras. Menampar mental tanpa ragu. Belajar banyak dari kesalahan. Belajar banyak untuk bangkit dan meninggalkan kebodohan yang tidak penting. Navigasi ke arah lebih baik, menjadi manusia yang lebih baik. Amin.

Tahun membuka hati. Untuk luka yang sempat tak ternamai, terbuka lagi untuk kali yang kedua. Terkadang harus terbuka untuk hal-hal yang tak terduga.  Sia-sia saja untuk percaya bahwa tidak ada yang sia-sia. Mungkin baris ini terlalu samar. Tapi hari besok masih samar. Yang samar belum tentu tak nyata.

Tahun yang tertutup dengan sempurna. Jari-jari terlalu terburu-buru mengetik huruf demi huruf. Karena hati dan kepala sering bertengkar dan  tidak selaras untuk menamai sebuah rasa ataupun suatu hal. Yang tertulis disini biarlah yang menjadi ‘halal’ untuk diketahui.

Intinya adalah menikmati segala proses. Menikmati dan menghayati. Mungkin kita terlahir dari rahim ibu hanya sekali. Tapi tanpa sadar, di setiap kali Allah membangunkan kita di pagi hari, bahkan di setiap waktu. Sebenarnya kita diberi kesempatan untuk lahir kembali. Melahirkan diri yang baru setiap harinya. Dengan semangat dan harapan yang baru. Seburuk apapun hari kemarin, besok masih menjadi kertas kosong hampa. Yang mari kita isi dengan warna.

Selamat datang 2013. Izinkan kulanjutkan kisah-kisah baru untuk hidup yang lebih hijau dan hati yang lebih lapang. Bismillahirrahmanirrahim.