Perempuan yang kau sebut

Aku mendengar
Ia telah menisankan ambisi
di atas petak-petak tanah,
Jauh sebelum kau menyebut namanya

ia menutup tirai rapat-rapat,
tanpa celah,
namun
selongsong cahaya terburu-buru menyerbu
tersambut oleh binar matanya

Perempuan itu membakarnya tak bersisa
menjadi debu, di atas sembilu

walau tak lagi sebentar,
namamu kudengar hadir di sudut bibirnya
sembari menghadiahkan sebagian,
hingga seluruh patahan hidupnya,

dari perempuan
yang kau sebut namanya,
kelak di hadapan,
ayahnya

Makassar, 26 Mei 2017

Obituari Jarak

Petang ini tidak lekas berpulang
Sedangkan ingatan semakin pandai merapal namamu
Katamu,
kau sedang singgah, sebentar saja
agar jenuhku belajar membunuh dirinya
 
selalu bertengger harapan
darimu yang menjanjikan genggaman
apakah kelak abadi dalam sangkar
atau menjadi misteri yang tak berakar

lagi lagi kau datang,
menghadiahkan gurauan
agar aku belajar tentang jarak,
di waktu
tulangku dipatahkan usia

pun
aku bersedia menunggu
lebih lama

Makassar, 25 Mei 2017

Unhas Finalis Mahasiswa Berprestasi 2017

MAKASSAR,UPEKS.Co.id—Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional tahun 2017  memasuki babak baru. Panitia mengumumkan 17 finalis dari 143 mahasiswa berprestasi dari  berbagai PTN dan Kopertis.

Iin Fadhilah Utami , mahasiswi angkatan 2014 Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran  Unhas, adalah salah satu diantaranya.

Pilmapres merupakan ajang pemilihan prestisius. Mahasiswa berprestasi diseleksi dari tingkat paling  bawah, yaitu Program Studi, fakultas, dan universitas.

Untuk Perguruan Tinggi Negeri, calon terbaik dari setiap universitas langsung diseleksi ke tingkat  nasional.

Sementara untuk PTN/PTS. Calon terbaik dari setiap universitas dikirim terlebih dahulu ke  Kopertis untuk diseleksi sesuai jumlah kuota.

Kopertis Wil. IX Sulawesi memiliki kuota maksimal 7 peserta terbaik yang akan dikirim untuk  berkompetisi di tingkat nasional.

Kegiatan yang dikoordinasikan langsung Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan  (Belmawa) Kemristekdikti ini bertujuan memotivasi prestasi mahasiswa dan menumbuhkan budaya  akademik yang lebih baik.

Proses pemilihan ini juga diharapkan dapat menjadi sistem pembinaan prestasi di perguruan tinggi.

Capaian ini merupakan kabar menggembirakan bagi sivitas akademika Unhas. Setelah beberapa  tahun vakum, akhirnya Unhas kembali dapat menunjukkan prestasi nasional.

Direktur Minat, Bakat, Penalaran, dan Informasi Kemahasiswaan Unhas, Prof. Dr. Supratman, S.Hut,  MP mengatakan, dalam beberapa tahun ini, Unhas fokuskan mengembangkan prestasi  kemahasiswaan di level nasional maupun internasional.

“Kita sangat berbangga dengan capaian ini. Rasanya, terbayar semua lelah dan upaya yang telah  dilakukan berkat arahan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan,” kata Prof. Supratman.

Pilmapres 2017 memiliki 5 komponen penilaian, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), Karya Tulis Ilmiah,  prestasi/kemampuan yang diunggulkan, kemampuan bahasa Inggris, dan kepribadian.

“Dari seluruh komponen tersebut, fokus terbesar adalah dalam bidang karya tulis ilmiah. Mahasiswa  menyusun paper, mempresentasikan, dan mempertahankannya dihadapan panel yang dibentuk di  tingkat nasional,” Prof. Supratman menjelaskan.

Iin Fadhilah Utami  menyusun karya tulis berjudul: “Antiseptik Hidung Sebagai Inovasi  Pencegahan Infeksi Pernapasan di Indonesia”.

Topik ini dia pilih didasari fakta, infeksi pernapasan merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi  di seluruh dunia. Iin menawarkan inovasi pencegahan penyakit ini dengan “nose sanitizer”.

Iin tahap persiapan intensif untuk menghadapi penilaian tahap akhir yang akan berlangsung 11 – 13  Juli 2017. Penganugerahan Mahasiswa Berprestasi 13 Juli 2017. (Penulis: Rasak)

Wakil Unhas Raih The Most Inspiring Student Pilmapres 2017

Update dari Media Online pada Jumat , 14 Juli 2017, 21:18 WIB (Link:http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/17/07/14/ot33qk384-wakil-unhas-raih-the-most-inspiring-student-pilmapres-2017)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Iin Fadhilah Utami Tammasse, wakil dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar dalam ajang bergengsi Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat Nasional 2017, meraih predikat The Most Inspiring Student. Gelar ini merupakan kategori yang baru diperkenalkan dalam Pilmapres 2017.

Ajang Pilmapres (sebelumnya bernama Mawapres) merupakan event tahunan yang digelar oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) untuk menjaring mahasiswa pada setiap perguruan tinggi dengan keunggulan dalam bidang akademik, dan non akademik. Ajang yang telah digelar sejak 1986 ini merupakan upaya untuk meningkatkan budaya berprestasi bagi kalangan mahasiswa, termasuk sebagai model pembinaan mahasiswa di perguruan tinggi.

Iin Fadhilah mengatakan cukup puas dengan hasil tersebut. Ia harus menghadapi tantangan yang cukup berat sejak tahap awal. Peserta ajang ini terdiri atas 143 peserta dari seluruh Indonesia dari berbagai perguruan tinggi, dan dari berbagai bidang keilmuan.

Pada saat berhasil memasuki 17 besar nasional, Iin telah berusaha memberikan yang terbaik. “Tentu para peserta lain juga akan berjuang keras untuk memberikan yang terbaik dan memperoleh hasil terbaik,” kata Iin, Jumat (14/7).

Mengenai kategori yang berhasil dimenangkannya, yaitu The Most Inspiring Student, ini adalah kategori baru yang bahkan tidak dipersiapkan sebelumnya. Nampaknya, dewan juri terkesima dengan latar belakang Iin Fadhilah.

Sebagai mahasiswa program studi pendidikan dokter, ia telah menulis buku dan piawai membaca puisi dengan apik. “Dewan juri mengatakan dalam sambutannya bahwa kategori baru ini dibuat karena kecintaan terhadap mahasiswa. Mereka terinspirasi dengan kemampuan membaca puisi saya. Bahkan, saat itu juga didaulat untuk membacakan puisi,” kata Iin Fadhilah.

Universitas Hasanuddin menyampaikan rasa bangga dan bersyukur atas prestasi yang diraih oleh Iin Fadhillah Utami Tammasse. “Semoga capaian ini dapat memberi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus belajar dan berprestasi pada bidang masing-masing,” ujar Kepala Unit Humas dan Protokoler Unhas, Ishaq Rahman.

Dilema Mahasiswa, Kejar Prestasi atau Berorganisasi

Terbit di Harian Fajar (Link: http://fajaronline.com/2017/03/07/dilema-mahasiswa-kejar-prestasi-atau-berorganisasi)

Memasuki gerbang perguruan tinggi adalah impian setiap lulusan SLA. Dengan sendirinya menanggalkan gelar siswa lalu menyandang gelar sebagai mahasiswa. Menerima gelar mahasiswa, bersiap-siaplah bergumul “kemahasiksaan”.

Dunia baru akan memantik banyak kejutan. Tidak ada lagi pakaian seragam, namun pakaian bebas sopan. Waktu belajar dituntut belajar mandiri dan kelompok. Tidak diatur lagi protokoler lonceng jam pelajaran. Kuliah kadang dilakukan di luar kelas. Tanpa bangku dan meja. Dosen memberikan tugas harus tepat waktu. Tidak ada tolerir atau kompromi kalau terlambat menyetor tugas.

Dunia kemahasiswaan rada-rada sulit. Artinya, menjadi seorang mahasiswa bukanlah hal mudah. Bisa dipermudah jika kita mau menjalaninya dengan cantik. Harus pandai-pandai memainkan waktu. Jika tidak, kita akan kerepotan menyusun langkah-langkah pasti.

Caranya, kita harus menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa dengan semestinya. Menjadi mahasiswa jangan hanya sebatas mahasiswa biasa. Maksudnya datang kuliah tiap hari, duduk manis ikuti kuliah, diam-diam di kelas, selesai kuliah langsung pulang ke rumah. Tidak seperti itu dilakukan jika ingin memeroleh nilai plus.

Di kampus, kita harus membiasakan diri menunjukkan empati sosial yang tinggi. Jangan hanya bermasa bodoh (apatis). Itu semua bisa dimanifestasikan jika bergabung dalam organisasi di kampus. Di sana kita bisa unjuk diri dan mampu memberikan kontribusi positif di lingkungan kampus. Kita bisa menjadi model bagi rekan-rekan yang lain maupun junior yang akan bergabung nantinya.

Nah, di sinilah biasanya timbul dilema. Ibarat kata peribahasa lawas, bahwa “dimakan, ibu mati, tak dimakan, ayah mati.” Satu sisi kita mau peringkat dengan kejar Indeks Prestasi (IP) tinggi, sisi lain kita juga perlu berorganisasi.

Kadangkala orang tua pun ikut menabuh gendang. Apakah sebenarnya tujuanmu masuk kuliah? Bukankah untuk menuntut ilmu? Hindarilah beraktivitas selain menuntut ilmu. Organisasi itu hanya menjerumuskan ke dalam lubang kehancuran IP. Itu kata sebagian orang tua yang tidak mengerti urgensi organisasi. Namun, keduanya bisa berjalan selaras selama kita bisa bermain cantik.

Ibaratnya menarik rambut dalam tepung, rambut jangan putus, tepung jangan berserak. Kapan ikut kuliah, kapan berorganisasi. Di sinilah dibutuhkan kebijakan pemanfaatan waktu. Dengan kata lain, menghadapi dilema ini, perlu mendisiplinkan diri mengatur gerak langkah berpacu melawan waktu.

Berorganisasi dan belajar di kampus ibarat dua sisi mata uang. Organisasi merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dengan dunia mahasiswa. Dalam berorganisasi, kita bisa mengenal dunia kampus lebih luas.

Misalnya, kita adalah seorang mahasiswa yang tidak terbiasa dengan pidato atau pun sering gugup ketika berbicara di depan orang ramai. Dengan berorganisasi, kita dibina hal itu. Setidaknya, keluar dari organisasi tersebut kita mampu berbicara secara terbuka di depan orang banyak.

Terdapat perbedaan signifikan antara organisatoris dan antiorganisasi. Jangankan berbicara di depan orang ramai, berdiskusi dengan ruang lingkup kecil pun tidak mampu mengeluarkan pendapat. Orang yang kurang pengalaman berorganisasi, ibaratnya bagai katak di bawah tempurung ”padai tuppang natongko’e kaddaro” (bahasa Bugis).

Bagi mahasiswa yang belum menemukan jati dirinya sebagai seorang mahasiswa, bergabunglah dengan organisasi di kampus. Semua itu akan berguna untuk kelangsungan perkuliahan. Demikian pula akan terjalin persahabatan antara sesama mahasiswa di kampus. Hindari menjadi mahasiswa vakum tanpa gerak dinamis.

Mungkin kita pernah mendengar istilah “mahasiswa 5 D”, datang, duduk, diam, dingin, dungu), artinya mahasiswa tersebut sekadar datang mengikuti perkuliahan semata. Informasi lainnya yang ada di kampus, tidak ia hiraukan. Acuh bebek jika tidak ada sangkut-pautnya dengan mata kuliah. Bukan bermaksud menggurui, tetapi janganlah mencontoh mahasiswa demikian.

Pada sisi yang lain, kegiatan perkuliahan tetap nomor wahid. Tujuan utama memasuki perguruan tinggi tentunya belajar. Mengejar prestasi akademik (IP) itu wajib. Harapan orang tua dan keluarga akan terpenuhi. Tanpa harus menciderai yang lain, organisasi pula tidak bisa disepelekan.

Kemampuan akademik yang tinggi, akan lebih paripurna dengan hasil yang didapatkan dalam ikut berorganisasi. Seperti apakah pentingnya organisasi? Silakan bergabung dan rasakan bedanya. (*)

Rumah kedua

Sebuah pengingat otomatis tentang foto memori beberapa tahun lalu yang menjadi fitur terkini aplikasi Facebook berhasil memporak-porandakan hari saya. Kemarin, 14 Maret 2017.

Kerinduan itu muncul lagi, berkumpul bersama teman-teman AFS Swiss 2012-2013. Wahh! sekarang sudah 2017, sudah hampir 4 tahun perjalanan itu mengakhiri kisahnya. Namun tidak dengan rindu. 

Sekuat apapun kita menggenggam rindu, akan ada hari dimana semua menjadi pecah saja. Apalagi mengingat rutinitas yang sama sekali tidak sedikitpun mengizinkan untuk sejejak melangkahkan kaki ke benua biru, rumah kedua yang tidak pernah berhasil minggat dari ingatan.

Segala kemungkinan membuat saya semakin yakin, bahwa kesungguhan hari ini adalah titian-titian kecil untuk menghadapi ketidakmungkinan di masa depan. Agar saya bersiap untuk diterjunkan kemana saja dan kapan saja. Memori masa lalu itu kembali dan ternyata menjadi alasan-alasan bagaimana hari ini saya bisa menjalani ‘semua’ hal yang bahkan di mata orang lain tidak mungkin.

Saya selalu berharap agar kerinduan terhadap masa-masa terbaik di masa lampau hanyalah bumbu dari proyek ketapel yang saya jalani. Namun riak-riak rindu itu perlahan bermetamorfose menjadi nyeri-nyeri yang menggaung tiap malamnya, berubah menjadi serbi keinginan lain untuk kembali pulang ke rumah keduaku.

Rumah kedua, tempat terlahir kembali dan bertumbuh dewasa.

(Sejenak teringat pada janji terakhir sebelum lepas landas dari Zurich airport…)

Saya tidak akan kembali, sebelum menemukan separuh dari diri saya yang lain.

Ruang hampa

Lalu bagaimana jika upayamu mengendalikan spasi justru menjadi bentuk ketidakberdayaanku dalam mengisi ruang?

Tidak ada ruangan yang kosong, hanya saja kita selalu terkalahkan oleh udara yang lebih dahulu mengisinya. Berbeda dengan ruang hampa yang sekuat tenaga mengosongkan sudut ruang. Naifnya, segala perumpamaan tentangmu tetap saja tidak sampai pada kata usai.

Perumpaan sebuah ruang. Kadang sebuah ruang tidak dapat memberikan jarak yang cukup untuk  kaki kita  melangkah. Ataukah Ruang yang kau miliki tidak memiliki dimensi yang sama denganku? Atau kau sedang menantang kapabilitiasku mengisi ruang?

Entah. Pintu itu yang tak kulihat, atau kau sama sekali tak mengizinkanku mengetuk dan melangkah ke dalamnya.

Entahlah, mungkin ini yang dinamai ruang hampa.