Sejuta Pesona Jenewa (Harian FAJAR)

*Dimuat di Harian FAJAR, Sabtu 8 Desember 2012

Oleh : Iin Tammasse

Angin musim gugur perlahan menjatuhkan dedaunan yang tadinya sudah mulai menguning. Tak lama lagi reranting pepohonan terpenuhi tenggeran bunga salju yang turun bersama dengan suhu udara yang semakin hari mendekati angka 0 derajat.

Beginilah suasana peralihan musim memasuki musim salju. Tidak terasa liburan musim gugur telah berakhir. Di penghujung pekan penulis bersama dengan teman-teman sesama siswa pertukaran pelajar dari Zurich mengadakan trip ke kota Jenewa. Jika di Zurich terbiasa menyapa dengan “Grüzi” dengan dialek swiss-jerman maka di Jenewa lain lagi. “Bonjour” dalam bahasa Prancis. Kota yang berbatasan langsung dengan Prancis ini menyimpan keindahan dan keunikan alam tersendiri. Dikelilingi pegunungan Alpen dan pegunungan Jura yang membentang membelah Swiss dari Prancis hingga Jerman. Pesona kota Jenewa tidak hanya terlihat dari pemandangan alamnya saja namun dari monumen dan tempat-tempat penting bersejarah. Kebijakan netralis Swiss membuat banyak organisasi dunia bertuan rumah disini. Sebut saja markas besar Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan badan-badannya seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Buruh Internasional (ILO) dan sekitar 200 organisasi internasional lainnya. Termasuk Palang Merah Internasional yang didirikan Henri Dunant pada tahun 1863 tepat di kota Jenewa ini.

Rasanya setengah percaya akhirnya menginjakkan kaki di salah satu markas besar PBB. Bedanya, kantor PBB di New York mengurusi bidang politik dan pertahanan sedangkan di Jenewa mengurusi bidang sosial dan kemanusiaan. Yang memukau adalah tepat di seberang halaman kantor PBB ini terdapat monumen kursi raksasa yang salah satu kakinya patah. Monumen ini didedikasikan kepada para korban perang yang terkena ranjau darat. Selain itu terdapat tank rusak yang moncong senjatanya dibengkokkan. Keduanya merupakan simbol penolakan terhadap peperangan. Swiss memang terkenal sebagai negara netral dan anti perang. Hal ini menjadi kesyukuran tersendiri bagi penulis bisa menginjakkan kaki di negeri perdamaian ini.

Tepat di halaman depan markas PBB berjejer 193 bendera negara-negara anggota PBB. Terlihat dari jauh sang merah putih juga berkibar gagah di salah satu tiang. Tak hanya ingin melihat dari luar, penulis dan rombongan pun masuk ke dalam kompleks markas yang luasnya sekitar puluhan hektar.

Tidak tampak terlalu banyak aktivitas dari luar gedung yang dibangun pada tahun 1929 ini. Penulis dan rombongan dipandu dengan tour guide dari PBB mengadakan tour singkat di dalam gedung. Kami memasuki ruang pertemuan utama yang cukup besar. Disana terdapat ratusan kursi yang tersusun setengah melingkar dengan deretan nama-negara negara sesuai abjad. Di bagian atas terdapat beberapa ruangan kecil untuk interpretator atau penerjemah selama pertemuan berlangsung. Terdapat enam bahasa resmi yang digunakan di PBB yaitu bahasa Arab, Cina, Inggris, Prancis, Rusia dan Spanyol. Kurang lebih 300 pertemuan setiap bulannya di kantor yang dalam bahasa Prancis bernama Palace de Nations ini. Bahkan saya sempat memasuki ruangan sidang Dewan HAM PBB yang hanya ada di Jenewa. Sayangnya kesempatan bertemu degan sekjen PBB Ban Ki-Moon asal Korea Selatan belum terindahkan.

Sebelum meninggalkan markas PBB kami diajak berkeliling melihat cinderamata dari berbagai negara. Yang menarik hati adalah karpet dari Cina bergambar jalanan menuju sebuah gapura. Uniknya, melihat dari sisi manapun gambar jalanan tersebut tetap seperti mengarah pada kita. Ini menggambarkan PBB sebagai organisasi dunia yang adil dan tidak memihak kepada negara manapun. Sesuai dengan bendera PBB yaitu gambar peta dunia diambil dari sudut pandang atas yang melambangkan seluruh masyarakat dunia yang berdaulat bersama mengupayakan perdamaian.

Puas mengelilingi gedung PBB, tak lengkap rasanya jika tak berkeliling melihat keindahan kota terpadat kedua setelah Zurich ini. Jenewa memiliki Geneve lake atau danau jenewa yang indah dan menjadi salah satu icon wisata di Swiss. Tidak heran memang jika mayoritas orang yang berlalu lalang adalah turis asing.

Di tepi danau terdapat banyak burung, bebek dan angsa yang hidup bebas tanpa terganggu sedikitpun.Di salah satu sudut danaunya menjulang tinggi Jet d’Eau, air mancur yang semburannya mencapai ketinggian 140 m. Saking tingginya bahkan bisa dilihat dari seluruh kota Jenewa.

Penulis bersama dengan teman-teman juga menaiki perahu kecil yang tersedia di tepi danau. Sebuah pengalaman unik tersendiri menaiki taksi air yang berwarna kuning cerah ini. Melintasi danau Jenewa dan melihat Jet d’Eau dari dekat.

Terpuaskan menikmati keindahan danau Jenewa, berjalan sedikit di sekitar area danau terdapat English Park yang terkenal dengan Flower clock. Sebuah jam besar dengan diamater sekitar 3 meter yang terbuat dari aneka bunga berwarna-warni.  Melambangkan Swiss dalam industri jam tangan dunia.

Tak jauh dari danau, penulis dan rombongan juga mengunjungi Katedral Santo Petrus. Sebuah gereja dengan arsitektur Romawi yang juga diberi sentuhan gothik fasad neoklasik. Tidak jauh berbeda dengan Katedral Duomo di Milan, Italia. Terdapat juga berbagai ornamen bergambar yang indah pada kaca hias yang menghiasi dinding Katedral yang dibangun sekitar hampir 1000 tahun lalu ini.

Memang sedikit melelahkan berjalan-jalan mengelilingi lekuk demi lekuk kota Jenewa. Tapi tentu menjadi pengalaman batin yang sangat mengesankan bagi penulis bisa mengunjungi salah satu kota terpenting dalam sejarah dunia. Sekaligus menambah pengetahuan tentang sejarah, budaya dan kebiasaan hidup. Menarik bukan?