Lebaran ala Eropa (HARIAN FAJAR)

*Dimuat di HARIAN FAJAR , 24 Agustus 2012

Reportase : Iin Tammasse dari Swiss

Suara dengung mesin Airbus A330 Turkish Airlines yang memuat 300 penumpang perlahan mulai tak terdengar. Ini menandakan penerbangan menuju benua eropa setelah kurang lebih 15 jam perjalanan akhirnya telah usai di Bandara Internasional Kloten Zurich, Swiss. Setelah sebelumnya transit beberapa jam di Bandara Ataturk Istanbul, Turki. Tepat di hari kemerdekaan Indonesia, akhirnya penulis dan tiga rekan yang juga siswa pertukaran pelajar tiba di sebuah negara kecil yang hanya berpenduduk 8 juta jiwa ini.

Meskipun mengalami jetlag karena penerbangan yang melintasi zona waktu yang berbeda tapi sama sekali tidak mengurangi semangat melaksanakan ibadah puasa. Ibadah puasa di Swiss tentu berbeda dengan di tanah air. Jika di tanah air kita berpuasa selama kurang lebih 12 jam, di Swiss penulis harus menahan selama kurang lebih 16,5 jam karena matahari baru terbenam pada pukul 20.30.

Penulis tinggal di sebuah keluarga Swiss di ibukota Kanton St. Gallen yang juga bernama St. Gallen, bersama Ayah angkat dan Ibu angkat serta tiga orang kakak perempuan yang masih duduk di bangku kuliah dan juga sekolah menengah. Mereka sangat ramah dan sangat tertarik untuk mengetahui banyak hal tentang Indonesia terutama mengenai Islam. Keluarga yang menganut agama katolik ini sangat toleran terhadap ibadah puasa di bulan Ramadhan yang penulis jalankan.

Nuansa Ramadhan jelas terasa perbedaanya. Kalau di tanah air pada malam lebaran suara takbir menggema di setiap sudut kota, disini sangat sunyi dan sepi malah hanya terdengar suara lonceng gereja cathedral yang berbunyi setiap lima belas menit sekali. Tidak seperti di Indonesia, saat sahur dan buka puasa penulis disuguhi sandwich, roti italia, pasta atau makanan barat lainnya. Segarnya es cendol, nikmatnya es pisang ijo atau manisnya es teler hanya bisa menjadi angan semata.

Namun itu semua tidak menghalangi semangat merayakan Hari Raya Idul Fitri di Swiss. Karena jumlah masjid yang masih terhitung sedikit, maka penulis melaksanakan shalat Idul Fitri di kediaman duta besar RI yang bertempat di Ibukota Swiss yaitu kota Bern. Sekitar tiga jam perjalanan mengunakan kereta dari kota St. Gallen.

Jarak ribuan kilometer dari tanah air tidak mengurangi hangatnya lebaran kali ini karena penulis bisa bertemu dengan sekitar tiga ratus orang berkebangsaan Indonesia yang sudah lama menetap di Swiss. Pada saat acara Halal bi halal penulis akhirnya bisa melepas rindu dengan makanan khas Indonesia seperti nasi putih, sate ayam, bakso, masakan padang dan masakan Indonesia lainnya.

Rasanya sangat senang bisa berlebaran ala Indonesia, mendengar suara takbir dan adzan yang menggema serta mencicipi kuliner khas Indonesia. Sekalipun Islam di Eropa masih menjadi minoritas tapi semangat menegakkan syariat tetap dipegang teguh oleh warga Indonesia. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H.

image

imageimage

image

Author: Iin Fadhilah

Close

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s