Sekolah di Luar Negeri?, Siapa takut! (Harian FAJAR)

*Dimuat di HARIAN FAJAR Selasa, 16 Oktober 2012

Oleh : Iin Tammasse

MENDAPATKAN kesempatan menjadi duta kecil Indonesia di belahan bumi lain adalah sebuah kesempatan yang luar biasa bagi saya. Doa dan kerja keras akhirnya membuahkan hasil ketika tepat di hari kemerdekaan 17 Agustus 2012 lalu untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di benua Eropa tepatnya di negara kecil bernama Swiss. Ya! Bersekolah di luar negeri, satu dari cita-cita saya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Tidak jauh berbeda dengan kualitas ekonominya, kualitas pendidikan di Swiss juga sangat bagus. Sekarang saya menjadi salah satu siswi di Kantonsschule Zurich Nord, sekolah ini setara dengan sekolah menengah atas di Indonesia. Sekolah ini juga merupakan sekolah terbesar dan terlengkap di Kanton Zurich.

Berbeda dengan di negara Amerika yang bisa memilih pelajaran, di Swiss hanya diperbolehkan memilih Schwearpunktfache atau fokus bidang studi. Saya pun memilih Matematika sebagai fokus bidang studi saya dengan paket pelajaran Biologi, Fisika, Matematika, Kimia, Geografi, Sejarah, Bahasa Jerman, Bahasa Inggris, Seni dan Olahraga. Kurang lebih hampir sama dengan mata pelajaran jurusan IPA di Indonesia. Uniknya, pelajaran olahraga terdapat dua kali seminggu. Karena mereka sangat mementingkan kesehatan jasmani. Mensa atau kantin disekolah juga sangat besar dan tersedia berbagai pilihan kuliner yang sehat.

Sekolah dimulai pada pukul 7.45 pagi hingga pukul 17.00 dengan sepuluh menit istirahat di setiap pergantian jam pelajaran. Setiap jam pelajaran terdiri dari empat puluh lima menit. Meskipun full day school tapi saya tidak merasa bosan karena sekolah disini menggunakan sistem Moving Class. Setiap siswa juga difasilitasi satu laptop Macbook Air 13 inci! Hal ini untuk memudahkan siswa mengerjakan tugas-tugas dan mengakses bahan pelajaran dari server sekolah.

Latar belakang kebangsaan siswa-siswi di sekolah cukup beragam. Mereka sangat toleransi dan open-minded terhadap perbedaan. Begitupun dengan hostfamily saya. Mereka juga sangat menghargai penampilan saya yang memakai jilbab. Hostfamily saya sangat penyayang dan sangat mendukung kegiatan program pertukaran pelajar ini. Sesekali hostfamily mengajak saya melakukan olahraga ekstrem seperti panjat tebing dan hiking di gunung. Kami pun selalu menghabiskan waktu weekend bersama dengan menanam pohon, berenang ataupun bersepeda di pegunungan.

Pada akhir September lalu tepat peralihan musim panas ke musim gugur. Daun-daun di pepohonan mulai menguning dan berjatuhan satu persatu. Memasuki musim gugur sekolah mengadakan libur selama dua minggu atau herbstferien. Liburan kali ini saya manfaatkan dengan mengunjungi beberapa kota besar. Di Swiss saya difasilitasi kartu General Abodemen yang memungkinkan saya bisa menggunakan seluruh alat transportasi seperti kereta, bus, tram ataupun kapal secara gratis selama menjalani program pertukaran pelajar.

Di pekan awal herbstferien saya pun menyempatkan diri untuk sekadar cuci mata di Kota Zurich yang merupakan kota terbesar di Swiss. Di kota ini terdapat sebuah jalan bernama Bahnhofstrasse yang merupakan shopping street terkenal di dunia. Jalanan ini terbentang dari Hauptbahnhof atau Stasiun kereta utama hingga danau Zurich yang cantik.

Kota selanjutnya yang saya kunjungi adalah Luzern, kota ini terkenal sebagai kota tua dengan Kapelbrucke atau Jembatan Kapel. Jembatan kayu ini menghubungkan sisi danau Luzern dan merupakan peninggalan dari abad ke-14. Dari jembatan ini, saya bisa melihat pemandangan gunung Pilatus salah satu jajaran pegunungan Alpen yang puncaknya sudah mulai ditutupi salju putih.

Kota Bern yang merupakan Ibu kota negara Swiss juga tak lupa saya kunjungi. Disini saya berjalan-jalan ke Bundeshaus atau kantor pusat pemerintahan Swiss. Di Altstadt atau kota tua juga terdapat bangunan-bangunan tua khas eropa yang klasik dan sudah berusia ratusan tahun.

Saya juga menyempatkan diri berjalan-jalan ke kota Basel. Di kota kelahiran petenis kelas dunia Roger Federer ini juga menjadi salah satu kota yang tercantik di Swiss. Kota ini juga menjadi perbatasan tiga negara yaitu Swiss, Jerman dan Prancis.

Mimpi saya bersekolah dan berjalan-jalan di luar negeri sudah menjadi nyata. Tidak ada yang tidak mungkin asalkan kita tidak mudah putus asa dan terus berani mencoba. Nantikan cerita saya selanjutnya adalah bertamasya di negeri pizza Italia. Penasaran kan?

 

Author: Iin Fadhilah

Close

2 thoughts on “Sekolah di Luar Negeri?, Siapa takut! (Harian FAJAR)”

  1. Kakak, dengar dengar di Swiss itu sekarang ini cukup rawan dengan banyak pendatang yang menetap walau tidak kerja untuk mendapat welfare dari negara. Benar itu kah? Moga moga tidak karena St Gallen adalah salah satu universitas yang saya ingin masuk.

    1. Sekarang memang sedang banyak issue mengenai pendatang yang meningkatkan angka kriminal. Tapi disini Insya Allah aman-aman saja. Keamanan terlihat semakin hari diperketat dan banyak polisi yang jaga. Keamanan itu memang nomor satu, tapi kalau cuma issue yang bikin nyali ciut yah jangan sampai. Universitas St. Gallen terkenal bidang Ekonomi dan Hukum. Semoga sukses 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s